"Jumlah korban akibat gempa bumi dan tsunami di Aceh hingga hari ini (13/4) adalah 10 orang meninggal dunia, 4 luka berat, dan 8 luka ringan," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Dr Sutopo Purwo Nugroho, kepada detikcom, Jumat (13/4/2012).
Kepala BNPB dan rombongan dari kementerian/lembaga telah melakukan koordinasi dengan aparat Pemda di Simeuleu dan Pemda Aceh. Koordinasi dilakukan untuk melakukan penanganan darurat dan antisipasi yang diperlukan.
"Sudah tidak ada pengungsian sejak Kamis kemarin (12/4). BPBD masih melakukan pendataan. Logistik dan peralatan masih mencukupi. BPBD dan instansi terkait terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tetap tenang dan meningkatkan kesiapsiagaan," jelasnya.
Berikut data korban meninggal dan luka akibat gempa bumi dan tsunami Aceh per pukul 19.30 WIB.
Korban Meninggal
1). Kab. Padang Pariaman, 1 orang atas nama: Kutar (69 thn)
2). Kota Banda Aceh, 1 orang atas nama: Yatim Kulam (70 thn) akibat serangan jantung saat gempa keras.
3). Kab Lhoksemauwe, 1 orang pria 39 thn
4). Kab Aceh Barat Daya, 1 orang atas nama Hatijah Hamid (70 thn) akibat sakit jantung.
5). Kab. Aceh Besar, ada 6 orang akibat serangan jantung, yaitu: Fauziah (60 thn), M. Yusuf (70 thn), Siti Saudah (88 thn), Sitiah (70 thn), M. Yasin (62 th), dan Nur Satijah (70 thn).
Korban Luka Berat
1) Kab. Aceh Besar, 2 orang dan masih dirawat RS. Ibu dan anak Banda Aceh
2) Kab. Aceh selatan, 1 orang menderita patah tulang kaki atas nama: Kalsum (65 thn) dirawat di RSU. Dr. Yullidin Away Tapaktuan.
3) Kab Aceh Singkil, 1 orang anak kritis karena tertimpa pohon saat gempa.
Korban Luka Ringan
4 orang di Kab Simeuleu, 2 orang di Aceh Singkil, dan 2 orang di Aceh Besar. Semua sudah kembali ke rumahnya.
Kerugian Materiil
Aceh Barat:
1 jembatan terputus menghubungkan Kec. Jatmalaka ke Kec. Samatiga
1 unit asrama putri di pesantren Arrazatun Nabawiyah.
Aceh Besar:
1 rutan rusak temboknya roboh.
1 unit rumah rumah rusak ringan
1 kantor rusak ringan
1 rumah ambruk di Desa Lamlepung
(van/nrl)
sunber:detik.com
VIVAnews - Ini yang terjadi pada Rabu 11 April 2012 di Padang paska gempa pertama berkekuatan 8,5 Skala Richter mengguncang Aceh: sirine peringatan dini tsunami di Komplek GOR H Agus Salim meraung-raung, 30 menit setelah guncangan terjadi.
Sebanyak 920 ribu warga Padang serempak dilanda panik. Tanpa komando, mereka langsung mengevakuasi diri ke lokasi yang lebih tinggi.
Keinginan menyelamatkan nyawa menimbulkan kemacetan hebat di sejumlah titik menuju jalan By Pass, sekitar 7 kilometer dari bibir pantai. Wajah-wajah tegang makin frustrasi menyaksikan lalu lintas yang sedemikian semrawut. Deru sepeda motor berpenumpang sampai empat orang dipacu cepat, membuat warga makin khawatir.
"Pikiran kami saat itu hanya menjauh dari pantai," ujar Ria, mahasiswi semester akhir Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Padang, menceritakan apa yang ia rasakan Rabu lalu kepada VIVAnews.com. Bagaimana tidak, rumah kos yang ia tempati hanya berjarak sekitar 500 meter dari bibir pantai.
Menyambar tas berisi laptop berisi data skripsi, ia dan rekan-rekannya memacu sepeda motor, di antara warga nelayan yang berlarian menjauhi pantai. Menuju arah By Pass. "Di simpang tunggul hitam mulai terjebak macet, suasana semakin kacau,” kata dia.
Butuh satu jam lebih untuk dia dan satu orang temannya mencapai Lubuk Lintah, Kecamatan Kuranji, Padang yang berjarak sekitar 9 kilometer dari rumah kosnya. “Itu pun karena Ria lari begitu usai gempa, kalau telat sedikit saja pasti sudah terjebak macet panjang,” ujarnya.
Padahal, di kawasan kampus Universitas Negeri Padang, yang lebih dekat, telah disiapkan sedikitnya tiga gedung yang berfungsi sebagai tempat evakuasi tsunami atau shelter. Shelter ini berada di Masjid Al Azhar depan kampus, gedung FE UNP, dan gedung MKU. Tapi, menurut Ria, tak banyak dari warga setempat yang memanfaatkannya. Mereka lebih memilih untuk menjauhi pantai.
Itu kepanikan yang tak seharusnya terjadi. Manajer Pusat Pengendali Operasi Penanggulangan Bencana Sumbar Ade Edward mengakui lemahnya informasi publik jadi pokok permasalahan.
"Ini karena tidak ada komando yang mengarahkan warga ke mana mesti melakukan evakuasi sehingga menyebabkan kemacetan di jalur evakuasi,” kata Ade Edward.
Menurut Ade, lemahnya informasi publik membuat warga bergerak sendiri dan terjebak di titik yang sama. Tak terbayang jika tsunami benar-benar terjadi kala itu. "Masih banyak yang harus kita siapkan seperti fasilitas jalur evakuasi, shelter, dan fasilitas informasi publik," ujarnya.
Ade mengakui, pihaknya mendapat laporan dari BMKG pusat bahwa daerah awas pasca gempa Aceh kemarin adalah Siberut dan Mentawai. Sedangkan daratan pesisir Sumbar hanya berstatus waspada dan siaga. “'Waspada' dan 'siaga' itu dalam SoP tidak perlu evakuasi, 'awas' yang harus evakuasi, ini yang perlu kita perbaiki ke depan,” ujarnya.
Informasi ini yang menurutnya tidak sepenuhnya diterima masyarakat dengan baik sehingga menimbulkan kepanikan. Sementara soal sirine yang terlambat berbunyi, Ade mengatakan itu sepenuhnya di luar jangkauannya.
Sejak dinonaktifkan beberapa waktu lalu, kendali aktivitas Indonesia EarlyWarning System (INA TEWS) dipegang BMKG Pusat dan Padang Panjang. Keterlambatan ini yang ditengarai memberikan informasi simpang siur pada masyarakat di pantai barat Sumbar. Padahal, dari pantauan warga, air laut tidak mengalami penyurutan.
Pekerjaan rumah untuk Padang masih banyak, di tengah ancaman bencana. Para ahli gempa telah memperingatkan potensi gempa dan tsunami jika megathrust Mentawai melepaskan energinya, kekuatan sampai 8,9 skala Richter.
Bandingkan dengan Jepang
Semua orang tahu, soal peringatan dini bencana, Jepang belum tertandingi. Tapi toh Negeri Sakura terpukul dengan musibah gempa dan tsunami 11 Maret 2012. Sebanyak 20.000 orang tewas, Jepang menghadapi krisis nuklir terparah sejak bom atom jatuh di Hiroshima dan Nagasaki.
Namun, seandainya bukan di Jepang, untuk bencana sedahsyat itu, jumlah yang tewas bisa berkali lipat. Patrick Corcoran, ilmuwan dari Oregon State University memperkirakan, jika terjadi di tempat lain, korban gempa berkekuatan 9,0 Skala Richter yang disusul tsunami bisa mencapai 200 ribu orang.
Beberapa menit sebelum guncangan besar terjadi, sistem peringatan mengirimkan jutaan pesan pendek langsung ke ponsel warga. Stasiun kereta dan pabrik sontak menghentikan operasi dan melakukan tindakan pengamanan, setelah menerima surat elektronik berisi peringatan.
"Bahkan satu menit, bisa menentukan," kata Dr. Tom Jordan, Kepala Pusat Gempa Bumi California Selatan, seperti dimuat situs 10 News. "Bayangkan, jika Anda dokter yang sedang melakukan operasi, atau ketika Anda berada di lift. Kesempatan menit, atau detik, bisa jadi penyelamat."
Dia menerangkan, gempa bumi sejatinya mengirimkan dua gelombang energi. Yang pertama, gelombang P, getarannya lemah namun menjalar sangat cepat. Gelombang ini akan mengaktifkan seismometer di seluruh wilayah dan mengirimkan sinyal peringatan bahwa gelombang yang lebih kuat, disebut gelombang S, akan segera datang.
Sementara seperti dimuat VOA News, pemerintah Jepang mengirimkan peringatan tsunami tiga menit setelah gempa terjadi 11 Maret 2011 lalu.
Jepang menginvestasikan uangnya untuk membangun lebih dari empat ribu alat pengukur seismik yang tersebar di seluruh negeri. Juga membangun benteng beton tebal yang memagari wilayah pesisir.
Dan yang tak kalah penting, masyarakat Jepang tahu persis apa yang harus mereka lakukan saat bencana terjadi.
Tiba di Banda Aceh hari ini sekitar pukul 8.05 WIB, Boediono langsung menuju pendopo Gubernur Aceh. Di sana Pj Gubernur Aceh Tarmizi Karim menyampaikan laporan kondisi Aceh terakhir paska gempa dan pelaksanaan pilkada.
Dalam pertemuan itu, hadir juga Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional Syamsul Ma'arif, serta pejabat lainnya.
"Dari nenek moyang kita sampai sekarang, Indonesia sudah sering dilanda bencana. Semua kita hanya perlu menyiapkan diri, menghadapi bencana," kata Boediono. "Bencana tentu tidak bisa dicegah, tapi hanya bisa dihindari."
Boediono secara khusus juga menyampaikan rasa syukur atas keberhasilan masyarakat Aceh melewati Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh. "Masyarakat Aceh mampu melewati dua ujian besar dengan baik sekali," imbuhnya.
Kunjungan kerja Boediono di Aceh hanya berlangsung satu jam. Sebelumnya, dia dijadwalkan melihat kesiapan penanganan bencana dan alat peringatan dini tsunami di kawasan Ulee Lhue, Banda Aceh. Namun rencana itu batal.
Sekitar pukul 10.30 WIB Boediono dan rombongan kembali ke Bandara Sultan Iskandar muda Blang Bintang dan melanjutkan kunjungannya ke Medan Sumatera Utara. (eh)
VIVAnews -- Gempa 8,5 Skala Richter yang mengguncang Aceh, Rabu 11 April 2012 dirasakan hampir di semua wilayah Sumatera. Tak terkecuali warga yang tinggal di sekitar Danau Toba, Sumatera Utara, danau vulkanik terbesar di dunia.
Selama sekitar lima menit, bumi berguncang cukup kuat. Warga Parapat dan Pulau Samosir berhamburan ke luar rumah. Mereka yang kebetulan berada di tepi danau menjadi saksi dari peristiwa yang tak biasa.
Air Danau Toba yang biasanya tenang membentuk pusaran, laiknya air sungai deras. Meski tak mungkin terjadi, tak sedikit warga menduga, bakal ada tsunami dari tengah danau. Lihat videonya di tautan ini.
Apa yang membuat air Toba bergolak?
Saat dihubungi, Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG kelas I Polonia, Hartanto mengaku belum mengetahui soal fenomena aneh itu. "Kami baru mendengarnya sekarang. Secara teori, bisa jadi itu disebabkan oleh guncangan gempa kuat yang melanda wilayah Aceh," kata dia kepada VIVAnews.com, Kamis 12 April 2012 malam.
Dia menambahkan, lindu Rabu lalu memang terasa sangat kuat di wilayah Sumatera Utara, dengan durasi lumayan panjang, hampir lima menit. "Ibarat air di dalam ember, kalau kita guncang dia akan bergerak," tambah dia.
Bagaimana dengan dugaan bergolaknya air terkait aktivitas gunung api di dasar Danau Toba? Hartanto tak memberi jawaban. "Silakan hubungi BBMKG Wilayah 1 Medan, mereka lebih pas memberikan informasi mengenai ini," ujar dia.
Dihubungi terpisah, Kepala Bidang Data dan Informasi BBMKG Wil I Medan, Hendra Suwarta mengatakan pergolakan air di Danau Toba bisa saja terjadi karena episentrum gempa tak jauh dari wilayah Sumatera Utara. Hingga getaran terasa kuat. Sementara, soal gunung di dasar Toba, "gempa tersebut belum akan menggangu aktivitas magma di dasar Danau Toba."
Hendra menerangkan, lapisan batuan yang menutupi magma Danau Toba tebalnya berkisar antara 30 sampai 40 kilometer. "Ini merupakan lapisan batu yang paling tebal di Indonesia. Umurnya ratusan ribu tahun. Tidak ada masalah mengenai itu," kata dia.
Ia juga mengaku baru mendengar kabar bergolaknya air Danau Toba. "Kami akan langsung kordinasi dengan BMKG diwilayah Parapat (Danau Toba), kami punya kantor juga di sana," tambah Hendra.
Tak semua orang tahu peristiwa sekitar 70.000 tahun lalu di wilayah yang kini menjadi Danau Toba. Kala itu, terjadi letusan dahsyat gunung api purba, yang diyakini terbesar dalam kurun waktu 2 juta tahun terakhir. Toba sebelumnya adalah gunung purba.
Seperti dimuat situs Badan Antariksa AS, NASA, dalam waktu sekitar dua minggu, ribuan kilometer kubik puing dimuntahkan dari Kaldera Toba di Sumatera Utara. Aliran piroklastik--awan yang merupakan campuran gas panas, serpihan batu, dan abu--mengubur wilayah sekitar 20.000 kilometer persegi di sekitar kaldera.
Di Pulau Samosir, tebal lapisan abu bahkan mencapai 600 meter. Abu Toba juga menyebar ke seluruh dunia. Di India misalnya, ketebalan abu sampai 6 meter.
Pasca letusan, Gunung Toba kolaps, meninggalkan kaldera modern yang dipenuhi air--menjadi Danau Toba. Sementara, Pulau Samosir terangkat oleh magma di bawah tanah yang tidak meletus. Gunung Pusuk Buhit di dekat danau itu juga terbentuk pasca letusan.
Awalnya ilmuwan menduga, letusan Toba menyebabkan penurunan suhu global hingga 10 derajat Celcius selama hampir satu dekade dan membinasakan sebagian besar umat manusia. Meski penelitian terbaru menyebut, efek cuaca yang disebabkan letusan Toba tak sedahsyat itu. Baca selengkapnya di tautan ini.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, mencatat sejumlah gempa susulan berkekuatan cukup besar. Antara lain gempa susulan berkekuatan 5,5 SR pada pukul 01.15 WIB, Kamis (12/4/2012). Gempa pada kedalaman 10 Km ini berpusat di 248 Km baratdaya Simeulue, Aceh.
Gempa berkekuatan 5,9 SR juga mengguncang Simelue pada pukul 01.54 WIB. Gempa pada kedalaman 11 Km ini berpusat di 351 Km baratdaya Simeulue.
Simeulue kembali diguncang gempa 5,9 SR pada pukul 02.04 WIB. Gempa berpusat di 509 Km baratdaya Simeulue pada kedalaman 10 Km.
Tengah malam tadi Simeulue juga dua kali diguncang gempa. Masing-masing berkekuatan 5,2 SR pada pukul 23.58 WIB dan gempa berkekuatan 5,1 SR pada pukul 23.21 WIB.
Gempa bumi 8,5 SR yang mengguncang Aceh dikuti dengan dimunculkannya peringatan tsunami. Namun setelah lebih dari 2 jam dipantau, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika tidak memperpanjang peringatan tsunami.
"Peringatan tsunami tidak dicabut tapi diakhiri pukul 19.45 WIB," kata Kepala BMKG, Sri Woro dalam jumpa pers di kantor BMKG, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (11/4/2012).
Sumber:detik.com
Korban bernama Yasim Kulam, warga Jeulingke, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Pria naas ini ditemukan oleh seorang mahasiswa tergeletak di depan Masjid Baitushalihim, Ulee Kareng, tidak lama setelah warga berlarian karena gempa.
Petugas puskesmas yang memeriksa almarhum menyatakan korban meninggal akibat serangan jantung. Mayat pria malang ini sempat ditinggal beberapa saat, ketika gempa susulan terjadi. Pasalnya, teriakan “Air, air, air ...........” dari mulut warga yang berlarian di jalan membuat panik warga di kawasan Lamnyong dan Lamgugob, Kecamatan Syiah Kuala. Sontak para pedagang menutup tokonya, warga pun memacu kendaraannya ke arah Darussalam, hingga Blangbintang, Aceh Besar. (www.tribunjogja.com)
VIVAnews – Wajah-wajah kader Partai Aceh yang menyesaki Lobby Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Senin malam, 9 April 2012, tampak sumringah saat menyambut kedatangan kandidat gubernur Aceh Zaini Abdullah, ke hotel itu. Beberapa di antara mereka merapat dan menciumi tangan mantan Menteri Luar Negeri Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini, satu per satu.
Ditemani mantan perdana Menteri GAM, Malik Mahmud, Zaini datang untuk mendengarkan laporan hasil perhitungan suara cepat yang digelar Lembaga Survei Indonesia (LSI). Dia juga hendak memberikan keterangan pada awak media atas proses pemungutan suara dalam Pilkada Aceh yang berlangsung sejak pagi.
"Terima kasih kepada rakyat Aceh, karena PA masih mendapatkan tempat di hati rakyat Aceh. Terima kasih untuk partai-partai nasional yang telah berkoalisi dengan PA, 16 partai yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu," katanya.
Hasil perhitungan suara cepat (quick count) menyatakan pasangan Zaini Abdullah-Muzakir Manaf, pasangan yang diusung Partai Aceh, meraup suara terbesar dalam pemungutan suara Pilkada Aceh 9 April 2012 kemarin. Mereka menang di hampir seluruh wilayah di Aceh. Kandidat nomor urut lima itu menang telak dengan angka perolehan suara sebanyak 55.90 persen.
Urutan kedua perolehan suara dipegang pasangan Irwandi Yusuf-Muhyan Yunan dengan jumlah perolehan suara 28.66 persen. Sementara urutan ketiga ditempati pasangan nomor urut tiga, Muhammad Nazar-Nova Iriansyah dengan jumlah suara 7.54 persen. Darni Daud-Ahmad Fauzi berada diurutan ke empat dengan suara 4.23 persen dan Ahmad Tajuddin-Surianyah hanya memiliki suara sebanyak 3.67 persen.
Hasil perhitungan cepat yang dilakukan oleh Citra Publik Indonesia (CPI) juga tak jauh beda. Pasangan Zaini-Muzakir mendapat angka 54,40 persen, Irwandi-Muhyan 29,88 persen, Nazar-Nova 7,77 persen, Darni-Ahmad Fauzi 4,11 persen, dan Ahmad Tajuddin-Suriansyah 3,84 persen.
Zaini Abdullah adalah bekas menteri luar negeri GAM. Pria kelahiran Sigli, 24 April 1940 itu adalah pengikut pertama Deklarator GAM, Tgk Hasan Muhammad di Tiro. Dia lama menetap di Swedia setelah ikut mendeklarasikan GAM di Gunong Halimon Pidie pada 4 Desember 1976.
Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara tahun 1972 ini mengabdikan dirinya sebagai dokter pribadi Hasan Tiro. Zaini juga merupakan abang kandung dari Ketua DPR Aceh, Hasbi Abdullah.
Sementara wakilnya, Muzakir Manaf adalah ketua Partai Aceh. Pria kelahiran Aceh Timur, 3 April 1964 adalah Panglima GAM. Jabatan itu disematnya setelah Tengku Abdullah Syafie, panglima GAM pertama, meninggal dunia dalam sebuah pertempuran di Jiem-jiem Pidie, pada tahun 2002 silam.
Selain Zaini-Muzakir sebenarnya ada satu kandidat gubernur bekas anggota GAM yang mencalonkan diri dalam Pilkada Aceh kali ini. Dia adalah Irwandi Yusuf, yang sebelumnya juga menjabat Gubernur Aceh. Irwandi tak didukung partai dan maju lewat jalur independen.
Suara mantan kombatan pecah. Mereka terbagi dalam dua kubu; pendukung PA dan pendukung Irwandi. Gesekan dua kubu juga mewarnai masa-masa sebelum pemilihan digelar. Kubu Irwandi yang paling banyak mendapat tekanan.
Dalam berbagai kampanye, Partai Aceh menyebut barisan Irwandi sebagai pengkhianat perjuangan. Begitu juga sebaliknya. Kelompok Irwandi menyebut Partai Aceh sebagai kelompok haus kekuasaan dan melakukan teror intimidasi terhadap masyarakat.
"Rakyat takut ada penculikan dan pembunuhan. Sampai rumah orang digedor-gedor supaya tidak memilih calon tertentu. Ada anggapan kalau orang ini tidak menang, maka perang lagi," kata Irwandi Yusuf usai memberikan hak suara di TPS 02 Lampriet Banda Aceh.
Perhitungan Cepat
Hasil perhitungan cepat Pilkada Aceh yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan Citra Publik Indonesia (CPI) memang belum bisa memastikan pasangan Zaini-Muzakir memenangkan Pilkada Aceh. Tim pemenangan Seramoe Irwandi Yusuf-Muhyan Yunan, mempertanyakan kredibilitas dua lembaga itu.
"Kecilnya sampel TPS yang digunakan juga memperlihatkan dua lembaga survei dan pihak yang mengunakan hasil survei tersebut perlu dipertanyakan kredibilitasnya," kata Ketua Organizing Comite Seuramoe Irwandi-Muhyan, Muharram Idris, dalam siaran persnya.
Muharram mempertanyakan keabsahan data dua lembaga survei dengan jumlah sampel TPS yang terbilang kecil yakni hanya 300 dan 350 TPS saja. Sementara jumlah TPS di Aceh berjumlah 9.786 TPS. Dia mensinyalir lembaga survei itu disetir oleh kandidat tertentu.
"Pengumunan hasil itu kami yakini merupakan upaya pihak tertentu untuk mengacaukan kinerja KIP Aceh yang saat ini sedang menghitung perolehan suara masing-masing kandidat," ujarnya.
Saat ini, perhitungan suara resmi yang dilakukan KIP Aceh secara manual, masih dalam tahapan rekapituasi di tingkat pemilih Kecamatan (PPK). Dijadwalkan hasil perhitungan suara akan keluar pada 15 April 2012 mendatang.
Jika Zaini Menang
Saat ini Partai Aceh menguasai kursi terbanyak di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA). Jika hasil perhitungan resmi Pilkada Aceh yang dilakukan Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh tak jauh beda dengan hitungan cepat, maka legeslatif dan eksekutif di Aceh dikuasai Partai Aceh. Sang adik, Hasbi Abdullah, sebagai ketua DPRA. Sedang sang kakak, Zaini Abdullah, sebagai Gubernur Aceh.
Partai Aceh memang memiliki basis massa yang kuat dan ideologis. Selain karena bekas GAM, mesin politik partai juga bekerja dan terstuktur lebih baik. Apalagi dengan merapatnya bekas tiga Jendral TNI yakni Soenarko, Djali Yusuf dan Muhammad Yahya dalam barisan pemenangan Zaini-Muzakir.
"Ini adalah bagian dari satu keberhasilan proses strategi pemenangan yang dilakukan Partai Aceh. Mereka punya struktur, punya sistem, punya saksi, yang lebih baik dibandingan dengan Irwandi," kata analis Politik dan Keamanan Aceh, Teuku Ardiansyah.
Dia menilai Aceh memiliki tantangan pembangunan yang besar ke depan setelah terpilihnya pasangan ini. Karena apapun, kata Ardi, suatu keputusan yang diambil untuk menentukan arah pembangunan bersumber dari satu pintu, yakni Partai Aceh.
"Seluruh proses pembangunan Aceh kedepan menjadi utuhlah di tangan Partai Aceh. Ini menjadi tantangan bagi PA ketika perahu yang besar ini harus mampu mereka kendalikan dengan baik," ujarnya.
Ardi juga menilai besar kemungkinan hasil Pilkada Aceh akan disengketakan di Mahkamah Konstitusi (MK). Sebab beberapa laporan dilapangan menyebutkan terjadi intimidasi terhadap pemilih untuk memilih calon tertentu dan banyak saksi dari kandidat yang tak berani menjadi saksi saat pemungutan suara berlangsung.
"Kalau bicara gugatan, apakah tiap kandidat ini memiliki saksi di masing-masing TPS, memiliki data dari masing-masing TPS?" tanya Ardi. "Gugatan bisa sangat lemah dari segi pembuktian dokumen dalam hal perolehan suara jika tidak dilengkapi dokumen cukup dilapangan." (umi)
VIVAnews - Letusan Gunung Toba yang melontarkan jutaan metrik ton debu volkanik, sulfur, dan partikel-partikel lain ke atmosfir pada 74 ribu tahun yang lalu disebut-sebut menyebabkan penggelapan langit, penurunan suhu global hingga 10 derajat Celcius selama hampir satu dekade dan membinasakan sebagian besar umat manusia.
Ternyata, dari penelitian terbaru, efek cuaca yang disebabkan letusan Toba lebih ringan dan reda relatif lebih cepat dibanding perkiraan yang dibuat oleh pada arkeolog dan klimatolog sebelumnya. Manusia yang mengalami bencana letusan Toba itu diperkirakan berhasil melewatinya dengan selamat.
Meski dari sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa letusan Toba yang kini meninggalkan danau volkanik terbesar di dunia itu menggelapkan dan membekukan dunia, menggunakan data letusan gunung Pinatubo, Filipina tahun 1991, Stephen Self, volkanologis dari Open University, Milton Keynes, Inggris dan Michael Rampino, paleobiologis dari New York University, menyatakan bahwa efek pendinginan suhu akibat letusan Toba hanya mencapai 3 sampai 5 derajat saja.
Berdasarkan data yang didapat dari situs arkeologi di India, tim antropolog University of Oxford, Inggris, yang dipimpin oleh Michael Petraglia menyebutkan bahwa manusia yang tinggal tidak jauh dari zona letusan justru malah berhasil melewati bencana tersebut dengan mudah.
Untuk mencari titik terang, tim peneliti yang dipimpin oleh Claudia Timmreck, dari Max-Planck Institute for Meteorology di Hamburg, Jerman membuat pemodelan yang mampu menggambarkan lebih realistis (meski metode ini juga memiliki beberapa kekurangan) apa yang terjadi saat Toba meletus.
Peneliti fokus ke bagaimana partikel sulfate aerosol yang terbentuk di stratosfir akibat letusan sulfur dioksida yang mengandung gas mendinginkan atmosfir dengan cara memantulkan sinar matahari. Dari data yang didapat, dan disesuaikan dengan asumsi yang sudah dibuat sebelumnya, diketahui bahwa Toba mengirimkan sekitar 850 juta metrik ton sulfur ke atmosfir. Angka ini 100 kali lebih banyak dibanding setoran gunung Pinatubo ke atmosfir.
Dari simulasi juga diketahui bahwa dampak Toba memang hanya menurunkan suhu sebanyak 3 sampai 5 derajat Celcius di seluruh dunia. Akan tetapi, konsentrasi sulfur tidaklah padat dan segera hilang dari stratosfir selama 2 sampai 3 tahun saja. Perubahan temperatur secara ekstrim yang terjadi di Afrika dan India hanya berlangsung selama 1 sampai 2 tahun. Di kawasan ini, di tahun pertama suhu turun 10 derajat dan 5 derajat di tahun kedua.
Menurut Timmreck, seperti dikutip dari ScienceMag, 25 November 2010, Toba juga tidak memusnahkan flora dan fauna. Namun Timmreck mengakui, kehidupan di masa-masa tersebut memang sulit.
Michael Petraglia berpendapat, Toba memang bukanlah penyebab utama anjloknya jumlah populasi manusia di era tersebut. Akan tetapi Toba membuat situasi menjadi makin parah. Langkah selanjutnya, kata Petraglia, peneliti masih harus melanjutkan hasil temuan simulasi tersebut dengan observasi langsung di kawasan sekitar Toba untuk mengetahui secara lebih akurat dampak lingkungan yang terjadi. (umi)
