TEMPODOTCO, Jakarta
- Adik kandung mantan Presiden Abdurrahman Wahid, Salahuddin Wahid,
mengatakan dirinya tidak mengetahui kebenaran tentang penghinaan yang
dilakukan oleh Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto
kepada Gus Dur. "Jika benar, siapa yang lebih hina? Prabowo butuh Gus
Dur, sedangkan Gus Dur tidak butuh Prabowo," kata Salahuddin ketika
dihubungi Tempo, Jumat, 27 Juni 2014.
Pemberitaan yang beredar saat ini sebaiknya dipertanyakan dulu kebenaranya. Jika benar, masyarakat bisa melihat kualitas orang yang menghina hanya sampai di situ. Menurut dia, hal demikian tidak perlu ditanggapi secara berlebih. "Apa untungnya dipuji Prabowo atau apa ruginya dihina Prabowo, masyarakat bisa menilai," ujar mantan Wakil Ketua Komnas HAM ini.
Gus Solah, sapaan Salahuddin Wahid, menunggu kebenaran berita yang sedang beredar. Yang jelas, sekarang Prabowo membutuhkan dukungan Gus Dur dalam kampanyenya. "Prabowo berkampanye dengan sosok ikhlas yang pernah dikatakan Gus Dur," ujar Salahuddin.
Terlepas benar atau tidaknya penghinaan yang dilakukan oleh Prabowo, dirinya menyerahkan ke masyarakat dalam menentukan pilihannya. Pihak keluarga, menurut dia, akan mengembalikan kepada masyarakat terhadap pemberian dukungan ke Prabowo. " Biar masyarakat yang menentukan, masyarakat bisa menilai."
Prabowo dituding oleh wartawan investigasi Amerika Allan Nairn melakukan penghinaan terhadap Gus Dur pada 2001. Menurut Allan, dirinya pernah melakukan perbincangan pada Juni dan Juli 2001 di Mega Kuningan. Dalam wawancara itu, Allan menyebutkan pernyataan Prabowo: "Militer pun bahkan tunduk pada presiden buta! Bayangkan! Coba lihat dia, bikin malu saja.
http://pemilu.tempo.co/read/news/2014/06/27/269588436/Gus-Solah-Siapa-Lebih-Hina-Prabowo-atau-Gus-Dur
Pemberitaan yang beredar saat ini sebaiknya dipertanyakan dulu kebenaranya. Jika benar, masyarakat bisa melihat kualitas orang yang menghina hanya sampai di situ. Menurut dia, hal demikian tidak perlu ditanggapi secara berlebih. "Apa untungnya dipuji Prabowo atau apa ruginya dihina Prabowo, masyarakat bisa menilai," ujar mantan Wakil Ketua Komnas HAM ini.
Gus Solah, sapaan Salahuddin Wahid, menunggu kebenaran berita yang sedang beredar. Yang jelas, sekarang Prabowo membutuhkan dukungan Gus Dur dalam kampanyenya. "Prabowo berkampanye dengan sosok ikhlas yang pernah dikatakan Gus Dur," ujar Salahuddin.
Terlepas benar atau tidaknya penghinaan yang dilakukan oleh Prabowo, dirinya menyerahkan ke masyarakat dalam menentukan pilihannya. Pihak keluarga, menurut dia, akan mengembalikan kepada masyarakat terhadap pemberian dukungan ke Prabowo. " Biar masyarakat yang menentukan, masyarakat bisa menilai."
Prabowo dituding oleh wartawan investigasi Amerika Allan Nairn melakukan penghinaan terhadap Gus Dur pada 2001. Menurut Allan, dirinya pernah melakukan perbincangan pada Juni dan Juli 2001 di Mega Kuningan. Dalam wawancara itu, Allan menyebutkan pernyataan Prabowo: "Militer pun bahkan tunduk pada presiden buta! Bayangkan! Coba lihat dia, bikin malu saja.
http://pemilu.tempo.co/read/news/2014/06/27/269588436/Gus-Solah-Siapa-Lebih-Hina-Prabowo-atau-Gus-Dur
Begitu gencarnya fitnah dan isu SARA dihembuskan sejak Joko Widodo resmi
dicalonkan sebagai presiden oleh PDIP. Salah satunya adalah bahwa dia
sebenarnya bukan muslim, dan gelar hajinya pun diragukan, dibilang
sebenarnya huruf “H” di depan namanya adalah nama baptis yaitu Herbertus
atau nama depan, Handoko. Dan sebenarnya tidak begitu penting juga
untuk klarifikasi soal gelar haji ini. Namun ternyata isu ini berhasil
membuat banyaaak sekali orang awam terpancing dan percaya bahwa Jokowi
berbohong dengan gelar hajinya.
Dan isu ini seperti bola salju saja, makin dibesarkan dan digelindingkan oleh lawan politik, membuat dada saya sesak karena saya tahu itu semua fitnah. Ini semua dilakukan demi meraup suara orang Islam yang tak rela non muslim menjadi pemimpin.
Kebetulan saja saya mengenal pak Jokowi, dan juga beberapa keluarga dekatnya. Melalui mereka saya minta satu foto Jokowi saat berhaji. Sayang keluarga Jokowi tidak berhasil mendapatkan foto Jokowi saat pergi haji. Saya pun sempatkan menulis semacam klarifikasi di blog keroyokan tercinta ini, meski tanpa foto. “Ada foto dengan Aa Gym di sebuah hotel Tanah Suci. Ada juga banyak foto di hard disk, tapi hard disknya rusak,” kata sepupu Jokowi, dr Rusmawati SpA yang selama ini adalah dokter anak yang saya percaya merawat dan memantau kesehatan anak-anak saya.
Suami Bu Dokter tersebut punya foto-foto yang disimpan di hard disk, karena kakaknya ikut berangkat ke Mekkah bersama Pak Jokowi.
Saya juga menghubungi kawan yang dekat dengan paj Jokowi, malah dia bilang, “Pak Jokowi tidak ambil pusing dengan serangan tentang kehajiannya. Pak Jokowi bilang biarlah Allah saja yang tahu..”
Ahhh… sayang. Sebab dengan ketiadaan foto itu, ada kawan blogger yang mengapload foto umrah tahun 2012 sebagai ilustrasi tulisan tentang kehajian Jokowi, dan jadi bahan bullying karena dianggap berbohong, mengunggah foto umrah di tulisan haji. Saya sedih… dasarnya memang keluarga itu tidak begitu mempedulikan foto-foto semacam itu, hingga akhirnya ternyata keberadaannya dirasa penting untuk mengklarifikasi fitnah yang dilancarkan akhir-akhir ini.
Namun alhamdulillah, saya hari ini mendapat kabar gembira. “Foto haji Pak Jokowi akhirnya ditemukan,” demikian bunyi status disertai foto yang ditag-kan ke Facebook saya oleh sang dokter. “Masya Allah Bu Dokter… bagaimana ceritanya foto ini akhirnya ditemukan?” tanya saya.
Singkat cerita, ternyata akhirnya keluarga bu dokter mengobok-obok dokumentasi foto. Hari berganti minggu, dan hampir beberapa bulan berselang sejak fitnah menyangkut gelar haji Jokowi ini menyebar, mereka akhirnya menemukan salah satu foto tersebut. Sedangkan foto di atas, Pak Jokowi ada di posisi paling kiri. Kakak ipar Bu Dokter kedua dari kanan dan yang paling kanan sedang tertawa lebar itu adalah Tantowi Yahya.
Sekarang dengan adanya foto ini, apakah Anda yang meragukan keislaman Jokowi dan juga kehajiannya masih juga akan percaya dengan fitnah yang ada? Atau foto ini juga akan diuji dengan teknik ELA, seperti fotokopi akta nikah yang baru-baru ini disebarkan oleh situs salah satu partai yang melabeli diri dengan “dakwah” itu?
http://politik.kompasiana.com/2014/05/21/foto-jokowi-berhaji-tahun-2003-akhirnya-ditemukan-658552.html
Dan isu ini seperti bola salju saja, makin dibesarkan dan digelindingkan oleh lawan politik, membuat dada saya sesak karena saya tahu itu semua fitnah. Ini semua dilakukan demi meraup suara orang Islam yang tak rela non muslim menjadi pemimpin.
Kebetulan saja saya mengenal pak Jokowi, dan juga beberapa keluarga dekatnya. Melalui mereka saya minta satu foto Jokowi saat berhaji. Sayang keluarga Jokowi tidak berhasil mendapatkan foto Jokowi saat pergi haji. Saya pun sempatkan menulis semacam klarifikasi di blog keroyokan tercinta ini, meski tanpa foto. “Ada foto dengan Aa Gym di sebuah hotel Tanah Suci. Ada juga banyak foto di hard disk, tapi hard disknya rusak,” kata sepupu Jokowi, dr Rusmawati SpA yang selama ini adalah dokter anak yang saya percaya merawat dan memantau kesehatan anak-anak saya.
Suami Bu Dokter tersebut punya foto-foto yang disimpan di hard disk, karena kakaknya ikut berangkat ke Mekkah bersama Pak Jokowi.
Saya juga menghubungi kawan yang dekat dengan paj Jokowi, malah dia bilang, “Pak Jokowi tidak ambil pusing dengan serangan tentang kehajiannya. Pak Jokowi bilang biarlah Allah saja yang tahu..”
Ahhh… sayang. Sebab dengan ketiadaan foto itu, ada kawan blogger yang mengapload foto umrah tahun 2012 sebagai ilustrasi tulisan tentang kehajian Jokowi, dan jadi bahan bullying karena dianggap berbohong, mengunggah foto umrah di tulisan haji. Saya sedih… dasarnya memang keluarga itu tidak begitu mempedulikan foto-foto semacam itu, hingga akhirnya ternyata keberadaannya dirasa penting untuk mengklarifikasi fitnah yang dilancarkan akhir-akhir ini.
Namun alhamdulillah, saya hari ini mendapat kabar gembira. “Foto haji Pak Jokowi akhirnya ditemukan,” demikian bunyi status disertai foto yang ditag-kan ke Facebook saya oleh sang dokter. “Masya Allah Bu Dokter… bagaimana ceritanya foto ini akhirnya ditemukan?” tanya saya.
Singkat cerita, ternyata akhirnya keluarga bu dokter mengobok-obok dokumentasi foto. Hari berganti minggu, dan hampir beberapa bulan berselang sejak fitnah menyangkut gelar haji Jokowi ini menyebar, mereka akhirnya menemukan salah satu foto tersebut. Sedangkan foto di atas, Pak Jokowi ada di posisi paling kiri. Kakak ipar Bu Dokter kedua dari kanan dan yang paling kanan sedang tertawa lebar itu adalah Tantowi Yahya.
Sekarang dengan adanya foto ini, apakah Anda yang meragukan keislaman Jokowi dan juga kehajiannya masih juga akan percaya dengan fitnah yang ada? Atau foto ini juga akan diuji dengan teknik ELA, seperti fotokopi akta nikah yang baru-baru ini disebarkan oleh situs salah satu partai yang melabeli diri dengan “dakwah” itu?
http://politik.kompasiana.com/2014/05/21/foto-jokowi-berhaji-tahun-2003-akhirnya-ditemukan-658552.html
ilustrasi
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Pengggalan dialog drama Romeo dan Juliet karya sastrawan Inggris, William Shakespeare menyebut apalah arti sebuah nama. Namun, penggalan dialog itu tidak lagi sejalan dengan visi masyarakat modern. Pasalnya, pemberian nama pada bayi-bayi yang lahir di abad 21 memiliki arti yang sangat penting. Melalui nama, gambaran status sosial seseorang dapat terbentuk. Karena itu, Shakespeare mungkin saja memperbaiki dialog itu dan mengantinya dengan "sebuah nama mencerminkan status sosial".
Masyarakat yang sudah menyadari pentingnya arti sebuah nama secara perlahan membentuk pakem baru dalam pemberian nama. Hasil analisis terhadap statistik nama menunjukan makna nama yang diberikan orang tua pada anaknya memberitahu orang lain tentang selera dan latar belakang orang tua si bayi. Hasil lain analisis mencatat selama seperempat abad terakhir nama-nama bayi menjadi lebih beragam. "Kita berada ditengah evolusi penamaan," papar Laura Wattenberg, penulis buku populer "The Baby Name Wizard" dan pendiri laman BabyNameWizard.com.
Dalam bolg pribadinya Wattenberg mengatakan perubahan pakem pemberian nama seiring sejalan dengan berubahnya tujuan dan arti dari orang tua ketika memberikan nama. Wattenberg mencontohkan, pada 1950-an, terjadi tren pemberian 25 nama bayi laki-laki dan 50 nama bayi perempuan yang paling sering digunakan. Jumlah itu bertambah menjadi 134 nama bayi laki-laki dan 320 bayi perempuan. "Jika Anda memiliki 10 tebakan untuk mendapatkan nama seseorang hari ini, hampir dipastikan anda tidak akan mendapatkannya," kata Wattenberg. Berbeda dengan 100 tahun yang lalu, kata dia, anda msih bisa memiliki kesempatan.
Implikasi
Tren pemberian nama selalu berubah tiap tahun. Perubahan tren juga seiring dengan datangnya implikasi sosial lainnya. Wattenberg segera melakukan riset kecil dengan mempergunakan data keluaran US Social Security Administration untuk mengetahui ukuran atau acuan yang disebut Shannon entropi. Acuan ini dapat digunakan untuk menjelaskan informasi yang terkandung dalam pesan . Dalam hal ini, berapa banyak yang pesan yang dikomunikasikan melalui pemilihan nama.
Konsep Shannon Entropi menggambarkan hubungan antara berapa banyak gangguan atau ketidakpastian yang dikaitkan dengan variabel tertentu, dan bagaimana informasi yang disimpan dalam pesan. Prinsipnya, semakin beragam semakin banyak informasi yang tergali. Hasil analisis Wattenberg mencatat kenaikan tajam entropi nama dari waktu ke waktu. Dia menemukan bahwa ukuran informasi yang dibawa oleh nama telah meningkat selama 25 tahun terakhir. Sebagai contoh, pemberian nama Maria memungkinkan anda mengetahui lebih banyak tentang orang tua dan latar belakangnya. Informasi itu sangat jauh berbeda dengan informasi 50 tahun lalu.
Sosiologi Nama
Nama yang kian beragam menunjukan banyaknya nilai-nilai, selera, mimpi dan ambisi orang tua terhadap anak-anak mereka. "Sosiologi nama," kata Wattenberg. Dia memprediksi kecenderungan pemberian nama berdasarkan harapan orang tua terhadap status sosial anak-anak mereka memungkinkan pula munculnya jasa pemberian nama. Tak terbayang jutaan dollar dihabiskan untuk memanfaatkan jasa sosiolog untuk meyakinkan nama yang dipilih sangat sempurna untuk anak anda.
Memahami pemberian nama telah menjadi bentuk komunikasi lain, Wattenberg mencontohkan mengamati pekerja berseragam membuat seseorang sulit mengetahui selera atau kepribadian orang itu. Bandingkan dengan pekerja non seragam. Jadi, seragam yang dikenakan oleh siapa pun di kantor bisa memberitahu anda sedikit informasi seseorag. Dalam hal ini, kata Wattenber, setelan biru yang sama mungkin mengungkapkan petunjuk penting tentang pemakainya. "Hal yang sama berlaku untuk nama. Di era ada lebih banyak pilihan yang tersedia, masing-masing pilihan membawa konsekuensinya," kata dia.
Jean Twenge, profesor psikologi, San Diego State University, menyebut pekerjaan Wattenberg sebagai sesuatu yang menarik. "Asumsinya tampak kokoh bagi saya." Twenge, penulis buku "Wabah Narsisme: Hidup di Era Hak Individu" mengatakan pergeseran ke arah nama-nama yang unik adalah bagian dari pergeseran sosial yang lebih luas terhadap individualisme dalam banyak aspek kehidupan individu. "Penamaan anak digunakan untuk menjadi sebuah keputusan. Anda harus pertimbangkan keseimbangan dalam mencari nama," ujarnya.
Dunia maya sebagai bentuk lain dari revolusi teknologi komunikasi turut mempengaruhi beragamnya nama. Munculnya nama pengguna online yang berasal dari hasil kreasi sendiri atau nama asli menjadi buktinya. "Dunia maya memiliki dampak yang besar," kata Wattenberg. "Ada semacam daya saing yang membuat setiap orang berebut menjadi yang pertama." Wattenberg menyatakan setiap individu ingin menjadi berbeda satu sama lain, tapi tetap saja selera yang ada tak pernah berubah. "Jadi, kita hanya memiliki ribuan variasi kecil pada tema Anda dapatkan."
Masyarakat yang sudah menyadari pentingnya arti sebuah nama secara perlahan membentuk pakem baru dalam pemberian nama. Hasil analisis terhadap statistik nama menunjukan makna nama yang diberikan orang tua pada anaknya memberitahu orang lain tentang selera dan latar belakang orang tua si bayi. Hasil lain analisis mencatat selama seperempat abad terakhir nama-nama bayi menjadi lebih beragam. "Kita berada ditengah evolusi penamaan," papar Laura Wattenberg, penulis buku populer "The Baby Name Wizard" dan pendiri laman BabyNameWizard.com.
Dalam bolg pribadinya Wattenberg mengatakan perubahan pakem pemberian nama seiring sejalan dengan berubahnya tujuan dan arti dari orang tua ketika memberikan nama. Wattenberg mencontohkan, pada 1950-an, terjadi tren pemberian 25 nama bayi laki-laki dan 50 nama bayi perempuan yang paling sering digunakan. Jumlah itu bertambah menjadi 134 nama bayi laki-laki dan 320 bayi perempuan. "Jika Anda memiliki 10 tebakan untuk mendapatkan nama seseorang hari ini, hampir dipastikan anda tidak akan mendapatkannya," kata Wattenberg. Berbeda dengan 100 tahun yang lalu, kata dia, anda msih bisa memiliki kesempatan.
Implikasi
Tren pemberian nama selalu berubah tiap tahun. Perubahan tren juga seiring dengan datangnya implikasi sosial lainnya. Wattenberg segera melakukan riset kecil dengan mempergunakan data keluaran US Social Security Administration untuk mengetahui ukuran atau acuan yang disebut Shannon entropi. Acuan ini dapat digunakan untuk menjelaskan informasi yang terkandung dalam pesan . Dalam hal ini, berapa banyak yang pesan yang dikomunikasikan melalui pemilihan nama.
Konsep Shannon Entropi menggambarkan hubungan antara berapa banyak gangguan atau ketidakpastian yang dikaitkan dengan variabel tertentu, dan bagaimana informasi yang disimpan dalam pesan. Prinsipnya, semakin beragam semakin banyak informasi yang tergali. Hasil analisis Wattenberg mencatat kenaikan tajam entropi nama dari waktu ke waktu. Dia menemukan bahwa ukuran informasi yang dibawa oleh nama telah meningkat selama 25 tahun terakhir. Sebagai contoh, pemberian nama Maria memungkinkan anda mengetahui lebih banyak tentang orang tua dan latar belakangnya. Informasi itu sangat jauh berbeda dengan informasi 50 tahun lalu.
Sosiologi Nama
Nama yang kian beragam menunjukan banyaknya nilai-nilai, selera, mimpi dan ambisi orang tua terhadap anak-anak mereka. "Sosiologi nama," kata Wattenberg. Dia memprediksi kecenderungan pemberian nama berdasarkan harapan orang tua terhadap status sosial anak-anak mereka memungkinkan pula munculnya jasa pemberian nama. Tak terbayang jutaan dollar dihabiskan untuk memanfaatkan jasa sosiolog untuk meyakinkan nama yang dipilih sangat sempurna untuk anak anda.
Memahami pemberian nama telah menjadi bentuk komunikasi lain, Wattenberg mencontohkan mengamati pekerja berseragam membuat seseorang sulit mengetahui selera atau kepribadian orang itu. Bandingkan dengan pekerja non seragam. Jadi, seragam yang dikenakan oleh siapa pun di kantor bisa memberitahu anda sedikit informasi seseorag. Dalam hal ini, kata Wattenber, setelan biru yang sama mungkin mengungkapkan petunjuk penting tentang pemakainya. "Hal yang sama berlaku untuk nama. Di era ada lebih banyak pilihan yang tersedia, masing-masing pilihan membawa konsekuensinya," kata dia.
Jean Twenge, profesor psikologi, San Diego State University, menyebut pekerjaan Wattenberg sebagai sesuatu yang menarik. "Asumsinya tampak kokoh bagi saya." Twenge, penulis buku "Wabah Narsisme: Hidup di Era Hak Individu" mengatakan pergeseran ke arah nama-nama yang unik adalah bagian dari pergeseran sosial yang lebih luas terhadap individualisme dalam banyak aspek kehidupan individu. "Penamaan anak digunakan untuk menjadi sebuah keputusan. Anda harus pertimbangkan keseimbangan dalam mencari nama," ujarnya.
Dunia maya sebagai bentuk lain dari revolusi teknologi komunikasi turut mempengaruhi beragamnya nama. Munculnya nama pengguna online yang berasal dari hasil kreasi sendiri atau nama asli menjadi buktinya. "Dunia maya memiliki dampak yang besar," kata Wattenberg. "Ada semacam daya saing yang membuat setiap orang berebut menjadi yang pertama." Wattenberg menyatakan setiap individu ingin menjadi berbeda satu sama lain, tapi tetap saja selera yang ada tak pernah berubah. "Jadi, kita hanya memiliki ribuan variasi kecil pada tema Anda dapatkan."


