MERDEKADOTCOM. Buaya ganas di perairan Kecamatan Mentaya Hilir
Selatan Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, kembali memakan
korban jiwa setelah menerkam seorang warga bernama Yassin.
"Sampai pagi ini puluhan warga bersama anggota Pol Air masih melakukan pencarian korban. Kemarin itu sempat ditembak juga tapi buayanya tidak mati dan hilang," kata Camat Mentaya Hilir Selatan, Jumberi, seperti dikutip dari Antara, Selasa (20/5).
Yassin seorang buruh pabrik yang sedang mandi dengan rekannya di Desa Jaya Karet RT 1 Kecamatan Mentaya Hilir Selatan. Mereka tidak menyadari ada buaya berkeliaran di sekitarnya. Bahkan korban sempat menakuti rekannya bahwa di kawasan itu sering muncul buaya.
Beberapa saat kemudian, rekan korban sempat melihat buih cukup banyak muncul di permukaan air dekat korban. Dalam hitungan detik, tubuh Yassin tenggelam buaya, sementara rekannya langsung menyelamatkan diri. Warga pun langsung heboh dengan kejadian itu.
Beberapa saat setelah kejadian, buaya tersebut kembali muncul dan diburu warga. Namun pengejaran itu tidak membuahkan hasil karena buaya tersebut menghilang setelah menyeberang ke arah Pulau Hanaut, menjauh dari lokasi kejadian.
"Sejak kejadian sampai sekarang, kami masih melakukan pencarian dengan berbagai cara. Kejadian ini membuat masyarakat waswas beraktivitas di sungai," kata Jumberi.
Menurut keterangan warga, buaya memang sering terlihat di perairan Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dan sekitarnya. Populasi buaya tersebut diyakini ada di Pulau Lepeh yang berada di tengah Sungai Mentaya perairan setempat.
Kejadian warga diterkam buaya bukanlah pertama di kawasan itu. Sejak 2013 hingga saat ini saja, setidaknya ada tujuh kali serangan buaya terhadap warga yang sedang beraktivitas di sungai dan sebagian besar korbannya meninggal dunia.
Pada 8 Januari 2013, Agus Riadi (12) warga Desa Jaya Karet tewas diterkam buaya dan hanya potongan tubuhnya yang ditemukan. Februari 2013, warga Desa Bagendang Permai Kecamatan Mentaya Hilir Utara bernama Galoh (40) menderita luka parah diterkam buaya.
Pada 23 Mei 2013, Atika (63) warga Jaya Karet diterkam buaya dan jenazahnya tidak ditemukan, pada 23 Januari 2014, Muhammad Rifqi Abidillah (7) warga Desa Penyaguan RT 2 RW 1 Kecamatan Pulau Hanaut juga diterkam buaya dan hingga kini juga belum ditemukan.
"Sampai pagi ini puluhan warga bersama anggota Pol Air masih melakukan pencarian korban. Kemarin itu sempat ditembak juga tapi buayanya tidak mati dan hilang," kata Camat Mentaya Hilir Selatan, Jumberi, seperti dikutip dari Antara, Selasa (20/5).
Yassin seorang buruh pabrik yang sedang mandi dengan rekannya di Desa Jaya Karet RT 1 Kecamatan Mentaya Hilir Selatan. Mereka tidak menyadari ada buaya berkeliaran di sekitarnya. Bahkan korban sempat menakuti rekannya bahwa di kawasan itu sering muncul buaya.
Beberapa saat kemudian, rekan korban sempat melihat buih cukup banyak muncul di permukaan air dekat korban. Dalam hitungan detik, tubuh Yassin tenggelam buaya, sementara rekannya langsung menyelamatkan diri. Warga pun langsung heboh dengan kejadian itu.
Beberapa saat setelah kejadian, buaya tersebut kembali muncul dan diburu warga. Namun pengejaran itu tidak membuahkan hasil karena buaya tersebut menghilang setelah menyeberang ke arah Pulau Hanaut, menjauh dari lokasi kejadian.
"Sejak kejadian sampai sekarang, kami masih melakukan pencarian dengan berbagai cara. Kejadian ini membuat masyarakat waswas beraktivitas di sungai," kata Jumberi.
Menurut keterangan warga, buaya memang sering terlihat di perairan Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dan sekitarnya. Populasi buaya tersebut diyakini ada di Pulau Lepeh yang berada di tengah Sungai Mentaya perairan setempat.
Kejadian warga diterkam buaya bukanlah pertama di kawasan itu. Sejak 2013 hingga saat ini saja, setidaknya ada tujuh kali serangan buaya terhadap warga yang sedang beraktivitas di sungai dan sebagian besar korbannya meninggal dunia.
Pada 8 Januari 2013, Agus Riadi (12) warga Desa Jaya Karet tewas diterkam buaya dan hanya potongan tubuhnya yang ditemukan. Februari 2013, warga Desa Bagendang Permai Kecamatan Mentaya Hilir Utara bernama Galoh (40) menderita luka parah diterkam buaya.
Pada 23 Mei 2013, Atika (63) warga Jaya Karet diterkam buaya dan jenazahnya tidak ditemukan, pada 23 Januari 2014, Muhammad Rifqi Abidillah (7) warga Desa Penyaguan RT 2 RW 1 Kecamatan Pulau Hanaut juga diterkam buaya dan hingga kini juga belum ditemukan.
Zidan Setiawan
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Suara tangisan itu sudah terdengar ketika Deras baru saja naik tangga menuju lantai dua gedung Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa, di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Namanya Zidan Setiawan. Bocah kecil ini lahir 2 Oktober 2010 lalu. Ia tak berhenti menangis, bahkan suaranya hampir-hampir hilang, meskipun mulut mungilnya sudah dihadapkan ke dada sang ibu, Sukini (35) untuk disusui.
Zidan adalah bocah kecil yang terpaksa lahir premature, terlahir dengan berat badan hanya 1,8 kg. Sungguh malang nasib Zidan, bocah kecil ini terpaksa harus menelan mimpi untuk menikmati ASI. Dokter tempat Zidan dilahirkan di bilangan Jakarta melarang Sukini untuk menyusuinya, karena Sukini sudah terlalu sering mengkonsumsi obat 'kelas warung'. Sang ibu memang menderita hipertensi. Ini dikhawatirkan dapat meracuni Zidan lewat ASI. Singkat kata, Zidan harus diberi susu instan formula.
“Karena saya kan dulu sering minum obat banyak, kaya obat hipertensi dan lain-lain. Akhirnya disuruh kasih formula sama dokter, ya saya ngikut aja,” tutur Sukini. Bagi Sukini dan suami, Zidan adalah anak pertama yang sangat ditunggu-tunggu. Betapa tidak, Zidan adalah anak kelima sekaligus pertama bagi pasangan suami-istri ini. Pasalnya Sukini telah empat kali hamil dan empat kali itu pula dia keguguran. Tapi ternyata kebahagiaan itu kini harus melawan arus kondisi dan keadaan yang sedemikian rumitnya bagi Sukini.
Demi kesembuhan Zidan, apa pun mereka lakukan. Namun apa daya, Sukini hanya seorang ibu rumah tangga yang tinggal di sebuah kontrakan sempit di kawasan Jombang, Ciputat, Tangerang, Banten. Sehari-hari ia hanya menunggu suaminya pulang dari berjualan kue kering yang dititipkan ke warung-warung tetangga.
Di tengah kegelisahan Sukini dan suami menghadapi keadaan Zidan, mereka pun harus menelan getir dan pahitnya mencari tambahan dana untuk kesembuhan si buah hati. “Ya, namanya juga bapaknya cuma jualan kue, Mas, jangankan buat biaya berobat, buat makan aja udah serba kekurangan,” tutur Sukini.
Tapi bagi Sukini dan suami, keadaan yang sulit tidak mengendurkan usaha keras mereka untuk mengulas senyum dan tawa bahagia di wajah si mata wayang. Dan, ternyata kerja keras itu berbuah. Sukini dipertemukan dengan LKC DD. Sukini kini dapat sedikit tersenyum. Di LKC, Zidan mendapatkan perawatan kesehatan yang baik.
Melalui tangan-tangan cekatan tim dokter LKC, Zidan mulai diberikan perawatan dan pelatihan menyusui. Karena Zidan sejak terlahir belum terbiasa dengan ASI, maka dengan sabar Zidan dilatih dan dibiasakan untuk menyusu ASI dengan beberapa metode, seperti ditempelkannya selang lunak yang sudah diisi susu formula ke dada Sukini untuk dapat diisap Zidan, seolah-olah selang yang telah diisi susu itu adalah ASI, lalu setelah si anak sudah mulai bisa mengisap, maka akan diberikan ASI yang sebenarnya.
“Ya, Bu Sukini dipasangi selang berisi susu formula, karena beliau kan masih sedikit susunya. Jadi mesti dipancing dulu,” terang Rini, suster yang merawat Zidan. Dengan penanganan medis LKC DD yang baik dan optimal, kini Zidan perlahan mulai pulih dan bahkan berat badan Zidan naik menjadi 3,7 kg.
Zidan adalah bocah kecil yang terpaksa lahir premature, terlahir dengan berat badan hanya 1,8 kg. Sungguh malang nasib Zidan, bocah kecil ini terpaksa harus menelan mimpi untuk menikmati ASI. Dokter tempat Zidan dilahirkan di bilangan Jakarta melarang Sukini untuk menyusuinya, karena Sukini sudah terlalu sering mengkonsumsi obat 'kelas warung'. Sang ibu memang menderita hipertensi. Ini dikhawatirkan dapat meracuni Zidan lewat ASI. Singkat kata, Zidan harus diberi susu instan formula.
“Karena saya kan dulu sering minum obat banyak, kaya obat hipertensi dan lain-lain. Akhirnya disuruh kasih formula sama dokter, ya saya ngikut aja,” tutur Sukini. Bagi Sukini dan suami, Zidan adalah anak pertama yang sangat ditunggu-tunggu. Betapa tidak, Zidan adalah anak kelima sekaligus pertama bagi pasangan suami-istri ini. Pasalnya Sukini telah empat kali hamil dan empat kali itu pula dia keguguran. Tapi ternyata kebahagiaan itu kini harus melawan arus kondisi dan keadaan yang sedemikian rumitnya bagi Sukini.
Demi kesembuhan Zidan, apa pun mereka lakukan. Namun apa daya, Sukini hanya seorang ibu rumah tangga yang tinggal di sebuah kontrakan sempit di kawasan Jombang, Ciputat, Tangerang, Banten. Sehari-hari ia hanya menunggu suaminya pulang dari berjualan kue kering yang dititipkan ke warung-warung tetangga.
Di tengah kegelisahan Sukini dan suami menghadapi keadaan Zidan, mereka pun harus menelan getir dan pahitnya mencari tambahan dana untuk kesembuhan si buah hati. “Ya, namanya juga bapaknya cuma jualan kue, Mas, jangankan buat biaya berobat, buat makan aja udah serba kekurangan,” tutur Sukini.
Tapi bagi Sukini dan suami, keadaan yang sulit tidak mengendurkan usaha keras mereka untuk mengulas senyum dan tawa bahagia di wajah si mata wayang. Dan, ternyata kerja keras itu berbuah. Sukini dipertemukan dengan LKC DD. Sukini kini dapat sedikit tersenyum. Di LKC, Zidan mendapatkan perawatan kesehatan yang baik.
Melalui tangan-tangan cekatan tim dokter LKC, Zidan mulai diberikan perawatan dan pelatihan menyusui. Karena Zidan sejak terlahir belum terbiasa dengan ASI, maka dengan sabar Zidan dilatih dan dibiasakan untuk menyusu ASI dengan beberapa metode, seperti ditempelkannya selang lunak yang sudah diisi susu formula ke dada Sukini untuk dapat diisap Zidan, seolah-olah selang yang telah diisi susu itu adalah ASI, lalu setelah si anak sudah mulai bisa mengisap, maka akan diberikan ASI yang sebenarnya.
“Ya, Bu Sukini dipasangi selang berisi susu formula, karena beliau kan masih sedikit susunya. Jadi mesti dipancing dulu,” terang Rini, suster yang merawat Zidan. Dengan penanganan medis LKC DD yang baik dan optimal, kini Zidan perlahan mulai pulih dan bahkan berat badan Zidan naik menjadi 3,7 kg.

