"Kami pastikan pelaku ada di lokasi saat bom itu meledak. Begitu kabel dihubungkan langsung meledak. Ini seperti saklar," kata Kasat Brimob Polda DIY, Kombes Gatot Sudibyo, Rabu (18/4/2012) siang.
Polisi yang melakukan penyisiran kemarin menemukan kabel panjang sekitar tujuh meter. Juga ditemukan plastik dan accu kering. Bom tersebut meledak tak lama usai sidang putusan Ketua Front Pembela Islam (FPI) Jateng-DIY, Bambang Tedi di gelar di Pengadilan Negeri Yogyakarta. Bom tersebut diduga ditanam tak terlalu dalam di tepi jalan. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. (www.tribunjogja.com)

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Menyambut hari Kartini, TPA Asy-Syifa Sidorejo, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, DIY akan menggelar acara peringatan bersama ibu-ibu buruh gendong pasar Gamping, Sleman.
Direktur TPA Asy-Syifa Sidorejo, Asnan Wiharno mengatakan dalam acara yang diberinama "Kartini-an TPA Asy-Syifa - Buruh Gendong" atau Kartini-an A-BG tersebut, para santriwati dan ustadzah TPA Asy-Syifa akan berkolaborasi dengan seorang buruh gendong untuk melakukan dramatisasi petikan surat Kartini.
“Petikan surat yang dibacakan adalah surat Kartini yang dikirimkan pada Tuan EC Abendanon, tanggal 17 Agustus 1902. Surat ini dipilih, karena, merupakan salah satu surat yang menguak sisi lain sosok RA Kartini. Yaitu, sosok Kartini sebagai seorang muslimah sejati, yang menjadikan Al Quran sebagai inspirasi perjuangannya,” ucap, Rabu (18/04/2012).
Saat putus asa dalam perjuangannya, Kartini ternyata kembali menemukan semangatnya setelah mempelajari Al Quran. Cucu tiri ibu Kartini mencatat, Kartini sangat terkesan kata-kata Minazh-Zhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya dalam Surat. Al-Baqarah : 257. Karenanya, dalam banyak suratnya sebelum wafat, Kartini sering mengulang kalimat “Dari Gelap Kepada Cahaya” seperti tercantum dalam surat Al Baqarah tersebut. Kartini menterjemahkan kata-kata itu, dengan bahasa Belanda, yaitu “Door Duisternis Tot Licht”. Oleh Armijn Pane, kata-kata itu diterjemahkan dengan “Habis Gelap, Terbitlah Terang”, yang kemudian menjadi judul buku berisi surat-surat Kartini.
Selain dramatisasi surat Kartini, dalam acara ini juga akan dipertontonkan penampilan rebana dari ibu-ibu buruh gendong. Setelah itu, mereka diberi kesempatan untuk menyampaikan testimoni atau pandangan mereka terkait sosok dan perjuangan RA Kartini. Pandangan dari buruh gendong ini dipandang menarik, karena, selama ini, pernyataan tentang Kartini lebih banyak disampaikan oleh tokoh-tokoh wanita, baik pejabat, pengusaha, politikus, artis dan sebagainya.
Acara lain yang juga diharapkan mampu meramaikan suasana adalah pembacaan puisi berjudul "Bagaimana Kami Juga Bisa Menerangi" oleh dua santriwati TPA Asy-Syifa Sidorejo. Puisi ini bercerita tentang keinginan para kartini kecil masa kini untuk selalu menjadikan perjuangan Kartini sebagai inspirasi. Mereka berterimakasih pada Kartini, bukan karena emansipasi --seperti didengungkan banyak orang--, namun, karena telah memberi inspirasi.
Dalam acara ini, juga akan digelar lomba mewarnai bertema Kartini, yang diharapkan bisa diikuti ratusan santri/wati dari berbagai TPA dan TK di wilayah Sidorejo. Acara akan digelar pada hari kamis. tanggal 19 April 2012, mulai pukul 15.00 WIB, di musholla Asy-Syifa Sidorejo, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, DIY. "Selain penghargaan terhadap pahlawan bangsa, acara ini juga digelar untuk meningkatkan keimanan dan pemahaman agama para santri/wati TPA Asy-Syifa, Sidorejo, terutama terkait kecintaan terhadap kitab suci agama Islam, yaitu Al Quran, seperti pernah dilakukan RA Kartini sebagai seorang muslimah sejati," kata Asnan Wiharno, direktur TPA Asy-Syifa Sidorejo. (*)
VIVAnews - Sri Sultan Hamengkubuwono X, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, terus mengampanyekan perdamaian untuk Indonesia.
"Bahwa kepedihan di Indonesia adalah keprihatinan kita semua. Makna Bhinneka Tunggal Ika perlu dikedepankan kembali, bahwa di dalamnya mengandung watak bangsa, sikap, dan tindakan toleran, tanpa membedakan strata apa pun," ujar Sultan di hadapan puluhan ribu warga Yogya yang hadir menonton konser Voice For The East (Vote) di Alun-alun Selatan Yogyakarta.
Konser tersebut dimeriahkan oleh Slank, Glenn Fredly, Tompi, Gugun Blues Shelter, Shaggydog, Jogja Hip Hop Foundation, Superman Is Dead, Kua Etnika, NTT Bermusik, Edo Kondologit, Ras Muhammad, Melanie Subono, dan lainnya.
Di samping panggung, Sultan dengan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas beserta keluarga tampak setia menonton hingga selesai konser Minggu dini hari 15 April 2012.
Sultan juga mengatakan, merusak peradaban ternyata sangat mudah dalam waktu singkat, ketika tidak ada kepedulian dan kepekaan. Kekerasan massal marak, padahal peradaban didesain dengan kesadaran, kesengajaan, kebersamaan, dan komitmen yang didasari nilai-nilai kehidupan bersama yang paling dasar.
"Dari bumi Mataram kita serukan salam damai dari Yogya untuk Indonesia. Mari sama-sama kita sampaikan seruan ini. Tuhanku, jangan biarkan bangsa ini menangis lagi, jangan biarkan bumi menjadi tragedi," kata Sultan. (art)
VIVAnews - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, tidak setuju adanya aturan yang melarang siswi hamil dilarang mengikuti Ujian Nasional. Sultan berharap siswi yang sedang hamil memperoleh hak yang sama seperti siswi lainnya untuk menjalani ujian mulai Senin 16 April mendatang.
"Kalau pendapat saya, pemerintah wajib memberikan pendidikan kepada rakyatnya. Kehamilan bukan sesuatu yang memalukan," kata Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X di Yogyakarta, Jumat 13 April 2012.
Sultan menyatakan tidak memiliki prasangka buruk terhadap siswi sekolah yang sedang hamil. Maka itu, sekolah-sekolah yang melarang siswi hamil untuk Ujian Nasional diimbau untuk mencabut aturan itu. "Toh tidak ada UU yang melarang siswi hamil dilarang mengikuti UN," kata Raja Yogya ini.
Menurut Sultan, ketika kehamilan terjadi pada seorang siswi maka proses belajar-mengajar harus tetap berjalan. Termasuk proses belajar-mengajar sampai proses ujian akhir. "Kalau tidak ada dasar melarang siswa hamil ikut UN maka jangan dilarang," kata Sultan.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi DIY Baskara Aji menambahkan, larangan siswa hamil untuk mengikuti Ujian Nasional tergantung tata tertib sekolah. Dinas Pendidikan tidak pernah mengeluarkan larangan, aturan itu tergantung dari sekolah masing-masing.
"Kami mengacu pada Daftar Normatif Tetap yang bisa mengikuti ujian. Baik kaya, miskin, laki-laki, perempuan, sehat, sakit, hamil, tidak hamil, senang sedih, semuanya boleh ikut Ujian Nasional," ujar dia. (ren)
YOGYA (KRjogja.com) - Kehormatan Dewi Yuliana (23) warga Purwodadi, Jawa Tengah direnggut oleh seorang teman yang belum lama dikenalnya melalui jejaring sosial Facebook. Tak hanya itu saja, sepeda motor dan hand phone (HP) serta notebook miliknya juga dibawa lari Facebooker dari Malang, Jawa Timur yang mengaku bernama Arya Dwi Nugroho itu.
Perkenalan antara keduanya terjadi beberapa bulan lalu saat mahasiswi sebuah perguruan tinggi di Purwodadi ini menerima permintaan perteman dari Arya. Perkenalan itu kemudian berlanjut dengan saling tukar nomor HP dan kemudian Arya mengajak gadis cantik ini untuk ketemuan.
Dewi pun menyambut ajakan Arya dan menyepakati untuk menjemput pemuda ini di Terminal Purwodadi, Selasa (3/5). Setelah betemu, benih-benih cinta Dewi mulai tumbuh dan akhirnya bersedia diajak Arya kencan ke Yogyakarta.
Dengan mengendarai sepeda motor Yamaha Mio warna merah berplat nomor K-3134-NF milik Dewi, keduanya melakukan perjalanan dari Purwodadi ke Yogyakarta. Setibanya di Yogyakarta sejoli yang baru kenal ini booking kamar di sebuah penginapan di bilangan Malioboro. Di kamar ini pula keduanya melepas rindu dan berhubungan badan layaknya suami istri.
Keesokan harinya, Rabu (4/4), Arya mengajak Dewi jalan-jalan dan berbelanja di sebuah tempat perbelanjaan kawasan Malioboro. Kepada korban, Arya berjanji akan membelikan baju sebagai tanda cintanya.
Saat itulah pelaku mulai beraksi. Ketika Dewi tengah mencoba-coba baju di kamar pas, Arya langsung keluar toko. Dengan kunci kontak sepeda motor korban yang ada di tangannya, Arya langsung membawa lari kendaraan Dewi. Tak lupa pelaku mampir kembali ke kamar penginapan untuk menguras hand phone (HP) serta notebook korban.
Dewi baru sadar jika ditipu setelah selesai mencoba-coba baju namun tak menjumpai Arya menemaninya di tempat perbelanjaan itu. Merasa diperdayai pemuda idaman yang baru dikenalnya, Dewi akhirnya melaporkan kasus penipuan dan penggelapan tersebut ke Polresta Yogyakarta.
“Sudah kami terima (laporannya). Sedang kami dalami kasus ini,” tegas Kapolresta Yogyakarta. Kombes Mustaqim melalui Paur Subag Humas Polresta Yogyakarta, Iptu Haryanta di ruang kerjanya, Kamis (5/4). (Van)
|
YOGYA (KRjogja.com) - Dinas Pertanian (Distan) DIY akan menggelar pelatihan dan apresiasi kepada 50 takmir masjid di DIY menjelang Idul Adha pada 26 hingga 27 Oktober 2011 mendatang. Pelatihan selama dua hari yang diadakan di Kantor Distan DIY akan memberikan teori dan praktek pemilihan dan penyembelihan hewan kurban yang memenuhi syarat atau layak disembelih.
Kepala Seksi Kesehatan Hewan (Keswan) dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmaver), Haris Handono mengatakan sejak tahun 2006 telah diselenggarakan apresiasi ini untuk memberikan pelatihan dan praktek kepada takmir-takmir masjid perwakilan dari kabupaten dan kota terkait pemilihan hewan kuran dan tata cara penyembelihan hewan kurban.
"Berdasarkan data dari Departemen Agama tahun 2010 jumlah masjid di DIY telah mencapai 6.800 sedangkan takmir masjid yang telah diberikan pelatihan baru 360 orang karena setiap tahunnya kita hanya mampu melatih 50 takmir masjid karena keterbatasan anggaran," ujarnya saat ditemui di Jalan Gondosuli Yogyakarta, Rabu (19/10).
Haris menjelaskan upaya pelatihan ini merupakan hasil kerjasama dengan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada (UGM), Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Distan DIY agar para takmir masjid yang melakukan proses penyembelihan dan pemotongan hewan mengetahu tata cara yang benar dan sesuai kaidah agama yang disayaratkan.
"Dengan adanya apresiasi ini dapat meningkatkan pengetahuan baik secara teori maupu praktek para takmir masjid agar tidak terjadi kesalahan dalam pemotongan hewan kurban, mengingat tidak sembarang orang bisa melakukan pemotongan hewan kurban tersebut," katanya.
Selain itu, pihaknya bekerjasama dengan Kedokteran Hewan UGM akan melakukan pemeriksaan kesehatan hewan kurban atau monitoring sejak H-14 hingga H-7 bagi para pedagang hewan kurban baik yang ada di pasar hewan maupun pedagang musiman hewan kurban.
"Para pedagang harus mempunyai Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) bagi seluruh hewan yang dijual baik itu sapi, kambing maupun domba . Apabila berasal dari daerah lain atau luar kota harus disertai SKKH dari daerah asal hewan tersebut yang menyatakan bebas dari Penyakit Menular Hewan Strategis (PMHS) terutama dari penyakit Anthraks," pungkasnya. (Fir)
|
YOGYA (KRjogja.com) - Pernikahan putri Sri Sultan Hamengku Buwono X, GKR Bendara dengan KPH Yudhaningrat yang akan digelar di Masjid Panepen, Kraton pada 17 Oktober nanti direncanakan menggunakan ijab qabul dengan bahasa Jawa. Pernikahan ini juga tidak dipimpin oleh penghulu dari Kantor Urusan Agama (KUA) setempat, melainkan oleh pengulon atau penghulu khusus Kraton.
Penghulu KUA Kecamatan Kraton Ahmad Sakdiyah mengungkapkan, pada pernikahan Jeng Reni, panggilan akrab GKR Bendara, telah ditunjuk pengulon Kraton yakni H. Muksin Kamaludiningrat. Sultan sendiri nantinya yang akan menikahkan putrinya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan beberapa perhiasan.
"Pada pernikahan Jeng Reni ini kami dari pihak KUA tidak memimpin langsung pernikahan melainkan hanya menghadiri dan mencatat. Karena pernikahan putri Sultan tersebut menggunakan pakem tradisi Kraton sehingga dipimpin oleh pengulon Kraton. Termasuk ijab qabul dengan bahasa Jawa," ujarnya, Kamis (13/10).
Menurutnya, segala persyaratan pernikahan yang harus disampaikan ke KUA, telah didaftarkan sejak 30 Juni lalu. Setelah dilakukan pencatatan dan memeriksa data, telah dilakukan pula penasihatan pra nikah oleh BP4. Pernikahan ini sendiri akan menggunakan tiga landasan hukum. Yakni sah secara undang-undang perkawinan, sah secara Islam dan sah sesuai dengan tradisi dan paugeran Kraton.
"KUA hanya akan menghadiri, mencatat dan melakukan administrasi. Semuanya pelaksanaan dilakukan oleh Kraton sesuai dengan tiga landasan hukum yang dijalankan. Untuk bahasa Jawa yang akan digunakan juga telah dituliskan dalam berkas. Pengantin pria yang berasal dari luar Jawa bisa menghafal atau membaca saat ijab nanti," imbuhnya. (Ran)
|
YOGYA (KRjogja.com) - Sebanyak 375 jamaah calon haji (calhaj) dari Kota Yogyakarta yang tergabung dalam kelompok terbang (Kloter) 36 SOC diberangkatan dari Balaikota Yogyakarta, Rabu (12/10). Pelepasan rombongan yang terbagi dalam sembilan bus tersebut dilakukan oleh Wakil Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti.
Kepala Kantor Kementrian Agama Kota Yogyakarta, Fathoni menerangkan, rombongan hari ini akan berangkat menuju ke Asrama Haji Donohudan Boyolali. Selanjutnya, jamaah akan terbang menuju tanah suci Kamis (13/10) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB.
"Untuk kloter 36 SOC ini semuanya dari Kota Yogyakarta. Selanjutnya, kloter 41 SOC akan diberangkatkan besok, yang dari Kota Yogyakarta ada 63 orang. Kloter terakhir 90 SOC berangkatr tanggal 30 Oktober, yang dari Kota Yogyakarta 18 orang," papar Fathoni.
Usia para calon haji, ungkapnya, yang termuda adalah 19 tahun, sementara yang tertua berusia 87 tahun. "Beberapa orang memang sudah berumur 80-an, namun kondisinya masih fit dan lewat tes kesehatan terakhir mereka masih memungkinkan untuk berangkat," imbuhnya. (Den)
|
YOGYA (KRjogja.com) - Persoalan terkait paugeran (peraturan) di Kraton yang mengemuka dalam perkembangan pembahasan Rancangan Undang Undang Keistimewaan (RUUK) DIY diharapkan tidak memberikan kebingungan terutama bagi masyarakat. Pasalnya, kemunculan berbagai pendapat baik di lingkungan kerabat Kraton sendiri akan menimbulkan pertanyaan masyarakat.
Ketua DPRD DIY, Youke Indra Agung mengungkapkan, untuk berbicara mengenai persoalan Kraton, perlu adanya saluran resmi yang bisa dijadikan pegangan. Terlebih, Kraton sebagai suatu entitas yang dihormati harus memiliki jalur yang resmi pula dalam menyatakan pendapat. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari kebingungan ketika ada pendapat yang berseberangan antar kerabat Kraton.
"Kalau mau bicara Kraton, kita harus tau benaR representasi Kraton itu siapa. Tidak semua orang Kraton bisa mengeluarkan pendapat. Kalau berbicara soal tahta Sultan misalnya, ya beliau yang kita jadikan pegangan," ujarnya di gedung DPRD DIY, Selasa (11/10).
Dalam perkembangan terakhir, Sultan sempat menyatakan keinginan adanya perubahan dalam paugeran Kraton. Hal tersebut dimaksudkan sebagai bentuk penyesuaian Kraton dengan kondisi terkini masyarakat termasuk dalam perkembangan tata pemerintahan. Sementara, beberapa kerabat Kraton lain justru menyebut tidak perlu ada perubahan dalam paugeran Kraton.
Menyikapi hal tersebut, Youke berharap agar masyarakat tetap menghormati sikap apapun yang diputuskan Kraton. Namun demikian, perlu dijadikan catatan bahwa suara yang disampaikan Kraton tersebut harus tetap melalui jalur yang resmi.
"Pernyataan itu perlu dicermati resmi atau tidak dari Kraton. Karena Kraton sebagai suatu entitas juga harus melalui saluran resmi. Kami secara prinsip dari DPRD akan tetap mengikuti suara resmi Kraton. Harus ada jalur juru bicara resmi Kraton. Dan kita hormati sikap Kraton, pegang apa yang disampaikan Ngarso Dalem," tandasnya. (Ran)
Asih yang sebelumya memiliki gelar Mas Bekel Anom Suraksosihono tersebut kini naik pangkatnya menjadi Mas Lurah Suraksosihono. Dalam menjalankan tugasnya nanti, Asih berjanji untuk memegang teguh aturan yang ada di Kraton Yogyakarta.
"Mudah-mudahan setelah saya diangkat menjadi Juru Kunci Merapi, saya dapat melaksanakan amanah dengan baik sesuai dengan persetujuan dan aturan yang ada di Kraton. Saya juga akan mengutamakan koordinasi dengan masyarakat," ujarnya usai pengumuman pengangkatan Juru Kunci Merapi di Ndalem Joyokusuman, Minggu (3/4).
Ia menuturkan, selama peran barunya menggantikan Mbah Maridjan, dirinya akan melakukan penyesuaian antara nilai-nilai tradisi Kraton dengan perkembangan teknologi. Ia juga akan terus mengikuti perkembangan yang terjadi di tingkat pemerintah.
Asih yang kesehariannya bekerja sebagai karyawan administrasi di Universitas Islam Indonesia (UII) ini juga mengaku akan menyesuaikan diri dengan tugas lama di kampus dan tugasnya di Merapi. Sejauh ini, ia mengaku tak menemui kendala.
"Saya diberikan kelonggaran dari kantor untuk dapat menjalankan tugas menggantikan Bapak. Sejauh ini tidak ada kendala apapun," katanya.
Usai ditetapkan sebagai Juru Kunci Merapi, Asih mengaku belum memutuskan untuk bertempat tinggal dirumah ayahnya. Sementara ini ia masih menempati Shelter di Plosokerep Umbulharjo Cangkringan, Sleman. "Tetapi saya menunggu perkembangan saja nanti mau tinggal dimana," imbuhnya. (Ran)
|
Gudeg racikan Ibu Ngatinah ini menyajikan gudeg bercampur sayur tempe ditambah potongan cabai hijau menggunung. Belum lagi sayur kreceknya yang berpadu padan dengan cabai rawit merah sehingga membuat lidah 'terakar'. Tak hera jika diberi nama mercon.
Menurut sang penjual, ide awal pembuatan adalah keinginan untuk membuat rasa gudeg yang berbeda dan tidak membosankan. Citarasa pedas dipilih karena dinilai banyak disukai oleh masyarakat. Terciptalah gudeg mercon yang memang benar adanya, selalu laris diserbu pelanggan.
"Ramuannya ya ngawur saja. Kalau biasanya gudeg hanya menyediakan sayur nangka, areh, krecek, potongan daging dan telur, maka gudeg mercon ini ada campuran sayur mercon dan aneka gorengan. Ternyata lidah masyarakat cocok dan justru banyak diminati," katanya.
Setiap kali berjualan, tak kurang 5 kilogram cabe hijau dan cabe rawit merah digunakan untuk meramu gudeg mercon. Rasa pedas yang tak terkalahkan dari gudeg ini disebut sebut baru satu satunya di Yogyakarta. Bu Ngatinah sendiri telah berjualan gudeg mercon sejak tahun 1992.
Salah seorang penggemar gudeng mercon, Adi Christiawan mengaku selalu menyempatkan diri untuk menikmati gudeg mercon. Terlebih, aktivitasnya yang baru berakhir pada malam hari membuat gudeg mercon menjadi alternatif kuliner yang cocok.
"Biasanya saya selalu berolahraga futsal hingga pukul 23.00 malam. Setelah lelah dan lapar, pasti selalu mampir kesini. Citarasanya tidak membuat eneg dan malah sensasi pedasnya gudeg membuat ketagihan," tuturnya.
Anda yang penasaran ingin menikmati gudeg ini, silahkan susuri seputaran pasar Kranggan tepatnya di sisi sebelah Barat Klenteng Poncowinatan Yogyakarta. Di sebuah trotoar akan terlihat kerumunan ramai penggemar gudeg mercon yang mengantri.
Gudeg mercon buka mulai pukul 23.00 malam hingga pukul 04.00 pagi. Harganya juga bervariasi. Mulai Rp12 ribu untuk gudeg suwir, Rp14 ribu untuk gudeg suwir telur dan Rp20 ribu untuk gudeg paha. Anda juga bisa menambahkan aneka gorengan yang tersedia. Selamat mencoba. (Ran)
|
Selain itu, kelaparan tersembunyi (hunger hidden) karena kekenyangan padahal kandungan dalam tubuh hanya memiliki vitamin makro karbohidrat, nutrisi dan mineral. "Tubuh manusia juga membutuhkan vitamin mikro seperti protein, mineral dan vitamin. Hal ini, dikarenakan tingkat pengetahuan dan kesadaran yang kurang di dalam masyarakat Indonesia," kata Boris Bourdin, Presiden Direktur PT Sari Husada kepada wartawan di Aula RS Dr. Sardjito, Yogyakarta, Selasa (7/3).
Lebih lanjut dikatakannya, seminar ilmiah ini merupakan bagian dari serangkaian seminar ilmiah yang digelar di empat kota, dimulai dari Jakarta (6/3). Dan, kota Yogya merupakan kota ketiga, tempat diselenggarakannya seminar ilmiah yang dihadiri lebih dari 150 dokter spesialis anak. Setelah sebelumya di gelar di hotel Nikko Jakarta dan RS Adam Malik, Medan. Sementara RS Dokter Sutomo Surabaya menjadi penutup seminar ilmiah ini.
"Secara keseluruhan seminar ilmiah ini diikuti lebih dari 500 dokter spesialis anak di Jakarta, Medan, Yogyakarta dan Surabaya," katanya.
Acara ini, tambahnya, bekerja sama PT. Sari Husada dengan Rumah Sakit Dr. Sardjito Yogyakarta, menggelar seminar ilmiah mengenai nutrisi untuk balita dengan kebutuhan nutrisi khusus. Tampil sebagai pembicara utama dalam seminartersebut, Prof. Berthold Koletzko, pakar ilmu kesehatan anak (pediatri) dari Universitas Munich-Jerman.
Dalam kesempatan itu, menurut Prof. Berthold Koletzko yang berbagi ilmu mengenai nutrisi untuk anak-anak balita dengan kebutuhan nutrisi khusus dokter-dokter anak yang hadir sebagai peserta.
"Saya merasa terhormat dapat berbagi pengalaman serta pengetahuan mengenai masalah nutrisi untuk anak-anak balita dengan rekan-rekan dokter anak yang ada di Indonesia. Saya berharap seminar ini dapat memberikan kontribusi untuk perkembangan ilmu Pediatri di Indonesia," jelasnya.(sim)
|
"Kami benar-benar merupakan bagian dari warga Yogyakarta yang tidak dapat dipisahkan, jadi jika ada yang mengusik ketenangan Yogyakarta baik itu pemerintah pusat sekalipun akan kami bela mati-matian untuk menegakkan keutuhan dan keistimewaan Yogyakarta," ujar Koordinator Paguyuban Becak Malioboro, Agus kepada KRjogja.com, Selasa (4/1).
Agus mengatakan dia bersama teman-temannya bahkan rela tidak bekerja selama setengah hari dan menghiasi becaknya dengan berbagai aksesoris yang meriah untuk meramaikan kirab tersebut. Selain itu dia mengaku tidak mengharapkan imbalan apapun karena mereka merupakan bagian dari Kota Yogyakarta yang lahir dan hidup di Bumi Mataram.
Ditambahkan seorang peserta kirab budaya dari Yogyakarta Amerikan Jeep, Tedi mengatakan, dari komunitas mobil jeep yang ada di DIY juga tidak ingin kalah memeriahkan pawai ini. Pihaknya juga membawa foto-foto pahlawan Yogyakarta dari Hamengku Buwono IX, Paku Alam VIII, Bung Karno dan lain-lain.
"Mereka adalah tokoh-tokoh yang dianggap sangat berjasa perjuangannya dalam menjaga keistimewaan Yogyakarta selama ini sehingga mereka sangat layak dijuluki sebaga Pahlawan Yogyakarta Kota Republik," katanya.
Sementara itu seniman yang terlibat seperti Hendro Pleret juga mengatakan, hal ini merupakan wujud dukungan penuh masyarakat Yogyakarta atas Keistimewaan DIY dan wujud kongkrit dari pencanangan Yogyakarta Kota Repblik yang akan dilaksanakan usai kirab langsung oleh Sri Sultan HB X yang didukung para bupati dan walikota kabupaten dan kota se-DIY.
"Disini saya memerakan Bung Karno yang pada waktu itu datang ke Yogyakarta dan meminta pertolongan kepada Sri Sultan HB IX. Dengan kemurahan hati Raja Bumi Mataram Sri Sultan HB IX tersebut Yogyakarta dijadikan sebagai ibukota NKRI yang semula berada di Jakarta untuk menjaga keberlangsungan pemerintahan dan keutuhan NKRI," ungkapnya. (Fir)
| |
| |
"Posisi Yogyakarta dengan keistimewaaannya jika berlatar belakang sejarah seharusnya tidak bisa dipisahkan dan dihilangkan. Keistimewaan itu diantaranya posisi Sultan sebagai Raja Keraton serta Paku Alam sebagai Adipati Pakualam," kata Sejarawan UGM, Prof. Dr. Suhartono dalam Peringatan ‘Republik Yogya’ di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri, Selasa (4/12).
Menurut Guru Besar Sejarah UGM ini, berpindahnya ibukota RI saat itu bukan tanpa alasan. Situasi Jakarta kala itu dalam kondisi tidak aman dan roda pemerintahan RI macet total akibat adanya unsur-unsur yang saling berlawanan. Di satu pihak, pasukan Jepang masih memegang satus quo, sementara di pihak lain, ada pihak sekutu yang diboncengi NICA. Saat situasi Jakarta makin genting dan keselamatan para pemimpin bangsa terancam, atas inisiatif Sri Sultan HB IX, ibukota RI pun dipindah ke Yogyakarta. "Di sini, (Yogyakarta) infrastruktur, elit bangsawan sudah lengkap. Bagaimana seandainya republik yang masih muda tidak dilindungi dari Yogyakarta tanpa kesediaan dari HB IX? Hasilnya akan lain," tuturnya.
Dikatakannya bahwa dari Yogyakarta, persoalan politik bangsa kala itu dikoordinasikan. Semua itu dapat ditangani dengan baik berkat kepemimpinan HB IX. "Sudah bukan rahasia lagi bahwa HB IX berperan besar dalam mengelola Republik Yogya sehingga semuanya berjalan lancar dan cita-cita Republik menuju persatuan bangsa dan pengakuan kedaulatan dapat terlaksana dengan baik," katanya.
Dipilihnya Yogyakarta sebagai ibukota RI adalah atas pandangan politik dan keberanian Sultan HB IX untuk mengambil risiko. Dapat dikatakan bahwa HB IX dan masyarakatnya merupakan penyambung kelangsungn RI dalam menghadapi agresi militer Belanda. "HB IX merupakan aktor intelektualis yang memiliki multistatus. Selain sebagai raja, kepala derah, menteri pertahanan, Sultan adalah key person dan juru runding dengan Belanda, juga sebagai figur kunci birokrasi sipil di Indonesia," tambahnya.
Prinsip yang dikenal dari HB IX, ‘tahta untuk rakyat’, adalah perubahan paradigma yang sangat luar biasa sebagaimana tersirat tentang kewajiban seorang raja untuk mengayomi rakyat dengan pengorbanan moril dan materiil yang tulus. "Kejujuran dan kesederhanaannya merupakan dasar kepribadiannya demi kemanunggalan antara Sultan dan kawulanya (rakyat). Inilah teladan yang patut dicontoh oleh generasi muda sekarang ini," katanya. (Diolah dari www.ugm.ac.id)
|
"Kita saling melakukan dialog dengan sangat clear dan ujungnya tetap sama. Saya sangat menghormati bagaimana aspirasi yang berkembang di Yogyakarta dan makanya tugas saya selaku wakil rakyat yang ada di Yogyakarta itu memang baru berawal ketika nanti RUU itu sudah dibahas di komisi II. Kita kawal bersama sesuai dengan aspirasi yang berkembang," ujarnya ketika ditemui disela Stadium Ggenerale 'Republik Yogyakarta' di Gedung Pusat Kebudayaan UGM, Yogyakarta, Selasa (4/1).
Menurutnya, dalam memandang berbagai persoalan, dirinya bersama dengan Partai Demokrat terus mengedepankan sikap demokratis. Dalam kaitannya dengan RUUK DIY ini, Partai Demokrat memiliki sikap yang harus dimaklumi sebagai partai yang mengamankan kebijakan pemerintah.
"Demokrat adalah partai yang harus dimaklumi sebagai partai yang mengamankan kebijakan pemerintah. Pemerintah itu tidak boleh dipisah-pisah, yakni pemimpinnya presiden dan pembantu presiden itu salah satunya adalah Mendagri kita Gamawan Fauzi. Tentu beliau punya satu program atau langkah (terkait RUUK DIY) yang harus kita hormati dan wakil rakyat itu yang nanti akan memperjuangkan sesuai dengan aspirasi rakyat, apa kata rakyat itu yang akan kita perjuangkan," katanya.
Dirinya mengaku sempat memiliki kekhawatiran jika persoalan RUUK DIY ini justru akan dibawa seperti halnya kasus Century yang tak kunjung selesai. Karenanya, selaku wakil rakyat dirinya tetap akan terus mengawal perjalanan RUUK DIY bersama dengan rakyat.
"Saya khawatir jika nanti RUUK DIY ini justru akan dibuat seperti Century. Jadi artinya masyarakat Yogyakarta itu sebenarnya sudah bisa menyelesaikan sendiri, aspirasinya juga jelas, dan sebenarnya tidak perlu ada tambahan bumbu lain seperti halnya Century yang sebenarnya sudah jelas kebijakannya. Karena itulah kita amankan RUUK DIY ini sesuai aspirasi rakyat Yogyakarta," imbuhnya. (Ran)
|
"Saya belum baca suratnya, saya belum menerima. Tadi saya bongkar semua surat belum ada. Saya kan perlu tahu dulu masalahnya seperti apa dan apakah itu aturannnya ada dalam undang-undang seperti apa kan harus saya baca dulu," ujar Sultan di komplek Kepatihan, Selasa (4/1).
Menurut Sultan, perlu dicari tahu terlebih dahulu apakah pengibaran bendera setengah tiang tersebut merupakan inisiatif pribadi atau mengatasnamakan golongan tertentu dalam pemerintahan atau lainnya. Pasalnya jika hal tersebut dilakukan secara pribadi, maka akan sulit untuk memberikan tindakan.
"Saya perlu tanya dulu pada Pak Wali, itu atas nama walikota atau pribadi. Kan saya belum tahu. Kalau dilakukan secara pribadi ya susah," ungkap Sultan.
Selaku Gubernur, Sultan juga belum tahu apakah akan memberikan teguran secara langsung kepada walikota atau akan melakukan tindakan lain. Dikatakan Sultan, dalam menyelesaikan masalah tersebut yang paling penting adalah bukan soal teguran atau tidak melainkan kejelasan dari persoalan yang sebenarnya.
"Saya kan belum tahu suratnya, apakah saya disuruh negur atau bagaimana kan saya belum tahu. Yang penting bagi saya bukan masalah menegur atau tidak, yang penting diclearkan dulu masalahnya apa. Mungkin sudah ada beberapa kasus yang terjadi. Tapi kalau dilakukan secara pribadi terus bagaimana," imbuh Sultan. (Ran)
|
Koordinator Panitia Bersama, Widihasto Wasana Putra mengatakan, kirab ini dimaksudkan untuk mengenang kembali sejarah Yogyakarta yang secara sukarela bergabung dengan NKRI serta peringatan Yogyakarta sebagai ibukota Indonesia saat itu. Para peserta kirab dari berbagai elemen ini mengetengahkan konsep yang sama, yaitu bernuansa perjuangan.
"Mereka berpartisipasi dengan sukarela untuk mendukung penetapan Yogyakarta sebagai Kota Republik," ujarnya saat ditemui KRjogja.com di Stasiun Tugu Yogyakarta, tempat dimana massa berkumpul.
Widihasto menambahkan, untuk mencegah penumpukan massa, kirab ini dibagi menjadi tujuh titik kumpul massa, yakni Stasiun Tugu, Hotel Inna Garuda, Dinas Pariwisata DIY, Gedung DPRD DIY, dan Gerbang Kepatihan serta Benteng Vredeburg. “Tak hanya warga Yogyakarta, kirab ini juga diikuti oleh semua elemen masyarakat yakni dari perwakilan Riau, Sumatera Barat, NTT, Maluku dan Kalimantan Barat,” tambahnya. (Fir)
|
Kepala Humas PT KA Daops VI Yogyakarta, Eko Budiyanto mengungkapkan penyesuaian itu tertuang dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 35 Tahun 2010 dan sejalan dengan kenaikan tarif dasar listrik (TDL). Kenaikan berlaku untuk KA Progo jurusan Lempuyangan - Pasar Senen dari Rp 35 ribu menjadi Rp 41 ribu, KA Sri Tanjung jurusan Lempuyangan - Banyuwangi dari Rp 30 ribu menjadi Rp 40 ribu dan KA Bengawan jurusan Solo Jebres - Tanah Abang dari Rp 36 ribu menjadi Rp 43 ribu.
Kendati demikian, kata Eko pemerintah tetap mengalokasikan subsidi sepanjang tahun 2011 sebesar Rp635 miliar meskipun belum mampu menutup biaya operasional seperi BBM non subsidi. Sedangkan dana idealnya adalah Rp 716 miliar.
"Masih ada kekurangan dana Rp85 miliar.Untuk menutupi kekurangan itu, diberlakukan tarif baru kereta ekonomi. Kami akan mengimbanginya dengan meningkatkan pelayanan," imbuhnya. (Ran)
Berdasarkan pantauan VIVAnews, di jembatan Gempol, Jumoyo, Kecamatan Salam, Magelang, hamparan lahar menimbun rumah warga baik yang ada di utara maupun selatan Jalan Magelang-Yogyakarta di Km 23. Lahar juga menimbun pemakaman umum Giriloyo Gempol dan sejumlah kendaraan.
Fauzan, salah seorang petugas dari Komunikasi Peduli Aktivitas Merapi, mengatakan banjir lahar dingin itu sangatlah besar sampai-sampai aliran sungai sempat berpindah jalur melalui perkampungan Gempol. Luapan material banjir juga menyebabkan pendangkalan dasar sungai sekitar dua meter.
"Sekarang talud sungai saja sudah tidak terlihat dan rata dengan material. Ini merupakan banjir yang paling besar," ujar dia kepada VIVAnews.com.
Luapan banjir tersebut menyebabkan 160 warga Gempol yang terisolir dievakuasi ke posko pengungsian balai desa Jumoyo. "Warga Gempol sudah dievakuasii semua. Nanti warga Candi yang terletak di selatan Gempol juga akan dievakuasi karena terisolasi," dia menerangkan.
Banjir lahar dingin di Kali Putih menyebabkan aliran sungai berbelok dan pindah ke arah Timur sekitar 200 meter dari aliran sungai yang lama. Bahkan, batu-batu dengan ukuran cukup besar juga terlihat memenuhi Dusun Gempol.
Mengenai jumlah rumah warga yang tertimbun material banjir lahar dingin, Fauzan mengatakan hingga saat ini belum dilakukan pendataan. "Kami belum tahu jumlahnya berapa yang rusak terkena banjir," katanya
Hingga saat ini arus lalu lintas kendaraan, baik dari Magelang menuju Yogyakarta, maupun sebaliknya, dialihkan melalui jalur Kalibawang melewati Dekso dan Godean. (Laporan: Fajar Sodiq, Magelang | kd)
• VIVAnews
