Gempa-gempa sedang itu terjadi di Cianjur dan Pandeglang. Bahkan gempa di Pandeglang sempat terasa di Jakarta. Rabu 12 April lalu, Cianjur diguncang gempa 5 SR pada kedalaman dangkal 10 kilometer. Lalu, Minggu dini hari 15 April 2012, gempa 6 SR mengguncang Pandeglang, Banten juga di kedalaman 10 kilometer.
Cianjur, Pandeglang, dan Sulawesi Selatan sudah diguncang gempa sedang. Apakah tiga gempa itu terkait dengan gempa Aceh? Menurut pakar Paleotsunami Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Eko Yulianto, tiga gempa itu tidak memiliki sebab-akibat dengan gempa di Aceh kemarin.
Tiga titik gempa itu berdiri di atas segmen lempeng sendiri-sendiri. "Itu fenomena biasa dan terjadi di jalur-jalur gempanya. Ada atau tidak ada gempa di Aceh, bisa jadi gempa-gempa itu masih bisa terjadi," kata Eko.
Tetapi, Cianjur dan Pandeglang merupakan jalur termasuk lempengan Sunda Megathrust. Sunda Megathrust adalah sebutan untuk pertemuan dua lempeng raksasa yakni lempeng samudera Indo-Australia yang menusuk ke bawah lempeng benua Eurasia. Akibatnya, terjadi sesar naik yang mengakibatkan guncangan dahsyat. Potensi guncangan ibarat bom waktu itu bisa menimbulkan guncangan sekitar 8,8 SR atau bahkan 9 SR.
Cianjur dan Pandeglang merupakan satu jalur dari Sunda Megathrust. Jalur ini menjulur dari Andaman di India, mengarah ke pantai barat Sumatera, lalu di Selatan Jawa, hingga Nusa Tenggara. Nah, masing-masing segmen itu memiliki pergerakan dan karakteristik sendiri. Gempa di Cianjur dan Pandeglang termasuk bagian dari perilaku sendiri di masing-masing segmen tadi. Bukan merupakan pergerakan keseluruhan dari Sunda Megathrust.
Gempa-gempa itu terjadi di jalur subduksinya atau di internal lempengnya. Lalu, apakah bagian Selatan Jawa berpotensi gempa besar? "Kami tidak punya data sejarah itu. Tetapi, jalur itu berpotensi akan atau pernah menghasilkan gempa besar, tapi tidak terdeteksi," kata Eko.
Direktur Obervasi Bumi dari Nanyang Technological University Singapura, Kerry Sieh, seperti dimuat The Strait Times edisi Rabu 14 Oktober 2009, mengklaim pernah meneliti jalur Sunda Megathrust.
Kerry Sieh dan timnya mengklaim menemukan gempa yang disebabkan oleh Sunda megathrust terjadi dalam siklus 200 tahunan sekali. Yakni pada tahun 1300, 1600 dan 1800. Menurut Eko, titik siklus 200 tahunan sekali yang dimaksud itu merupakan bagian dari Sunda Megathrust. Bukan pergerakan keseluruhan. "Itu berada di segmen selatannya. Siklus 200 tahunan sekali itu khusus yang di Mentawai, tepat berada di bawah Siberut," ujar Eko lagi. (eh)
VIVAnews -- Gempa dengan kekuatan besar kembali menggoyang Kabuopaten Simeulue, Aceh, Minggu 15 April 2012. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, lindu terjadi dengan kekuatan 6,4 skala Richter terjadi pukul 12.57 Waktu Indonesia Barat (WIB).
Pusat gempa berada di 2.49 LU - 90.33 Bujur Timur, 641 km Barat Daya Kabupaten Simeulue. Terjadi di kedalaman 121 kilometer.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, gempa tersebut tak menimbulkan korban jiwa dan korban luka. Lindu juga tak menyebabkan kerugian materiil.
"Gempa dirasakan cukup lemah oleh warga Simeulue dan sekitarnya," kata dia, Minggu petang. Hingga saat ini tak ada laporan kerusakan yang berarti. Aktivitas warga masyarakat berjalan normal.
Sementara, BPBD bersama instansi terkait masih memantau kondisi di lapangan.
Sebelumnya, pada Rabu 11 April 2012, Simeulue diguncang dua gempa besar, 8,5 SR dan 8,1 SR. Guncangan gempa bahkan dirasakan di hampir seluruh Pulau Sumatera.
Gempa memang tidak menimbulkan tsunami yang dikhawatirkan, meski demikian 10 nyawa melayang akibatnya. Korban nyawa terbanyak ada di Kabupaten Aceh Besar yakni enam orang. Mereka meninggal karena sebab yang sama: sakit jantung.
Menurut Syamsul Bahri, relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Makassar, jenazah tersebut ditemukan dipuing-puing kebakaran dengan kondisi yang mengenaskan. "Ia ditemukan di titik yang disebut-sebut sumber kebakaran," kata Syamsul Bahri, Jumat, 13 April 2012, malam.
Ia menambahkan, Daeng Gassing adalah lelaki renta yang dikenal memiliki kelainan jiwa. Ia diduga telah membakar dirinya sendiri karena stres setelah ditinggal istrinya. Sebelum membakar diri, ia nekat menyiram bensin kesekujur tubuhnya.
"Sebab banyak warga mencium aroma bensin yang menyengat dari rumah Daeng Gassing sebelum kebakaran terjadi," tambahnya.
Apalagi berdasarkan sejumlah informasi, Daeng Gassing sudah empat kali mencoba bunuh diri dengan membakar diri tapi gagal. Kelima kali nyawanya sudah tidak bisa tertolong lagi.
Api yang berkobar dari rumah Daeng Gassing kemudian merembet ke dalam kompleks Asrama Kodim VII Wirabuana. Api cepat merembet karena bersamaan dengan tiupan angin yang kencang. Selain itu, bantuan mobil pemadam kebakaran kesulitan mendekati sumber api karena jalan yang sempit dikawasan padat penduduk tersebut.
Hingga pukul 24:00 Wita, data PMI menyebutkan, rumah warga yang ludes terbakar sekitar 70 unit. Lebih dari 100 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal. Sementara itu, kepolisian saat ini masih melakukan penyelidikan dan mengumpulkan bukti-bukti terjadinya kebakaran.
