Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane, mengatakan, Kapolri dan Kapolda Kalbar harus mundur dari jabatan. Apalagi, kedua anggota Polri itu ditangkap karena diduga terlibat kasus sabu yang sebanyak 6 kilogram (kg).
"IPW mendesak harus ada elite Polri yang bertanggung jawab dalam kasus penangkapan AKBP Idha Endri dan Brigadir Harahap tersebut. Bagaimanapun kepergian dua anggota Polri itu ke Malaysia harus izin dan sepengetahuan atasan. Tidak mungkin seorang anggota Polri bisa pergi ke luar negeri dengan cara 'selonong boy' tanpa izin atasan, apalagi yang pergi itu adalah perwira menengah berpangkat AKBP," ujarnya dalam rilis yang diterima Okezone, Senin (1/9/2014).
Menurut Neta, tindakan tegas diperlukan agar anggota Polri tidak terus-menerus mempermalukan diri dan institusinya. Di saat Kapolri Sutarman berseteru dgn Kompolnas justru muncul kasus yang sangat memalukan ini.
Dari kasus penangkapan tersebut, lanjut Neta, para pimpinan Polri perlu makin memperketat dan mencermati bawahannya, terutama yang bersentuhan dengan tugas-tugas di bidang narkoba.
"Pengawasan internal dari atas ke bawah harus diperkuat. Atasan harus peduli dengan semua dinamika yang ada di jajarannya. Sangat naif jika seorang Kapolda tidak tahu ada pamennya yang pergi ke luar negeri, kemudian tertangkap polisi negara karena kasus narkoba," ujarnya lagi.
Kasus ini membuktikan bahwa bangsa Indonesia semakin dipecundangi narkoba dan aparatnya terlalu gampang diperbudak narkoba. Gurihnya uang dari hasil bisnis narkoba telah menutup akal sehat banyak orang, terutama oknum aparat.
Jika memang terbukti ditangkap karena kasus narkoba, Polri harus berjiwa besar melepas keduanya diproses secara hukum oleh sistem hukum Malaysia.
"Kedua anggota Polri itu bisa terkena hukum gantung sampai mati oleh pihak Malaysia. Menurut Pasal 39 B Undang-Undang Antinarkotika Malaysia, para pembawa narkoba diancam hukuman gantung sampai mati," pungkasnya. (crl)
http://news.okezone.com/read/2014/09/01/339/1032457/ipw-kapolri-harus-mundur
Rully yang sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan ini tewas setelah terkena sabetan celurit milik Suwito. Ironisnya, pembunuhan tersebut dilakukan Suwito dihadapan sang istri dan ayah kandungnya. Pembunuhan tersebut terjadi pada Rabu (25/6) dinihari sekitar pukul 01:30 wib, yakni saat korban bersama dengan istri pelaku, Siti Nuyun dan orangtua pelaku, Rukun (56) tengah menumpang angkot di jalan Darul Qur'an, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor.
"Saat itu korban di dalam angkot dan menuju rumah pelaku. Kemudian, persis di dekat jembatan Loji, tiga pelaku menghentikan angkot yang ditumpangi korban. Di lokasi, ketiga pelaku mengeroyok korban dan korban tewas di lokasi karena terkena sabetan celurit," kata AKP Condro dalam keterangan yang diterima wartwan, Kamis (26/6/2014).
Petugas Polsek Bogor Barat yang mendapatkan informasi aksi pembunuhan langsung meluncur ke lokasi kejadian yang hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari kantor Mapolsek Bogor Barat. Tim gabungan Polres Bogor dan Polsek Bogor Barat langsung bergerak mengejar pelaku setelah mendapat keterangan dari istri dan orangtua pelaku yang saat kejadian berada di lokasi.
"4 jam kemudian 2 pelaku pengeroyokan kita amankan. Sementara satu pelaku pengeroyokan lainnya masih kita buru. Dalam kasus ini, orangtua pelaku yakni Rukun kita amankan karena dianggap terlibat dalam rencana pebunuhan ini," kata AKP Condro.
Dari tangan pelaku polisi menyita clurit, pakaian korban yang penuh darah dan angkot yang disewa oleh pelaku untuk membawa korban.
Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Bogor Barat, AKP Yasser Arafat mengatakan, pembunuhan tersebut didasari rasa cemburu Suwito terhadap korban yang telah menyelingkuhi istrinya. Menurut informasi, belakangan diketahui kalau Nuyun, istri Suwito sudah tidak pulang ke rumah sejak hari minggu (22/6) lalu. Selidik punya selidik, ternyata Nuyun sedang bersama selingkuhannya di suatu tempat.
Berharap agar sang istri kembali, kemudian Suwito meminta bantuan ayahnya, Rukun. Kepada Nuyun, Rukun memintanya pulang karena ibu Suwito sakit keras dan memintanya pulang. Sementara Nuyun, mau pulang dan menjenguk sang mertua jika diantar oleh Dede, selingkuhannya dan meminta Suwito tidak melakukan kekerasan terhadap Dede.
Rukun mengiyakan, dan kemudian menjemput Nuyun dan Dede dengan menyewa angkot. Saat itulah kemudian aksi pembunuhan tersebut terjadi. Suwito (32), Samin (28) dan Mohed menghadang angkot yang ditumpangi korban dan menghabisinya.
"Makanya orangtua pelaku (Rukun) kita amankan karena dia yang menjemput korban dan diduga mengetahui rencana pelaku. Tapi ini masih kita dalami, terkait peran Rukun dalam kasus ini," kata AKP Yaser.
Saat ini, kata Yasser, ketiga pelaku masih menjalani pemeriksaan di Mapolsek Bogor Barat. "Anggota sudah menyebar untuk menangkap satu tersangka lainnya (Mohed)," tambahnya.
Akibat perbuatannya para pelaku bisa dijerat dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dan Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan. Sementara korban yang berprofesi sebagai tukang bangunan jenazahnya dibawa ke RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur untuk diautopsi.
http://news.detik.com/read/2014/06/26/035253/2619492/10/cemburu-berat-suami-bunuh-selingkuhan-istri-di-depan-ayah-kandung?991104topnews
Kejadian terjadi di Universitas Kanjuruhan Malang. Namun kedua pihak saling bermusuhan pada Senin (26/5/2014) di Jalan Tologomas. Ketegangan tersebut terus berlanjut hingga Rabu (28/5/2014) malam di Jalan Wisnuwardhana dan Jalan Tologomas.
Kini permusuhan antara kelompok mahasiswa dua etnis tertentu tersebut terus meluas. Seorang mahasiswa dikabarkan dikeroyok di Jalan Wisnuwardhana, Kedungkandang, Kota Malang, Rabu (28/5/2014) malam.
Menurut penuturan Kasubag Humas Polres Malang Kota, AKP Dwiko Gunawan, sekitar pukul 20.00 WIB korban MK melintas di lokasi kejadian. Saat itu MK baru beribadah di gereja. Saat itu MK berpapasan dengan beberapa orang sesama teman kuliahnya.
“Saat itu pelaku sempat menyapa korban dan dijawab baik-baik. Namun pelaku kemudian menyerang korban,” ujar Dwiko, Kamis (29/5/2014).
Beberapa pelaku melayangkan pukulan ke arah MK. Tak bisa menghindar, pukulan tersebut mengenai telinga MK. Mereka kalah, MK lari menyelamatkan diri. Di saat bersamaan melintas patroli polisi. MK diantar ke Polres Malang Kota untuk membuat laporan.
“Sebelumnya ada sejumlah mahasiwa asal Ambon, nongkrong di Makam Ki Ageng Gribig. Mereka sempat dihalau warga, karena khawatir terjadi bentrokan,” kata Dwiko.
Polisi kemudian melakukan pengejaran di sekitar lokasi kejadian. Hasilnya 11 mahasiswa ditangkap dan diperiksa di Mapolres Malang Kota. Hingga kini proses hukum untuk mereka masih berlangsung.
Lebih jauh Dwiko menegaskan, proses hukum akan ditegakan. Sebab ulah para mahasiswa sudah menimbulkan korban. Selain itu, ulah mereka juga dianggap menimbulkan keresahan masyarakat sekitar.
Karena itu, Dwiko berharap masyarakat segera menghubungi polisi jika ada gelagat negatif dari kelompok mahasiswa ini. Dua kubu mahasiswa diharapkan menyelesaikan setiap masalah dengan menjunjung pepatah “Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”.
“Monggo, warga Malang punya adat istiadat penuh damai dan toleran. Sebagai pendatang sesuaikan budaya kita dengan budaya setempat,” katanya.
Sementara ketegangan dua kelompok di kawasan Jalan Tlogomas masih berlanjut. Rabu malam kedua kelompok masih terlihat bergerombol. Sebagai langkah antisipasi, polisi melakuka razia senjata tajam.
Razia bahkan sampai memeriksa ke dalam rumah kos yang digunakan mahasiswa dari kedua kelompok. Namun tidak ditemukan senjata tajam. Polisi hanya melakukan pendataan.(David Yohanes)
https://id.berita.yahoo.com/bentrok-dua-kelompok-mahasiswa-etnis-tertentu-pecah-di-122501722.html
Siapa sebenarnya King Hu ? dan bagaimana rekam jejaknya ?
Tribunnewsdotcom mencoba menelusuri sosok King Hu dari berbagai sumber. Dari berbagai sumber yang dikumpulkan, tercatat King Hu banyak melakukan kecurangan dalam sengketa tanah di berbagai tempat, seperti Jakarta, Cirebon, Bandung dan sebagainya
Pengusaha tekstil besar di Bandung ini juga kerap bermain di kasus-kasus pertanahan.
Kasus yang terheboh adalah ketika ia menggunakan risalah lelang palsu No 403/1999-2000 Grand Hotel Cirebon, dengan nilai lelang sebesar Rp 2,3 milliar. Indikasi ini bermula saat King Hu menjadi pemenang lelang dalam waktu singkat.
King Hu dituntut jaksa dengan hukuman tujuh tahun bui oleh Kejati Jawa Barat. Dia juga divonis dalam kasus yang sama, dengan berkas terpisah. Saat itu kasus ditangani Mabes Polri bulan Juni 2008.
Kasus kedua King Hu juga dilaporkan oleh PT Dirgantara Indonesia (PT DI) ke Polda Jabar atas dugaan pemalsuan dokumen lahan TNI AU Lanud Husein Sastranegara, Bandung.
Kasus ketiga ditangani oleh Kompol AS kasus sengketa tanah dengan tersangka King Hu. Kasus ini telah P2 (lengkap) dan King Hu pun ditetapkan sebagai tersangka atas sengketa tanah yang dijadikan hotel di lahan bandara Soekarno-Hatta di tahun 2010.
Mafia tanah ini pun sempat menjadi DPO di tahun 2010, dengan dalih sakit King Hu kabur saat hendak dirawat di rumah sakit di Bandung. King Hu akhirnya ditangkap kembali pada Rabu 19 Februari 2014 di kediamannya.
Meski telah dipenjara, pengaruh mafia tanah ini masih besar. Terakhir Kompol AS menjadi korbannya. Saat itu Kompol AS ditawari uang suap sebesar Rp 7 miliar dari King Hu agar Kompol AS mau mengembalikan sertifikat tanah milik keluarga Atang.
Namun dia menolak, kabar uang suap ini sampai ke telinga atasan Kompol AS. Kompol AS diperintahkan untuk mengambil uang itu. Lagi-lagi polwan ini menolak.
Tak disangka usai penolakan itu, dirinya justru dijadikan tersangka dengan tuduhan menggelapkan sertifikat yang dia berikan ke Atang. Padahal sertifikat itu milik sah keluarga Atang.
https://id.berita.yahoo.com/ini-dia-sosok-king-hu-mafia-tanah-yang-104136435.html
Jakarta - Petinggi Grup Artha Graha Wisnu Tjandra sudah sepekan lebih menghilang tanpa kabar. Sebelum hilang, disebutkan tak ada yang janggal dari sikap Wisnu.
"Tidak ada ya. Ya biasa saja. Itu juga yang membuat kami heran," ujar Dirut Konsorsium Artha Graha Global Network, Agung Prabowo ketika dikonfirmasi detikcom, Senin (19/5/2014).
Agung mengatakan pihak Artha Graha saat ini juga sedang ikut mencari keberadaan Wisnu. Namun saat ini belum ada hasil.
Sedangkan pemilik Grup Artha Graha Tomy Winata mengatakan, pihaknya dan juga pihak keluarga Wisnu telah melaporkan hilangnya Wisnu ke Polda Metro Jaya. "Ya sejak Minggu 11 Mei malam sampai dengan sekarang. Kami kehilangan kontak dengan rekan kami Wisnu Tjandra. Keluarga Wisnu Tjandra dan kami juga sudah melaporkan ke polisi," kata Tomy saat dikonfirmasi detikcom.
Wisnu pernah menjabat sebagai Wapresdir Bank Artha Graha. Wisnu kini ditempatkan di unit usaha Artha Graha grup lainnya yakni Jakarta International Hotels and Development (JIHD).
Adapun Pihak kepolisian telah menurunkan tim untuk mengusut hilangnya mantan suami artis Peggy Melati Sukma ini. Polisi juga mengusut mengenai motif di balik hilangnya Wisnu.
"Kami belum bisa memastikan motifnya apa, yang jelas masih kami selidiki," ucap Kasubdit Jatanras Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKBP Herry Heryawan, saat dikonfirmasi detikcom, Minggu (18/5/2014).
http://news.detik.com/read/2014/05/19/051537/2585314/10/sebelum-hilang-tak-ada-kejanggalan-dari-sikap-wisnu-tjandra?9911012
JAKARTA, KOMPAS.com - Letnan Jenderal (Purn) Nono Sampono mengecam aksi balas dendam yang dilakukan geng motor di beberapa tempat di Jakarta beberapa hari lalu. Ia menilai dugaan keterlibatan oknum TNI dalam peristiwa tersebut harus menjadi catatan bagi Panglima TNI dan para komandan marinir.
"Mungkin dia (oknum TNI) solider terhadap korban temannya dan melakukan tindakan itu. Ini harus jadi catatan penting bagi panglima komandan, harus ada penegakan hukum," ungkap Nono kepada Kompas.com, Rabu (18/4/2012).
Ia menilai jika benar memang geng motor itu adalah oknum TNI, instansi TNI harus terbuka menjelaskannya kepada masyarakat. "Selain itu, kalau itu benar TNI, saya rasa ada masalah dalam pengawasan mereka. Bagaimana bisa mereka meninggalkan markas dengan berbondong-bondong banyak seperti itu. Komandannya harus lebih ketat mengawasi," tukas Nono.
Ia pun meminta aparat kepolisian dan TNI bersama-sama membuktikan dugaan keterlibatan TNI itu secara terbuka. "Dengan adanya meninggal yang Kelasi itu, maka harus ada alibi yang dibuktikan yang bisa meyakinkan bahwa itu oknum TNI," tandasnya.
Diberitakan sebelumnya, aksi kekerasan geng motor terjadi di Jakarta dua pekan lalu. Sekitar 200-an orang pria berbadan tegap dan berambut cepak mengacak-acak tempat umum dan menghajar sejumlah pemuda.
Peristiwa itu diduga dipicu peristiwa tewasnya Kelasi Arifin, Staff Khusus Panglima Armada Kawasan Barat (Armabar) pada tanggal 31 Maret 2012 di Pademangan, Jakarta Utara. Arifin tewas saat terlibat perkelahian dengan geng motor. Setelah itu, polisi menduga rekan-rekan Arifin melakukan aksi balas dendam di berbagai tempat pada tanggal 7-8 April 2012 dan tanggal 13 April 2012. Dalam peristiwa itu, sebanyak dua orang pemuda tewas dan belasan lainnya luka-luka.Kepala Polrestro Tangerang Kota Komisaris Besar Wahyu Widada membenarkan penangkapan itu, Rabu (18/4). Penangkapan dilakukan di Jalan Gajah Pungkur, rumah salah satu keluarga.
"Penangkapan dilakukan semalam, sekitar pukul 23.00. Tersangka tidak melakukan perlawanan sama sekali," kata Widada.
Humas Polrestro Tangerang Kota Komisaris Manurung mengatakan, penangkapan itu dilakukan melalui pendekatan secara kekeluargaan. Saat itu tersangka mengaku perbuatannya dan menyerahkan diri ke polisi. "Polisi menyita saputangan tersangka yang diduga dipakai untuk menjerat leher korban," kata Manurung.
Seperti diberitakan, Suwantji yang juga salah seorang pendiri Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI ditemukan tewas di kediamannya, Minggu sore oleh adik bersama anak adik korban dan tetangga. Sosok mayatnya ditemukan sudah membengkak dan biru terduduk dan bersandar di ruang teras belakang.
Hasil otopsi dokter forensik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tangerang menyatakan, korban meninggal akibat pendarahan di bagian kepala. Luka di kepala akibat pukulan benda tumpul sehingga menyebabkan pendarahan.
Pendarahan dalam kepala ini yang diduga menyebabkan kematian. Pada tubuh korban, lengan kiri terdapat luka goresan di lengan kiri. Dari hasil itu juga, korban mengalami patah rusuk dan tulang lidah tenggorokan. (*)
"Kami pastikan pelaku ada di lokasi saat bom itu meledak. Begitu kabel dihubungkan langsung meledak. Ini seperti saklar," kata Kasat Brimob Polda DIY, Kombes Gatot Sudibyo, Rabu (18/4/2012) siang.
Polisi yang melakukan penyisiran kemarin menemukan kabel panjang sekitar tujuh meter. Juga ditemukan plastik dan accu kering. Bom tersebut meledak tak lama usai sidang putusan Ketua Front Pembela Islam (FPI) Jateng-DIY, Bambang Tedi di gelar di Pengadilan Negeri Yogyakarta. Bom tersebut diduga ditanam tak terlalu dalam di tepi jalan. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. (www.tribunjogja.com)
Pasal yang didakwakan kepada Sustyanto, masing-masing pasal pencabulan ayat 82, UU No.23 tahun 2002, tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun atau denda sebesar Rp 300 juta dan Pasal 80 tentang kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan terhadap anak di bawah umur, dengan ancaman hukuman kurungan selama 3 tahun 6 bulan, atau denda sebesar Rp 72 juta.
Sidang pertama dengan agenda pembacaan dakwaan itu, diikuti terdakwa dengan berbaju seragam PNS lengkap. Sidang berlangsung tertutup dan cukup singkat.
Saat keluar ruang sidang, Susyanto terus menutupi wajahnya agar tak terlihat dari warga yang melihat jalannya persidangan hingga selesai. Hufron, kuasa hukum Sustyanto, mengaku keberatan terhadap dakwaan yang dijatuhkan kepada kliennya.
"Kami akan melakukan eksepsi pada sidang kedua yang rencanaya akan di lanjutkan minggu depan," ungkap Hufron.
Kasus pencabulan yang dilakukan Sustyanto terhadap UH terjadi di rumah terdakwa pada Desember 2011 lalu. Saat itu korban berobat di kediaman tersangka karena sakit perut.
Korban yang datang sendirian kemudian diminta membuka bajunya. Karena tak tahan melihat kemolekan tubuh korban, tersangka kemudian mencabuli korban.
Kejadian itu diketahui oleh keluarga korban setelah korban mengadu kepada orang tuanya. Kejadian itu kemudian dilaporkan ke Polres Sampang, hingga kini masuk babak persidangan di kantor PN Sampang. (*)
Bicara geng motor tentu ingat langkah Kepolisian Bandung. Pada Desember 2010 saking merepotkan, Kepolisian Resor Bandung membubarkan empat geng besar: XTC, Brigezz, GBR, dan Moonraker. Keempat kelompok ini membubarkan diri dalam deklarasi di Lapangan Tegallega, Bandung. Mereka berubah menjadi organisasi kemasyarakatan dan klub otomotif resmi. Di lapangan ceritanya lain. XTC, geng terbesar, masih sulit dibubarkan. Pada Mei 2011, anggotanya di Bogor ditangkap karena menyerang dan merusak.
Dari sekian banyak geng motor Jakarta dan Bandung, berikut kelompok paling ditakuti.
Y-GEN atau Young Generation
Punya slogan “Don’t Make Us Angry”. Geng ini berdiri sejak tahun 1990-an cukup di Jakarta. Pengalaman pengguna motor di milis-milis menyebut Y-Gen tidak ubahnya kelompok begal motor. Biasanya mereka konvoi puluhan hingga ratusan motor setelah lewat jam 12 malam. Dimulai dari sekitar markas Y-Gen di daerah Tanjung Priok, dilanjutkan ke Sunter Mall, Kemayoran, Yos Sudarso, Senayan, Sudirman, Kuningan, Menteng, Senen, Pramuka, kembali ke Priok Konvoi Y-Gen biasanya juga masuk Tol Plumpang. Banyak cerita, jika Y-Gen konvoi lebih baik menghindar. Pengalaman motor yang dibegal ketika iring-iringan klub motor harus berpapasan dengan Y-Gen, motor langsung diambil paksa.
Ciri geng motor Y-Gen tidak safety riding alias konvoi tanpa pakai helm dan spion serta mematikan lampu. Usia anggota Y-Gen rata-rata ABG usia SMP-SMA. Motor anggota geng beda dengan klub motor, Y-Gen mengendarai bermacam merek. Namun, mesin sudah ditrondol dengan suara knalpot racing. Jika sedang konvoi, kelompok ini tidak takut pada polisi. Beberapa komunitas biker mempunyai pengalaman melihat kawanan geng Y-Gen merampok pengendara mobil yang sedang parkir tanpa bisa dicegah polisi.
PACINKO
Sebutan tenar Pasukan Cina Kota. Geng beranggotakan kebanyakan anak keturunan Tionghoa yang didirikan John Indo. Era tahun 70-80-an, Pacinko ditakuti geng-geng motor. Anggota Pacinko sekarang sudah uzur, tetapi melahirkan geng-geng motor lain. Sebut saja Gamshi atau Gabungan Anak Muda berprestasi yang jago ngetrek, MGZT (Mangga Besar Anak Ibliz), Hanoman, Aligator, dan Green Eagle. Dari sejumlah geng bentukan Pacinko, hanya Wild Boys yang berbeda. Anggotanya kebanyakan bukan keturunan Tionghoa.
Geng bentukan Pacinko biasanya bermusuhan dengan Y-GEN. Ada juga NSR (Night Sons Racing) yang jelas berkawan dengan Y-GEN. NSR sering konvoi dengan Y-GEN keliling Jakarta. Satu saran bila berpapasan dengan Y-GEN, menghindar.
XTC (Exalt to Coitus)
Artinya kurang lebih menyenangi segala sesuatu tentang seks. Sekarang berganti menjadi Exalt to Creativity. XTC dibentuk sejak 1987 oleh tujuh orang siswa SMA swasta Bandung. Lambang XTC, lebah membawa samurai. Semboyan XTC : Loe asik gw santai, loe usik gw bantai. Anggota XTC sekitar 5 ribu di Jawa Barat dengan pusat di Bandung.
Untuk menjadi anggota XTC harus mengikuti penggojlogan di Lembang. Biasanya calon akan diuji ketahanan fisik seperti ditendang, diinjak, dan dipukul. Selanjutnya tes mengendarai motor ke rumah tanpa rem. Kegiatan lainnya konvoi, adu balap, dan kriminal seperti penodongan.
Brigezz
Dibentuk 1980,an oleh siswa SMA 7 Bandung dengan singkatan Brigadir Seven. Anggota dan kekuasaan daerah makin luas, tahun 1999 nama berubah menjadi Brigadir Gestapu. Awal mula Brigess hanya adu balap liar, tetapi berubah menjadi tindakan kriminal. Brigezz menguasai Jalan Lengkong Besar dan Kecil, lalu Sudirman. Syarat anggota ketrampilan bermotor diuji dengan mengundang bahaya, minum darah.
Polisi pernah menemukan dokumen tentang doktrin angota Brigezz. Tiga doktirn yaitu seperti musuhi polisi, lawan orang tua, dan berlaku jahat di tengah malam.
GBR (Grab on Road)
GBR juga lahir pada tahun 1989 di SMPN 2 Bandung. Kelompok yang anggotanya mayoritas anak SMP ini mengidentifikasikan diri dengan segala sesuatu yang berbau Jerman. Mereka mengusung bendera berwarna merah-kuning-hitam.
Graber, begitu mereka menyebut dirinya, menguasai sepanjang Jalan Sunda, Sumatera dan sekitarnya. Anggotanya tidak sebanyak XTC dan Brigezz, tetapi ditakuti dan sulit ditaklukkan. Tahun 2005 pernah salah satu markas GBR di Margahayu akan diserang XTC, ditunggu-tunggu XTC tidak kunjung datang, anak-anak GBR langsung yang menyerang markas XTC.
M2R (Moonraker)
Berdiri sejak 1978 dari siswa SMA di Jalan Dago. Moonraker berasal dari film James Bond kala itu. Lambang Moonraker bendera merah putih biru dan gambar kelelawar. Dari segi jumlah Moonraker di bawah Brigezz. Moonraker sebagian besar menguasai daerah Dago dan Dipatiukur.
Menjadi anggota hampir sama dengan geng lain, harus bisa mengendarai motor dari Lembang tanpa rem. Selain itu juga angota baru harus berkelahi dengan senior. Dalam organisasinya terdapat jabatan Panglima Perang, yang mengatur ketika terjadi perang antar geng atau perebutan wilayah.
Perilaku kriminal Moonraker terakhir yang menonjol sewaktu belasan anggotanya menyerang Geng XTC. Satu tewas dengan badan penuh tusukan pada Desember 2011.
VIVAnews - Meski harus diakui bahwa ada geng motor yang baik, tapi ulah sejumlah kelompok dari geng itu sudah sangat mencemaskan. Di sejumlah lokasi, jika hendak ngebut-ngebutan, mereka bisa menutup jalan. Meraung dan melengking tinggi di tengah malam, negara sepertinya tidak berdaya dengan orang-orang seperti ini. Di sejumlah tempat ada pula yang menyerang warga.
Kepolisian Cirebon tidak mau menyerah dengan kelompok seperti ini. Satuan Reskrim Polres Cirebon Kota menggulung habis tujuh kelompok geng motor yang pernah menyerang warga. Tujuh pentolannya dibekuk. Tidak terlalu susah mencari bukti dari kelompok ini. Celurit dan kelewang disita.
Polisi punya alasan yang sangat kuat membekuk kelompok ini. "Mereka kami tangkap saat berbuat onar di Jalan Kesambi Kota Cirebon," kata Reskrim Polres Cirebon Kota AKP Didik Purwanto, Selasa 17 April 2012. Sabtu malam pekan lalu, mereka menyerang warga.
Semenjak warga terganggu itu, kepolisian memburu anggota komplotan ini. Selain membekuk tujuh orang itu, "Kami masih mengejar anggota komplotan motor lainnya," kata Didik. Kepolisian Cirebon berjanji tidak main-main dengan geng ini. Sedikit saja menganggu warga langsung dibekuk, dijebloskan ke tahanan.
Aksi kelompok seperti ini memang sudah meresahkan warga di sejumlah kota. Pekan lalu di Jakarta, tiga orang tewas dalam aksi penyerangan yang dilakukan gerombolan bermotor dan tidak dikenal. Polisi menduga bahwa aksi itu terkait dengan kematian anggota TNI Angkatan Laut, Kelasi (KLS) Arifin, 31 Maret lalu. Arifin tewas dihajar geng motor.
Aksi kelompok tak dikenal itu pertama kali terjadi di SPBU Shell, Danau Sunter, Jakarta Utara, pada 7 April 2012. Soleh (19), meninggal akibat luka tusuk. Aksi ini sempat terekam kamera CCTV di dalam mimimarket. Lihat rekamannya di sini.
Belum lagi polisi selesai menyelidiki aksi brutal itu, kejadian penyerangan dan perusakan kembali terjadi. Kali ini di sepanjang Jalan Pramuka dan di minimarket 7-Eleven, Jalan Salemba Raya, Paseban, Jakarta Pusat, Jumat dini hari, 13 April 2012.
Satu korban bernama Anggi Darmawan, meninggal dunia setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih. Korban mengalami luka tusuk di beberapa bagian tubuhnya.
Markas Besar TNI Angkatan Laut membantah anggotanya yang melakukan penyerangan membalas kematian Arifin itu. "Saya sudah kroscek ke Panglima tidak ada itu. Saya sudah berkali-kali bantah. Tidak ada hubungan," kata Kepala Pusat Penerangan TNI AL Laksamana Pertama Untung Suropati dalam perbincangan dengan VIVAnews, Jumat 13 April lalu. (selengkapnya baca di sini)
JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Kepala Polisi RI Komisaris Jenderal Nanan Soekarna menyatakan masyarakat harus membedakan antara pengendara motor dan geng motor. Menurutnya, jangan menyamaratakan orang yang memiliki komunitas motor dan mematuhi aturan dengan geng motor yang berulah.
"Mereka yang tetap melanggar lalu lintas dan pidana ya ditindak tegas. Mau siapa saja, mau Nanan, mau bintang 3, kalau dia geng motor dan melanggar hukum apalagi ada korban jiwa, ya tindak tegas tanpa kecuali," kata Nanan di Jakarta, Senin (16/4/2012).
Nanan mengimbau agar pemerintah dan Polri bekerja sama untuk membina komunitas motor, agar tidak membuat masalah yang meresahkan masyarakat. Selain itu, masyarakat juga diminta membuka akses informasi untuk melaporkan pada aparat apabila ada komunitas, maupun geng motor bermasalah.
"Yang di Makassar kita sudah tangkap. Yang di Jakarta sedang dikembangkan. Ada yang sudah ditangkap ada yang belum. Kita dorong polisinya atau POM-nya kalau emang ada kaitannya. Kita transparankan itu," jelasnya.
Satu lagi ide Nanan untuk membina geng motor bermasalah maupun komunitas motor lainnya adalah dengan membangun sirkuit lintasan motor. Mereka dapat dibina untuk melakukan kegiatan positif lewat klub motor. Selain itu, juga bermanfaat agar geng motor tidak melakukan balap liar di jalanan umum, karena telah ada fasilitas khusus.
Ide ini, kata dia, dapat direalisasikan oleh pemerintah kabupaten untuk mengurangi keresahan masyarakat terhadap geng motor. "Dengan begitu tidak ada alasan mereka untuk balapan. Ayo Anda tiap hari ngebut di sirkuit. Supaya ada prestasi juga. Tidak membuat kekacauan," pungkasnya
JAKARTA, KOMPAS.com — Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut Laksamana Pertama Untung Suropati menegaskan, pihaknya kooperatif terkait pemanggilan salah satu anggotanya, Albert, menjadi saksi penganiayaan hingga menyebabkan tewasnya Kelasi Arifin beberapa waktu lalu.
"Pihak Polda datang ke Pom AL untuk meminta keterangan Kelasi Albert sebagai saksi," ujarnya lewat pesan singkat kepada Kompas.com, Senin (16/4/2012).
Namun, ia tak menjelaskan lebih lanjut apa saja yang ditanyakan polisi kepada Albert. Pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian untuk masalah penyelidikan kasus tersebut.
Untung melanjutkan, apalagi pihaknya menjadi korban yang dirugikan karena salah satu anggotanya menjadi korban kekerasan geng motor.
"Ya kami kan sebagai korban (Kelasi Arifin meninggal). Proses masih jalan di tangan kepolisian," lanjutnya.
Sebelumnya, Polres Jakarta Utara memanggil Kelasi Albert, anggota TNI AL, menjadi saksi dalam kasus penganiayaan hingga menyebabkan tewasnya Kelasi Arifin oleh sekelompok pengendara motor di Jalan Benyamin Sueb, Jakarta Pusat, 31 Maret 2012 lalu.
Namun, pemeriksaan terhadap Albert selalu gagal. Pasalnya, hingga kini saksi kunci tersebut belum pernah memenuhi panggilan kepolisian meskipun polisi telah melayangkan surat pemanggilan kedua.
Dalam kasus ini, polisi sudah membekuk satu orang tersangka dalam kasus itu, yakni JRR (21), warga Koja, Jakarta Utara. Polisi menduga ada lebih dari 10 orang pelaku yang mengeroyok JRR dan kini masih dikejar aparat kepolisian."Penimbunan berhasil diungkap dari sebuah gudang di kawasan Dadap Kabupaten Tangerang. Jumlahnya mencapai 2,7 ton BBM berjenis solar," kata AKP Endang Sukma Wijaya, Kapolsek Teluk Naga, saat penggerebegan berlangsung, Senin 16 April 2012.
Polisi mengamankan 7 orang pelaku, setelah sebelumnya mencurigai salah seorang yang membeli BBM bersubsidi jenis solar menggunakan 6 buah jeriken berulang-kali.
"Petugas mencurigai seorang pelaku, tukang ojek, yang membeli BBM bersubsidi menggunakan beberapa jerigen berkali-kali, hingga dipindahtangankan ke dalam drum besar di tempat penampungan mereka," ujarnya.
Ditambahkannya, dari pengakuan pelaku rencananya solar tersebut akan dijual secara eceran kepala para nelayan yang ada di Kampung Dadap Kosambi kabupaten Tangerang. BBM itu akan dilepas jika harga melonjak nanti. "Pangsa mereka adalah nelayan, yang nantinya akan dijual eceran saat harga Solar melonjak," ujarnya.
Atas perbuatannya ketujuh pelaku diancam dengan Pasal 55 UU No 22 tahun 2001 tentang Migas, dengan ancaman 6 tahun penjara.
Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional yang juga Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa, mengatakan gerombolan yang disebut geng motor itu sangat merusak. Baginya, itu adalah tantangan pihak keamanan dalam hal ini adalah polisi.
"Saya kira geng motor sangat destruktif, tidak mendidik dan merusak. Itu harus ditertibkan," kata Hatta saat ditemui di kawasan Kalibata, Jakarta, Minggu, 15 April 2012.
Tidak hanya fisik, Hatta mengemukakan, tindakan brutal yang mereka lakukan juga dapat merusak mentalitas generasi muda. Seharusnya, masa-masa muda akan jauh lebih bernilai jika digunakan untuk kegiatan-kegiatan positif.
"Program pendidikan kewirausahaan jauh lebih baik. Ini dapat membuat anak-anak berpikir positif dan melakukan tindakan-tindakan yang produktif," katanya.
Lalu, bagaimana tanggapannya dengan isu yang menyebut bahwa salah satu geng motor itu adalah dari oknum TNI? "Saya tidak mau berspekulasi, biar aparat saja yang menyelesaikan," katanya. (art)
Jakarta Aksi geng motor di Jakarta membuat geger. Yang terbaru, sekelompok pria dengan pita kuning dan diduga oknum TNI berkonvoi sepanjang Jakarta Utara dan Jakarta Pusat. Mereka mencari geng motor yang telah membunuh rekan mereka.Namun, aksi geng motor pita kuning ini berujung pada kekerasan. Seorang pemuda bernama Anggi Darmawan (19) meninggal dunia karena dibacok di kepalanya di Jl Pramuka pada Jumat (13/4/2012) dini hari.
Bagaimana rentetan kisah geng motor ini terjadi? Berikut kronologinya:
Minggu 31 Maret 2012
Kelasi Arifin yang tengah mengawal sebuah truk tangki menjadi korban aksi geng motor di kawasan Jl Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakpus. Saat itu Arifin menegur kelompok geng motor yang menghalang-halangi truk yang tengah melaju. Arifin malah dikeroyok dan ditusuk dengan sangkur hingga tewas
"Awalnya karena Arifin menegur kelompok bermotor yang menghalangi sebuah truk," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto.
Sedang menurut Kadispen TNI AL Laksamana Pertama Untung, Kelasi Arifin saat itu berupaya menyelamatkan truk yang hendak dibajak geng motor.
"Tapi malah dituduh yang tidak-tidak oleh kelompok yang merasa terusik, malah dianiaya," jelas Untung.
Sabtu 7 April 2012
3 Remaja dikeroyok oleh sekelompok pria bermotor di SPBU Shell, Jalan Danau Sunter, Kemayoran, Jakarta Utara. Korban tewas bernama Soleh (17), sementara korban luka berat bernama Zaenal (18) dan Reza (19). Keduanya mengalami luka tusuk dan masih dalam perawatan rumah sakit.
Berdasarkan rekaman CCTV di SPBU Shell yang diperoleh detikcom, tergambar bagaimana 15 orang lebih pria berbadan tegap dan berambut cepak mengeroyok para korban. Diduga pelaku pengeroyokan oknum TNI yang marah atas terbunuhnya Kelasi Arifin. Hingga seminggu kasus berjalan, pengeroyok tak juga dibekuk polisi. Namun TNI AL membantah aksi di SPBU Shell dilakukan anggotanya
"Kita langsung konfirmasi ke Polsek Kemayoran dan TNI AL, katanya tidak tahu (ada anggota TNI AL terlibat). Malah mereka menjelaskan kalau itu perselisihan antar geng motor," kata Untung.
Minggu 8 April
Geng motor menyerang 4 pemuda di Kemayoran yaitu Muhamad Syarif luka sobek sebelah mata kanan (dibawa ke RS Islam), Mul luka sobek punggung kiri, Fajri Cesar sobek punggung kanan dan Reza Palupi luka tusuk di punggung (dibawa ke RSCM) dan 1 motor Yamaha Cripton B 3186 PX dibakar.
Senin 9 April 2012
Pria yang diduga anggota geng motor dan menjadi pelaku pengeroyokan atas Kelasi Arifin, Joshua Raynaldo Radja (21), warga Rawa Badak Utara Kecamatan Koja, Jakarta Utara ditangkap. Polisi baru mengumumkannya hari ini, Jumat (13/4).
Jumat 13 April 2012
Geng motor berpita kuning yang diduga anggota TNI kembali melakukan sweeping. Mereka diduga mencari pelaku yang mengeroyok Kelasi Arifin. Dalam aksinya dini hari ini, Anggi meninggal dunia karena dibacok.
Memulai aksi di Priok berlanjut ke Warakas di Jakarta Utara, geng pita kuning ini bahkan 2 kali menyerbu 7-Eleven di Salemba, Jakpus. 2 Korban berjatuhan yakni Ade Kirmawan dan Robi, pengunjung minimarket yang mengalami luka bacok. Kemudian geng pita kuning yang berjumlah 200-an orang ini kembali ke Priok.
Di tengah perjalanan, 2 anggota konvoi ditembak pengemudi Toyota Yaris putih. 2 Orang itu dirawat di RSPAD dan RS Mintohardjo.
Kadispen TNI AL Laksamana Pertama Untung Suropati membenarkan adanya dua anggota TNI yang tertembak di Jalan Raya Pramuka dini hari tadi. Pihaknya menyerahkan sepenuhnya penyelidikan kasus tersebut ke aparat polisi.
Untung mengatakan penembakan itu terjadi sekitar pukul 02.30 WIB. Disebutkan dia, dua korban luka tembak yakni Kelasi Sugeng Riyadi, anggota Lafial mengalami luka tembak pada telinga kanannya. Korban lainnya yakni anggota Yonif Linud 503 Kostrad Prada Akbar Fidi Aldian, mengalami luka tembak pada dada sebelah kanan dan tembus ke punggung.
Menyikapi kasus geng motor ini, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Untung S Rajab pun sudah menghubungi Panglima Komando Armada Kawasan Barat (Pangarmabar) Laksamana Muda (Laksda) TNI Didit Herdiawan dan Kepala Staf TNI AL Laksamana Soeparno.
"Tadi pagi saya telepon KSAL, kemarin juga ke Pangarmabar, kita akan tangani bersama apabila itu dari pihak tertentu, dari TNI kita tindak bersama," jelas Untung.
sumber:detik.com
Si cewek merupakan siswi kelas dua SMP berusia 14 tahun. Sedangkan pacarnya merupakan sopir angkot berusia 18 tahun. Informasi di kepolisian, keduanya tertangkap tangan melakukan hubungan suami istri, Kamis (12/4/2012) tengah malam.
"Perbuatan keduanya diketahui penjaga warnet dan dilaporkan ke polisi," kata Kapolsek Pancoran Mas Kompol Agus Salim kepada detikcom di kantornya, Jalan Raya Sawangan, Depok, Jumat (13/4/2012).
Awalnya, peristiwa itu sempat diproses sebagai kasus perkosaan, sehingga aparat sempat menahan si cowok. Namun setelah diperiksa polisi lebih teliti, si cewek mangaku tidak diperkosa, namun berdasarkan suka sama suka.
"Mereka sudah sering melakukan hungungan itu sebelumnya," ujar Agus.
Tadi pagi, Jumat (13/4/2012), kedua remaja itu diserahkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Depok. Di tempat itulah, keluarga kedua belah pihak berdamai dan siap menikahkan kedua remaja tersebut.
sumber: detik.com
"Tadi pagi saya telepon KSAL, kemarin juga ke Pangarmabar, kita akan tangani bersama apabila itu dari pihak tertentu, dari TNI kita tindak bersama," jelas Untung di Mapolda Metro Jl Sudirman, Jakarta, Jumat (13/4/2012).
Bukan hanya dengan pimpinan TNI AL saja, Untung juga melakukan koordinasi dengan melakukan kerjasama dengan Garnisun, Pomal, dan Armabar guna mengidentifikasi dan mencari pelaku.
"Ini masih lidik, semua kemungkinan kita lakukan koordinasi pada siapa saja," ujarnya.
Gerombolan pemotor pada Kamis malam hingga Jumat dinihari berkonvoi dari Jakarta Utara ke Jakarta Pusat. Berbagai insiden terjadi, seperti pemukulan pada sejumlah orang hingga menyebabkan seorang tewas, pembakaran motor, hingga perampasan ponsel di 7-Eleven Salemba.

Jakarta Geng motor pita kuning membuat resah masyarakat dengan serangkaian aksinya di Jakarta. Intelkam Polri harus mengusut tuntas siapa aktor intelektual dibalik geng motor pita kuning tersebut.
"Intelkam Polri harus dapat mengusut aktor intelektual dibalik gerakan anarkisme gank motor tersebut. Jangan sampai ada kekuatan tertentu yang menggerakan aksi tersebut untuk tujuan menciptakan instabilitas nasional," ujar anggota Komisi III DPR Achmad Basarah kepada detikcom, Jumat (13/4/2012).
Basarah mengatakan sebagai sebuah bangsa yang besar harus patut prihatin dan harus mawas diri. Berbagai aksi kekerasan oleh kelompok-kelompok masyarakat tertentu memang seakan sudah menjadi bagian dari budaya bangsa akhir-akhir ini.
"Fenomena kekerasan oleh organisasi geng motor mulai marak dan ikut menambah daftar perbuatan kekerasan oleh kelompok masyarakat kita. Polisi sebagai alat negara yang bertugas dan berwenang melakukan pengayoman dan perlindungan masyarakat harus responsif dan punya pola yang tepat menghadapi berbagai aksi kekerasan tersebut," jelas Wasekjen PDIP ini.
Basarah menyayangkan sikap Polri yang tidak responsif menangani aksi kekerasan yang dilakukan oleh geng motor pita kuning tersebut yang secara aktraktif melakukan kekerasan dan penganiayaan dalam satu malam di berbagai tempat di ibu kota negara.
"Patut diduga berbagai aksi kekerasan di tengah masyarakat kita akhir-akhir ini dilakukan sebagai upaya untuk merongrong kredibilitas Polri karena kemudian Polri dianggap tidak lagi mampu menjaga keamanan dalam negeri," tutupnya.
Sebelumnya beredar kabar aksi keberutalan sekelompok pria bermotor di 7-Eleven dan Jl Pramuka Raya yang menyebabkan korban tewas, Anggi Darmawan (19), adalah anggota TNI AL. 200-an oknum TNI ini beraksi karena hendak mencari anggota geng motor yang telah membunuh rekannya, Kelasi Arifin, pekan lalu.
Saat konvoi anggota TNI ini melintas di Jl Pramuka Raya, 2 di antaranya terkena tembakan timah panas.
Kapen Kostrad Letkol Albiner Sitompul membenarkan ada anggota TNI yang tertembak. Namun Albiner mengaku tidak mengetahui penyebab tertembaknya kedua anggota TNI tersebut.
"Anak buah ketembak memang ada. Lagi dikembangkan. Orangnya masih sakit. Tunggu dulu," jelasnya.
Kapolda Metro Jaya Irjen Untung S Radjab menelepon Panglima Komando Armada Kawasan Barat (Pangarmabar) Laksamana Muda (Laksda) TNI Didit Herdiawan dan Kepala Staf TNI AL Laksamana Soeparno untuk meredam kekerasan oleh geng motor yang diduga dari unsur TNI AL tersebut.
sumber: detik.com





