Berdasarkan informasi, laki-laki yang nekat membakar diri di persimpangan antara Jalan Majapahit dan Jalan Gajah Raya, Sabtu dini hari itu bernama Ari Wibowo (34) warga Jalan Kanguru, Semarang.
Salah seorang saksi mata, Ani (46) mengaku melihat pelaku berjalan kaki sesaat sebelum kejadian sambil membawa dua bungkusan plastik.
"Badannya langsung diguyur pakai salah satu plastik, kemungkinan isinya bensin," katanya.
Ia menuturkan pelaku diduga stres karena ibunya sakit.
"Informasi tetangganya, pelaku stres karena ibunya sakit," tambahnya.
Menurut dia, api yang membakar tubuh korban dipadamkan oleh sejumlah warga yang melintas di sekitar lokasi kejadian.
Oleh warga, pelaku kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Dr.Kariadi Semarang dengan menggunakan angkutan umum.
Sementara itu, menurut salah seorang polisi yang ada di lokasi kejadian, luka bakar korban cukup parah.
"Pakaiannya sudah terbakar habis, kulitnya terkelupas," katanya.
Ganjar menyatakan selama ini Tedjo dikenal sebagai kader PDIP dan aktif dalam rapat-rapat di partai berlambang banteng itu. Tapi belakangan Tedjo diketahui justru berkampanye untuk Prabowo-Hatta. “Kalau memang tidak cocok dengan PDI Perjuangan, silakan keluar. Berikan keterangan secara transparan,” kata Ganjar, Ahad, 29 Juni 2014.
Gubernur Jawa Tengah ini mengaku terkejut atas sikap Tedjo mendukung Prabowo-Hatta. Dia mengaku belum tahu alasan Tedjo membelot ke kubu capres lain dan tidak mendukung capres yang diusung PDIP, yakni Joko Widodo-Jusuf Kalla.
Menurut Ganjar, perbedaan pilihan politik merupakan hal yang biasa. Tapi pilihan politik harus dideklarasikan secara terbuka agar publik tahu sikap pemimpinnya. "Bagusnya dia declare, terima kasih pada PDIP, tapi hari ini saya (Tedjo) mendukung ini. Terbuka kan enak," katanya.
Pada 2011, Sutedjo Slamet Utomo yang berpasangan dengan Hadi Supeno menang dalam pilkada Banjarnegara. Pasangan ini diusung gabungan partai, yakni Golkar, PDI Perjuangan, PPP, PKS, Gerindra, PKNU, Hanura, PBR, dan PPRN.
http://www.tempo.co/read/news/2014/06/29/078588916/Membelot-Bupati-Sutedjo-Diminta-Keluar-dari-PDIP
Beberapa anggota TPF yang di pimpin ketua TPF Edi Lukito, SH mendatangi institusi Negara yang menyangkut pelanggaran yang dilakukan oleh oknum anggota Polri di Polresta Solo. Anggota TPF Solo yang ikut hadir mendampingi adalah adalah Sholeh Ibrahim, S. Th, I, Endro Sudarsono, S. Pd, Agus Junaedi dan Dulrahman.
Aduan pertama kali disampikan ke Komnas HAM Jakarta dan diterima oleh Dian Nan Sulistyowati bagian Aduan Komnas HAM. Edi Lukito, SH menjelaskan kasus penganiayaan dan atau pengeroyokan yang dilakukan oleh anggota Polres Solo pada saat penangkapan hingga berada di Polres Solo terhadap Khuzaimah alias Jaim, Susilo dan Haedar.
Berbagai jenis kekerasan seperti pemukulan, mencabuti jenggot, menyetrum, memanasi kemaluan dengan korek api, dicaci maki, hingga tidak boleh sholat jumat. TPF meminta Komnas HAM agar untuk melakukan pemeriksaan terhadap anggota yang terlibat dalam penganiayaan/penyiksaan di Polres Solo serta menyampaikan hasil pemeriksaan kepada masyarakat, korban, maupun pihak terkait. Laporan TPF Solo akhirnya diterima dan diregister nomer 92.317 dibagian Sup Pengaduan dan pemilahan Pengaduan Komnas HAM. TPF berharap Komnas HAM membentuk Tim Investigasi untuk melakukan penyelidikan dugaan Pelanggaran HAM yang terjadi di Polres Solo Jawa Tengah. Memberikan pencerahan untuk melakukan tugas kepolisian yang professional di lapangan dengan menjunjung tinggi nilai Hak Asasi Manusia
Siangnya sekitar pukul 13.00 TPF Solo melaporkan Kekerasan di Polres Solo ke Mabes Polri. Di Mabes Polri awalnya diterima bagian Propam karena pelaku adalah oknum polisi, namun karenan alamat surat ditujukan ke Kapolri maka dari Renmin Propam Mabes Polri mengarahkan surat agar disampaikan Sekretariat Umum (Setum) agar bisa dibaca langsung oleh Kapolri.
Tuntutan TPF di Mabes Polri adalah mengganti personal polisi yang lebih baik dan memberi sanksi bagi yang terlibat. Mengusulkan pergantian pimpinan ditingkat Kapolres yang saat ini dijabat Kombes Iriansyah dan kasat Reskrim yang dijabat Kompol Guntur Saputra. Menurut TPF Solo kejadian beruntun dalam waktu yang tidak lama terhadap 3 orang dalam kasus yang berbeda mengindikasikan bahwa pola kekerasan sudah menjadi tradisi dan budaya di Polres Solo. Motif kekerasan terhadap aktivis amar makruf nahi mungkar harus diungkap.
Setelah dari Mabes Polri, TPF Solo juga melaporkan dugaan penyalahgunaan kewenangan, pelayanan buruk yang dilakukan Polres Solo ke Kompolnas Jakarta. Aduan TPF Solo diterima Edi Sudrajat bagian aduan Kompolnas dan akan meneruskan ke Purnomo selaku Komisioner Jawa Tengah. (azm/hendro/arrahmah.com)
http://www.arrahmah.com/news/2014/05/19/tpf-laporkan-penyiksaan-di-polres-solo-ke-komnas-ham-mabes-polri-dan-kompolnas.html
Sehari kemudian pria yang akrab disapa Rudy tersebut berubah beralasan. Keputusanya tersebut dilakukan karena isu santer akan diangkatnya Puan Maharani sebagai cawapres Joko Widodo (Jokowi).
Namun saat wartawan kembali mendesaknya, Rudy mempunyai alasan lain. Kepada para awak media Rudy mengaku kecewa dengan partai pimpinan Megawati Soekarnoputri tersebut.
"Saya kecewa terhadap partai. Ada orang-orang yang ingin memecah belah kesolidan PDIP. Orang-orang tersebut berusaha menyusupkan paham kapitalisme ke dalam PDIP," ujar Rudy di Solo, Minggu (18/5).
Tak hanya itu, Rudy menuduh saat ini ada orang-orang PDIP yang dinilai bersikap otoriter dan memaksakan kehendak. Namun saat ditanyakan nama, Rudy menolak menyebutkannya.
"Memangnya mereka itu siapa, kok bisa semena-mena seperti itu. Saya sudah muak dengan perilaku pengurus yang justru memecah belah PDIP," tegasnya.
Rudy menyatakan pengunduran dirinya sebagai pembelajaran kepada mereka yang ingin mengerdilkan kembali PDIP. Rudy membantah jika pengunduran dirinya tersebut hanya mencari sensasi dan popularitas.
"Saya ini 38 tahun menjadi kader PDI dan PDIP. Darah saya ini merah, saya tidak pernah meminta jabatan, uang atau pekerjaan. Saya hanya ingin mengabdi ke masyarakat lewat partai," katanya.
Meski menyatakan mundur sebagai Ketua DPC PDIP Solo, Rudy menegaskan tidak akan pindah ke partai lain.
"Saya siap membantu memenangkan Jokowi dan pasangan cawapresnya di pemilu presiden, asalkan tidak berpasangan dengan Puan," pungkasnya.
https://id.berita.yahoo.com/rudy-saya-muak-perilaku-pengurus-yang-justru-memecah-120400339.html
Pernyataan sikap untuk ikut mundur itu disampaikan oleh ratusan pengurus PDIP di Solo. Mereka yang menyatakan adalah seluruh pengurus DPC, pengurus PAC, pengurus ranting, pengurus Satgas dan Posko, Divisi Perempuan, Divisi Hukum, dan juga semua caleg dari PDIP.
Mereka berharap Rudy mengurungkan niatnya untuk mundur. Namun jika Rudy tetap pada keputusannya dan Megawati Soekarnoputri mengijinkan pengunduran diri itu maka mereka menegaskan akan ikut mengundurkan diri.
Rudy telah menyatakan akan mundur dari Ketua DPC PDIP Kota Surakarta dengan alasan merasa gagal memimpin partai. Selain itu dia juga menyatakan tidak bersedia mendukung capres dan cawapres dari PDIP dan siap menerima sanksi seberat apapun dari partai jika cawapres yang diajukan adalah Puan Maharani.
Rudy yang hadir terlambat dalam acara tersebut menyampaikan tetap bulat akan mundur jika PDIP tetap mengajukan Puan Maharani. Dia bertekad tetap akan memenangkan capres dari PDIP dengan target di atas 76 persen suara di kota Solo. Jika tidak tercapai maka dia sudah bulat untuk mengundurkan diri sebagai bentuk tanggung jawabnya.
http://news.detik.com/pemilu2014/read/2014/05/19/002649/2585287/1562/rudy-berencana-mundur-seluruh-pengurus-pdip-di-solo-siap-mengikuti?993305
Hal tersebut terbukti dari banyaknya pengunjung dari berbagai daerah di sekitar Kudus, semisal Jepara, Pati, Rembang, dan Demak. Selain itu, juga banyak rombongan menggunakan bus pariwisata dari seantero Jawa-Madura yang ketika rombongan ziarah Walisongo sengaja mengatur jadwal agar sampai di kota Kudus pada Jumat dini hari.
Ulama Kudus yang dikategorikan sebagai “Kiai Tanpa Pesantren” oleh Kepala Puslitbang Penda Balitbang Diklat Kemenag RI Prof Abdurrahman Mas’ud PhD ini termasuk kias khos yang duduk di Mustasyar PBNU. Ketika berkunjung ke Kudus, kontributor NU Online Musthofa Asrori didampingi seorang pengurus Mutakhorrijin Qudsiyyah yang di Semarang (Maqdis) berkesempatan wawancara khusus dengan Mbah Sya’roni di kediamannya pada Sabtu, (19/4) sore.
Bagaimana pandangan Ke-NU-an dan pemikiran kiai flamboyan penggila bola yang hafal nama-nama pemain bola mancanegara ini? Berikut cuplikan wawancara singkat NU Online dengan guru besar Qiraat Sab’ah (Bacaan Tujuh) yang juga hafal Alquran 30 juz itu.
Bagaimana pandangan Mbah Sya’roni tentang NU masa kini?
Kembali kepada khittah, pandangan secara umum NU sudah baik. Cuma sepeninggal Kiai Sahal, khittah-nya jadi agak kurang. Kalau Kiai Sahal kan khittah-nya kencang. Meski demikian, sekarang lumayan bagus setelah Gus Mus bersedia maju. Saya berpikir, daripada yang lain masih mendingan Gus Mus.
Mengapa begitu, Kiai?
Jadi, waktu menanggapi masalah Pemilu dan soal caleg-caleg DPR itu sikap Gus Mus sudah tepat. Beliau menganjurkan warga NU supaya ikut mencoblos, karena ini adalah tugas kita sebagai warga negara Indonesia tiap lima tahun sekali.
Tapi, saya sendiri waktu nyoblos itu ya ndak bisa sendirian, mas. Jadi, saya pamit (baca: izin) kepada panitia pemilu bahwa pendengaran saya sudah berkurang, saya masuk TPS boleh ndak ditemani cucu saya? Kalau ndak boleh saya pulang. Lalu, petugas menjawab. Oo.. boleh, Pak. Lalu, saya buka empat lembar saya pilih nomor ini mana begitu. Jadi, saya di(boleh)kan nyoblos.
Memangnya usia Mbah yai sekarang berapa?
Kulo nembe wolu gangsal (saya baru 85 tahun). Makanya, tadi saya bilang ke sampean kalau saya diajak komunikasi itu kurang jelas.
Dokter saya pribadi, Dokter Zakir, suatu hari duduk di ruang kerjanya. Lalu, saya bilang: Kir, ini pendengaran saya kok kurang banget. Oo.. itu normal, Pak. Lho, normal gimana? Kalau orang setua bapak pendengarannya masih tajam berarti nggak normal. (Mbah Sya’roni tertawa terkekeh-kekeh).
Nah, kembali ke NU, Mbah. Bagaimana pandangan dan saran Mbah Sya’roni bagi kepengurusan PBNU yang sekarang dipimpin Gus Mus?
Ya, harus ala Gus Mus. Tidak bisa ala Kiai Sahal. Gus Mus kan bisa membat mentul (baca: bermanuver). Kalau Kiai Sahal kan kencang. Gus Mus bisa menggak-menggok sithik (belak-belok sedikit). Udah itu saja cukup.
Mbah Sya’roni ingin mengatakan Gus Mus luwes?
Luwes bagi orang-orang yang senang, yang kurang senang nyebutnya very very coloso (nyerempet-nyerempet bahaya). Hahaa.. Tapi ya itu tadi, Gus Mus masih bagus dari yang lain.
Nasehat Mbah Sya’roni kepada generasi dan kader muda NU? Khususnya menyambut 100 tahun NU pada 2026.
Yang penting, kita harus kuat ke-NU-annya. Sebetulnya, NU dan Muhammadiyah (itu) sama. Nanti saya beri keterangan (baca: penjelasan). Jadi, Mbah Hasyim dan Mbah Dahlan waktu masih santri mondoknya di tempat Mbah Kiai Sholeh Darat Semarang. Bahkan hingga ke Mekah, beliau berdua juga nyantri bareng. Oleh karena itu, pandangan Kiai Dahlan sama dengan NU.
Saya punya kitab fiqih karangan Kiai Dahlan. Di kitab jilid tiga halaman 50 beliau menjelaskan fatwa penting dalam Bahasa Daerah. “Sholat Tarawih yoiku sholat rong puluh rokaat, saben-saben rong rokaat kudu salam. Wektune ono ing sasi poso sak wuse saben-saben sholat Isya’.” (Sholat Tarawih itu adalah sholat 20 rekaat, tiap-tiap dua rekaat harus salam. Waktunya di bulan puasa setelah sholat Isya’). Lho.. Kan jelas tho..
Masih ada banyak lagi yang bisa dipelajari dari Kitab Fiqih karya Mbah Dahlan ini. Nah, yang ‘nakal’ itu murid Kiai Dahlan yang namanya Kiai Mas Mansur dari Surabaya. Jadi, setelah itu (baca: sejak Mas Mansur jadi Ketua Umum Muhammadiyah) ada perubahan-perubahan. Dia bikin yang namanya Majlis Tarjih. Lalu, keputusannya antara lain rekaat sholat Tarawih yang 20 dengan dengan yang delapan rekaat itu lebih baik yang delapan. Jadi, ditarjih. Nah, yang baru-baru justru mengatakan yang 20 rekaat itu bid’ah dhalalah.
Kiai Mas Mansur bilang, ini organisasi bukan organisasi Dahlaniy, tapi Muhammadiyah.
Lalu, bagaimana sikap kita terhadap mereka dan golongan lainnya?
Jadi begini, suatu ketika, datang orang ke rumah. Lalu bercerita, bahwa di Mekah imamnya ketika jamaah Maghrib, Isya’, dan Shubuh tidak membaca Basmalah. Saya tanya, memang sampean nggak denger? Iya, saya tidak mendengarnya. Langsung saya jawab, malah mereka kalau sholat Dhuhur dan Ashar tidak membaca Fatihah. Lha kok bisa, Kiai? Ya karena saya tidak mendengarnya. Nah, jadi tidak mendengar digunakan dalil untuk menyebut tidak baca.
Terima kasih atas nasehat dan petuahnya, Mbah. Mohon doanya..
Iya, sama-sama. Tugas kalian sebagai anak muda NU meneruskan pencarian kitab-kitab Fiqih karya Mbah Dahlan tersebut untuk meng-NU-kan orang-orang Muhammadiyah.
http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,5-id,52041-lang,id-c,halaqoh-t,Mbah+Sya+rsquo+roni++NU+dan+Muhammadiyah+itu+Sama-.phpx
Pengamat Politik dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Agus Riewanto mengatakan Rudy seharusnya menyelesaikan dulu tugasnya untuk menggerakkan massanya pada Pilpres mendatang.
"Waktunya tidak tepat. Seharusnya dilakukan seusai pelaksanaan pilpres," ujar Agus, saat dihubungi wartawan, Sabtu (17/5) kemarin.
Agus menilai, selama ini Rudy sangat solid dalam menjalin hubungan dengan para kadernya di Solo. Jika Rudy benar-benar mundur akan berpengaruh pada massa PDIP di Solo.
Terkait penolakan Rudy terhadap Puan Maharani sebagai cawapres pasangan capres Jokowi, Agus menilai Rudy telah mempertimbangkannya. Pasalnya cawapres sangat mempengaruhi tinggi rendahnya elektabilitas pasangannya.
"Jika memang DPP PDIP benar menetapkan Puan Maharani sebagai cawapres untuk Jokowi hasilnya fifty-fifty," katanya.
Sebelumnya, FX Hadi Rudyatmo (Rudy) mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Ketua DPC PDIP Kota Solo. Surat pengunduran diri pria yang saat ini menjabat sebagai Wali Kota Solo tersebut baru akan dikirim kepada Ketua Umum DPP PDIP , Ketua DPD DPP PDIP Jawa Tengah, dan pengurus DPC PDIP Solo, setelah pendeklarasian cawapres pasangan Jokowi.
Mundurnya Rudy sempat menimbulkan pertanyaan dari berbagai kalangan. Sebab sehari sebelumnya, Rudy mendapatkan kunjungan capres PDIP , Jokowi, di Rumah Dinas, Loji Gandrung. Banyak pihak berspekulasi, Rudy kecewa dengan Jokowi, atau sebaliknya, Rudy akan mendapatkan tugas yang lebih besar untuk memenangkan pilpres 2014.
"Tidak benar itu, pengunduran diri saya tidak ada kaitannya dengan pilpres, atau kedatangan Jokowi. Saya tidak ada kekecewaan apapun dengan DPP atau Pak Jokowi. Justru sebagai kader partai, saya siap untuk memenangkan Pak Jokowi memimpin republik ini," ujar Rudy, saat ditemui wartawan, di kantornya, Jumat (16/5).
Didesak mengenai alasan pengunduran dirinya, Rudy mengaku, itu akibat kegagalannya dalam bekerja di partai. Tak terpilihnya caleg-caleg provinsi asal Solo, membuat dirinya merasa gagal.
"Sudah 3 periode ini tahun 2004, 2009 dan tahun 2014, saya gagal mengantarkan kader PDIP Solo menjadi anggota DPRD Jateng. Padahal daerah lain (Sukoharjo, Boyolali) setiap pileg selalu dapat," katanya.
Yaitu dengan menggelar pesta rakyat. Hal ini dibuktikan dengan rencana perayaan yang dulunya dipopulerkan oleh Jokowi (saat ini Gubernur DKI) di pelantikan Hendrar Prihadi, sebagai Wali Kota Semarang, 21 Oktober mendatang.
“Ini (pesta rakyat) sah-sah saja dan bisa jadi budaya baru,” kata sekretaris DPC PDIP Kota Semarang, Supriyadi, Jumat (11/10).
Ia tak memungkiri pesta rakyat itu merupakan budaya baru yang dibawa partainya yang diawali saat Joko Widodo dilantik sebagai gubernur DKI. Hal itu juga dilakukan saat Ganjar Pranowo dilantik menjadi Gubernur Jawa Tengah beberapa bulan lalu.
“Pesta rakyat itu agar pimpinan dekat dengan rakyat, tidak melupakan perannya sebagai pengayom rakyat,” kata Supriyadi.
Supriyadi tak menolak anggapan bahwa kegiatan pesta rakyat saat pelantikan ketua DPC partainya sekaligus untuk pencitraan. Ia menegaskan, sikap itu dilakukan sekaligus untuk kepentingan masyarakat luas.
Meski untuk mendekatkan rakyat, pesta rakyat yang hendak digelar tak disetting adanya kontrak politik. Menurut Supriyadi kontrak politik sudah dilakukan saat Pilwakot 2010 lalu.
Sementara Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris DPRD Kota Semarang, Amin Sutrisno menyatakan, panitia pelantikan menyediakan anggaran Rp 394 juta untuk menjamu tamu undangan dalam pesta rakyat.
“Tamu undangan di dalam ruang paripurna 800 orang, sedangkan di luar mencapai 1500 orang,” kata Amin Sutrisno.
Menurut Amin, selain mengundang pejabat publik dari pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Kota Semarang, panitia juga mengundang masyarakat umum. Khususnya dari tokoh masyarakat dan perwakilan organisasi kemasyarakatan.
“Pesta rakyat itu dilakukan usai prosesi pelantikan,” kata Amin menambahkan.
Panitia telah menyiapkan 4.500 porsi makanan dengan 9 jenis menu yang hendak disajikan di halaman Balai Kota Semarang. Selain itu juga disiapkan panggung pagelaran seni campur sari untuk menghibur para tamu.
Amin membantah kegiatan pesta rakyat itu atas permintaan Hendrar Prihadi yang hendak dilantik sebagai wali kota, namun inisiatif bersama antara dewan dan Pemerintah Kota Semarang.
“Rakyat Semarang pemilik legitimasi pemerintahan daerah, wajar bila dilibatkan,” tandasnya.
sumber : http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2013/10/11/175404/-Pesta-Rakyat-Jadi-Budaya-Baru-PDIP

TRIBUNJOGJA.COM, SEMARANG - Istri wali kota Salatiga, Titik Kirnaningsih pingsan begitu menerima surat perintah penangkapan yang disodorkan penyidik Direktorat Reserse dan Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah di rumahnya di Salatiga pada Senin (16/4) sekitar pukul 09.30. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Salatiga yang menjadi tersangka kasus korupsi Jalan Lingkar Selatan (JLS) Salatiga yang merugikan negara Rp 12,23 Miliar itu pun langsung dirujuk ke RS Bhayangkara di Jl Majapahit No 140 Gayamsari Semarang setelah dokter RSU Salatiga menyarankannya.
"Sekitar pukul 11.00, dokter datang ke rumah. Lalu ibu (Titik) dibawa ke RSU Salatiga baru ke sini (RS Bhayangkara)," kata kuasa hukum tersangka Heru Wismanto di lobi Instalasi Gawat Darurat (IGD), Senin (16/4/2012) sore.
Sekitar pukul 16.30, ada dua mobil memasukki area RS Bhayangkara yaitu sebuah toyota Camry hitam berplat H 7788 ZB yang merupakan mobil dinas wali kota Salatiga diikuti ambulance. Ternyata Titik tidak berada di ambulance melainkan di dalam camry. Mereka tidak menuju ke IGD, justru menuju kantor Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Jateng yang berada dalam satu kawasan.
Titik yang mengenakan kemeja putih dan celana hitam modis dengan infus di tangannya langsung menuju lantai dua kantor Bidokkes. Bukannya masuk ke ruang pemeriksaan, Titik yang didampingi suaminya, Yulianto, dan ajudannya malah menuju ke dapur. Menghindari sorotan kamera wartawan. "Kasihan, kasihan, di tangannya ibu ada infusnya lho," kata perempuan yang ikut dalam rombongan tersebut.
Sekitar lima menit mereka di dalam, tiba-tiba terdengar suara "klotak" seperti benda jatuh. Rupanya Titik kembali pingsan untuk kedua kalinya. suaminya yaitu Yulianto, petugas Bidokkes dan penyidik langsung keluar dari dapur. Mereka membopong tubuh Titik menuruni tangga. Menuju ruang IGD RS Bhayangkara.
Titik adalah tersangka proyek JLS yang dilakukan di Salatiga pada 2008. Saat itu Titik yang menjabat sebagai direktur PT Kuntjup mengikuti tender bersama PT Kadi International senilai Rp 49, 21 Miliar. Hasil audit BPKP Jateng menunjukkan ada kerugian negara senilai Rp 12,23 Miliar pada proyek sepanjang 6,5 kilometer.
Heru Wismanto mengatakan pihaknya akan mengikuti semua prosedur hukum yang berlaku. Dia juga tidak akan melalukan langkah apapun dalam arti lain pihaknya akan kooperatif. Terkait surat perintah penangkapan, sebenarnya tidak berlaku saat itu juga melainkan 24 jam. Ia mengira karena Titik kelelahan pulang dari penataran di Jakarta dan lelah pikiran mengakibatkan tubuhnya drop hingga pingsan.
Terkait dengan langkah penahanan setelah penangkapan pihaknya akan melihat perkembangan terlebih dahulu. Ia akan menunggu kondisi kliennya itu pulih. Setelah ada perintah penahanan baru pihaknya akan memikirkan langkah selanjutnya, apakah akan mengajukan permohonan penangguhan penahanan atau tidak. "Lihat nanti dulu," imbuhnya.
Adapun suasana IGD RS Bhayangkara hingga Senin (16/4) sore hingga masih didominasi oleh pihak penyidik maupun tim pengacara tersangka. Wali kota Salatiga Yulianto turut mendampingi istrinya di dalam ruang IGD. Sejak masuk, orang nomor satu di kota Salatiga itu tidak keluar. Sementara rombongan yang lain memilih untuk duduk-duduk di sekitar ruang IGD. Sopir mobil Camry pun memilih untuk tidak berkomentar ataupun bercerita tentang siapa yang ada di dalam camry dan kondisi Titik sepanjang perjalanan dari Salatiga ke Semarang. "Saya ndak tahu apa-apa," ucapnya sembari menunggu mobil dinas wali kota.
Dihubungi terpisah, Asisten Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jateng Ali Mukartono mengaku sudah siap menerima limpahan berkas tahap kedua yaitu tersangka dan barang bukti. Tetapi untuk waktunya pihaknya hanya tinggal menunggu penyidik Polda untuk melimpahkan. Setelah itu barulah pihaknya menyusun rencana dakwaan untuk proses persidangan.
"Mengenai kapan penyerahan tahap kedua, pihak kejaksaan dalam posisi menunggu," jelasnya. (*)
|
KUDUS (KRjogja.com) - Kegiatan Pra Pendidikan Dasar Resimen Mahasiswa (Pra Diksar Menwa) Satuan 0923 Gondo Wingit Universitas Muria Kudus (UMK) di Bumi Perkemahan Abiyoso Desa Menawan Kecamatan Gebog Kudus, diduga diwarnai sejumlah aksi kekerasan. Hal itu pula yang menjadi kecurigaan hingga menyebabkan Ahmad Muntoha (20), mahasiswa Fakultas Teknik Industri (FTI) semester satu UMK itu tewas.
Polres Kudus siap melakukan pembongkaran makam untuk mendapatkan bukti dugaan itu setelah munculnya kesaksian dari sejumlah warga. “Hari ini (Rabu, 19/10) beberapa saksi kami mintai keterangan. Jika keluarga korban mengizinkan, makam segera kami bongkar,” ujar Waka Polres Kudus, Kompol Arman Asmara, Rabu (19/10).
Hasil visum dokter sebelumnya menyebutkan kalau luka dan lebam yang terdapat pada tubuh korban disebakan karena terjatuh. Meninggalnya korban disebabkan dehidrasi dan depresi. Keterangan itu sempat diragukan dan menimbulkan kecurigaan pihak keluarga, meski akhirnya menerima dengan ikhlas atas musibah itu.
“Kami sempat menawarkan agar mayat korban diautopsi, tetapi keluarga menolak. Tetapi jika sekarang ada kesaksian baru dari warga, kami siap menindaklajutinya. Ada beberapa saksi yang akan kami mintai keterangan,” tegasnya.
Salah seorang saksi mata Tio (28) asal Undaan Kudus, menyatakan melihat peserta Pra Diksar diperlakukan kasar oleh seniornya. Mereka hanya memakai celana dalam, ditendang dan dipukul, serta diumpat dengan kata- kata kotor. “Saat itu kami melihat bersama sepuluh pecinta alam lain. Jadi tidak benar kalau tidak ada kekerasan,” ungkapnya.
Aksi kekerasan dilakukan Senin (17/10) sekitar pukul 10.00 sebelum korban meninggal pukul 15.00 WIB. Kesaksian lain disampaikan Beni Mariyanto (25) warga Gebog dan Miftah Farid (20) warga Kaliwungu Kudus.
Meski mengaku tidak mengetahui ada kekerasan, namun keduanya melihat lima mahasiswa diminta telanjang mengenakan celana dalam, dibentak-bentak dengan kata-kata kotor. “Saat itu Minggu (16/10) sekitar pukul 07.30, saya sedang melintas di lokasi kegiatan di dekat Sendang Bunton. Banyak juga warga yang menyaksikan,” tandasnya.
Terkait dengan keterangan saksi tersebut, Komandan Menwa UMK Ahmad Fani Fauzi membantah ada aksi penelanjangan, karena peserta hanya diminta buka baju untuk mengikuti kegiatan olahraga, khususnya laki-laki. Sedang perempuannya tidak.
Kegiatan Pra Diksar Menwa UMK diikuti 42 peserta, terdiri 25 anggota lama dan 17 calon anggota baru Selaion korban meninggal, dua peserta lain mengalami depresi yaitu Triani Fatmawati (20) asal Desa Trengguli, Bangsri Jepara dan Muhammad Sugiyanto (19) asal Desa Kedung Mulyo, Sukolilo Pati. Korban Sugiyanto sempat hilang sebelum akhirnya ditemukan dalam kondisi memprihatinkan setelah mengalami dehidrasi. Mahasiswa Fakultas Ekonomi (FE) semester satu tersebut kini dirawat di rtuang Cempaka Rumah Sakit Umum (RSU) Kudus. (Trq)
|
“Saya berjanji tidak akan mempetieskan kasus oknum anggota Polres Salatiga yang diduga telah mencabuli anak tirinya tersebut. Hanya saja kami meminta media sedikit empati agar tidak terlalu membesarkannya,” tandas AKBP Susetio Cahyadi, Jumat, di Salib Putih Salatiga.
Kapolres juga menandaskan, dirinya selaku pimpinan di jajaran Polres Salatiga tetap konsisten dan profesional dalam menjalankan tugasnya. “Oknum ini sudah kami proses dan dinonjobkan dari tugasnya untuk kemudian disidangkan,” tandas AKBP Susetio Cahyadi. (Sus)
"Keluar cukup besar, gunungnya juga tampak, tidak tertutup kabut," kata seorang warga Dusun Tangkil, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Yuswadi, di Magelang, Senin malam.
Yuswadi mengatakan, warga setempat juga mendengar letusan gunung berapi satu kali di perbatasan antara Jawa Tengah dengan Daerah Istimewa Yogyakarta itu. "Hingga saat ini (sekitar pukul 23.00 WIB, red.) belum terjadi hujan abu di sini," katanya.
Petugas pengamat Gunung Merapi di Pos Bukit Ketep, Ismail, juga menyatakan, mendapat informasi dari warga di Desa Krinjing, Kecamatan Dukun, sekitar 6,5 kilometer barat puncak Merapi terkait semburan awan panas cukup besar itu. "Mengarah ke selatan," katanya.
Puluhan warga setempat yang berjarak sekitar 6,5 kilometer barat puncak Merapi hingga sekitar pukul 23.00 WIB masih berjaga di luar rumah. "Sekitar 50 orang laki-laki saat ini berjaga di luar rumah, mengamati situasi puncak gunung," kata seorang warga Tangkil lainnya, Gimin.
Gimin mengatakan, warga tidak terlihat panik saat menyaksikan secara langsung semburan awan panas yang cukup besar itu.
Kepala Dusun Gemer, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, sekitar enam kilometer barat puncak Merapi, Naro, juga mengatakan, warga setempat menyaksikan semburan awan panas tersebut. "Sekitar 15 orang laki-laki malam ini berjaga di jalan dusun setempat, memperhatikan kondisi gunung," katanya.
Gunung Merapi meletus pertama selama fase 2010 pada 26 Oktober 2010, sedangkan letusan terbesar pada 5 November 2010.
Sumber: antara
Menurut Kepala Desa Jrakah, Tumar, sekitar tiga ratusan warga Dusun Sepi sempat panik berlarian mengungsi setelah terdengar suara gemuruh dan getaran dari puncak Merapi.
Warga Dusun Sepi saat ini, dan mereka masih mencari tempat yang aman untuk mengungsi di Dusun Tritis dan di Kecamatan Selo yang berada di bawahnya dusun itu.
Namun, kata Tumar, suara gemuruh Merapi itu, terjadi sekitar pukul 16.00 WIB, tetapi di puncak terlihat tidak mengeluarkan semburan awan panas.
"Asap Merapi berwarna putih kecokelatan ke arah barat. Namun, warga sempat panik kemungkinan mereka trauma dengan kejadian pada Jumat (4/11)," kata Tumar.
Menurut Tumar, kondisi Merapi hingga pukul 19.30 WIB ini, puncak terpantau cerah dan asap putih keluar dari puncak ke arah barat.
Menurut Kepala Dusun II Jrakah, Tumari, suara gemuruh terdengar keras sekali dari Dususn Sepi yang jaraknya sekitar empat km dari puncak membuat warga ketakutan.
Namun, suara gemuruh berpusat di Gunung Merapi tersebut beberapa saat kemudian lahar dingin meluncur dari puncak masuk ke Sungai Apu dan Juweh, dekat Dukuh Sepi.
Warga kemudian kembali mengungsi dan menyelamatkan diri ke Dusun Tritis dan Kantor Kecamatan Selo. Mereka yang kembali mengungsi kebanyakan masih trauma, katanya.
Sementara Komandan Rayon Militer (Danramil) Selo, Kapten (Inf) Kasmadi, membenarkan adanya warga Dukuh Sepi yang mengungsi ke kantor kecamatan setempat.
Para pengungsi tersebut saat ini masih ditampung di sejumlah tempat pengungsian, ada ynag di Dusun Tritis dan sebagian berkumpul kecamatan.
Luwarno, relawan Merapi mengatakan, warga Dusun Sepi sebaiknya meninggalkan kampung dan pengungsi karena, Dusun Sepi memiliki jarak sangat dekat sekali atau sekitar 3,5-empat Km dari puncak.
"Dusun ini masuk zone larangan atau radius bahaya Merapi lima Km. Maka, warga diimbau tetap bertahan di pengungsian," kata Luwarno. (Ant/Ol-3)
"Erupsi Gunung Merapi telah mengakibatkan ratusan hektare tanaman dan sejumlah hewan ternak mati, serta sejumlah rumah rusak," katanya di Magelang, Minggu (21/11).
Singgih yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Magelang itu mengatakan hal tersebut saat menerima kunjungan Ketua DPP PDI Perjuangan, Puan Maharani, di Panti Marhaen Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang.
Ia menyebutkan, jumlah kerugian tersebut antara lain di bidang peternakan dan perikanan sekitar Rp150 miliar dan bidang pertanian Rp209 miliar.
Letusan Gunung Merapi 2010, katanya, berbeda dengan erupsi beberapa tahun sebelumnya. Semula prediksi kawasan rawan bencana III dari 19 desa maksimum hanya sebanyak 37 ribu orang yang harus diungsikan.
Namun, katanya, puncak evakuasi mencapai 91 ribu lebih pengungsi di wilayah Kabupaten Magelang dan 12 ribu pengungsi di sekitar Kabupaten Magelang, yakni Kota Magelang, Temanggung, Wonosobo, Kabupaten Semarang (Jawa Tengah), dan Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ia mengatakan, selama ini para pengungsi telah mendapat bantuan jaminan hidup baik dari Pemerintah Provinsi dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana berupa 0,4 kilogram beras dan lauk pauk senilai Rp4.500 per orang per hari.
Ia mengatakan, untuk penanganan pascabencana Merapi, Pemkab Magelang telah mengusulkan kepada BNPB untuk diselenggarakan program padat karya khusus petani salak, karena cukup banyak tanaman salak rusak karena abu vulkanik.
Puan Maharani menyatakan prihatinan atas musibah yang menimpa masyarakat di lereng Gunung Merapi.
"Untuk itu sebagai rasa kepedulian kami untuk membantu meringankan beban para korban bencana Merapi dengan menyalurkan sejumlah bantuan yang dihimpun dari para kader PDI Perjuangan," katanya.
Pada kesempatan tersebut rombongan Puan Maharani membawa bantuan sebanyak 12 truk, antara lain 1.000 paket sembako, semen, pakan ternak, dan pakaian dalam.
Ia mengatakan, penanganan korban Merapi bukan hanya saat warga mengungsi, tetapi juga upaya mengembalikan kehidupan ekonomi masyarakat pascabencana Merapi.
"Bagaimana pascaletusan mengembalikan kehidupan masyarakat, mempunyai tempat tinggal yang layak seperti semula. Ini hal terberat yang harus dibenahi ke depan, jangan sampai mereka tidak bisa menjalani hidupnya secara normal," katanya.
Ia berharap kepada pemerintah dan juga pada kader PDI Perjuangan bisa mengembalikan kepercayaan masyarakat guna membangun desanya yang kini sedang terpuruk akibat letusan Gunung Merapi. (Ant/OL-3)
|
Kabag Humas Pemkot Salatiga, Drs Valentino T Haribowo kepada Krjogja.com, Sabtu (4/9), mengatakan selain kaum dhuafa, bingkisan lebaran ini juga diberikan kepada sais dokar dan tukang becak di Salatiga.
“Anggaran untuk membeli bingkisan lebaran bagi 800 orang penerima, besarnya Rp 51 juta yang bersumber dari dana bantuan sosial,” ujar Valentino T Haribowo. (Sus)
|
SEMARANG (KRjogja.com) - Indonesia Corruption Watch (ICW) mendesak jajaran Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah agar segera memproses kembali dan menuntaskan beberapa kasus dugaan korupsi dengan tersangka mantan Wali Kota Semarang Sukawi Sutarip.
"Desakan tersebut dalam bentuk surat bernomor 250/SK/BP/ICW/VIII/2010 yang kami layangkan kepada Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah Salman Maryadi," kata Wakil Koordinator Badan Pekerja ICW Adnan Topan Husodo saat dihubungi melalui saluran telepon dari Semarang, Rabu (11/8).
Surat desakan tersebut juga ditembuskan ke Jaksa Muda Pidana Khusus (Jampidsus) dan Jaksa Muda Pengawas (Jamwas) Kejaksaan Agung serta pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dan, Kejati Jateng harus segera melanjutkan pemeriksaan terhadap Sukawi Sutarip yang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam beberapa kasus dugaan korupsi.
"Hal ini penting untuk dilakukan untuk menghindari munculnya kesan tebang pilih dalam setiap pemberantasan kasus dugaan korupsi di Jawa Tengah," ujarnya.
Menurut dia, pascalengsernya Sukawi Sutarip dari jabatannya sebagai Wali Kota Semarang dalam dua periode merupakan waktu yang tepat bagi penyidik Kejati Jateng untuk menuntaskan kasus dugaan korupsi yang merugikan keuangan negara hingga miliaran rupiah tersebut.
"Pemeriksaan tersangka saat ini sudah tidak memerlukan surat izin Presiden lagi sehingga tidak ada alasan untuk menunda lagi," kata Adnan. (Ant/Tom)







