Tersesat saat perjalanan pulang, mereka selalu bersama-sama untuk mencari jalan pulang. Tapi mereka akhirnya terpisah sekira pukul 23.00 WIB karena Fikri, salah seorang anggota rombongan, jatuh pingsan.
Empat orang dari mereka kemudian menjaga Fikri di sekitar tower yang ada di tengah hutan. Sementara sembilan orang lainnya berinisiatif mencari pertolongan. Mereka kemudian berpisah.
Tapi niat baik mereka tidak berjalan baik. Sembilan anak itu kembali tersesat. Mereka tak tahu jalan kembali menuju lima temannya yang lain. Mereka pun makin linglung mencari jalan pulang.
"Kami akhirnya tidur di bawah pohon," ujar Firdaus, salah seorang anak yang ikut tersesat.
Berada di tengah hutan dan tidur seadanya, ia dan teman-temannya mengaku tidak takut apapun saat itu. "Kita enggak takut karena terus bareng-bareng," ungkapnya.
Berbeda dengan Firdaus dan kawan-kawan yang tidur di bawah pohon, anak-anak lainnya tidur bersandar pada dinding tower. "Kita bersandar ke tembok tidurnya," timpal Arif.
Saat itu, Arif dan empat temannya memang sedang menunggu pertolongan untuk Fikri yang pingsan. Arif dan rekan-rekannya ogah meninggakan Fikri sendirian di tengah hutan.
Bagi Arif, Firdaus, dan teman-temannya, itulah arti persahabatan. Di mana mereka harus bersama dalam suka dan duka. Apalagi, mereka berada di tengah hutan dan sama-sama tersesat.
Fikri sendiri mengaku tiba-tiba pusing saat bersama rekan-rekannya mencari jalan pulang. "Tiba-tiba kepala saya pusing, terus enggak ingat apa-apa lagi," cetusnya.
Meski sempat tersesat dan pingsan, Fikri senang karena teman-temannya menunjukkan kepedulian dan persahabatan. Ia tidak ditinggalkan di hutan. Sebaliknya, ia ditunggui dan sebagian temannya mencari pertolongan.
Kisah belasan sahabat yang tersesat itu happy ending. Mereka tak sengaja ditemukan kelompok pecinta sepeda motor offroad tadi pagi. Mereka kini sudah kembali ke rumahnya masing-masing dan siap menjaga persahabatannya. (ris)
http://bandung.okezone.com/read/2014/05/18/527/986557/kisah-persahabatan-anak-anak-yang-sempat-hilang-di-lembang
Menurut Syamsul Bahri, relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Makassar, jenazah tersebut ditemukan dipuing-puing kebakaran dengan kondisi yang mengenaskan. "Ia ditemukan di titik yang disebut-sebut sumber kebakaran," kata Syamsul Bahri, Jumat, 13 April 2012, malam.
Ia menambahkan, Daeng Gassing adalah lelaki renta yang dikenal memiliki kelainan jiwa. Ia diduga telah membakar dirinya sendiri karena stres setelah ditinggal istrinya. Sebelum membakar diri, ia nekat menyiram bensin kesekujur tubuhnya.
"Sebab banyak warga mencium aroma bensin yang menyengat dari rumah Daeng Gassing sebelum kebakaran terjadi," tambahnya.
Apalagi berdasarkan sejumlah informasi, Daeng Gassing sudah empat kali mencoba bunuh diri dengan membakar diri tapi gagal. Kelima kali nyawanya sudah tidak bisa tertolong lagi.
Api yang berkobar dari rumah Daeng Gassing kemudian merembet ke dalam kompleks Asrama Kodim VII Wirabuana. Api cepat merembet karena bersamaan dengan tiupan angin yang kencang. Selain itu, bantuan mobil pemadam kebakaran kesulitan mendekati sumber api karena jalan yang sempit dikawasan padat penduduk tersebut.
Hingga pukul 24:00 Wita, data PMI menyebutkan, rumah warga yang ludes terbakar sekitar 70 unit. Lebih dari 100 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal. Sementara itu, kepolisian saat ini masih melakukan penyelidikan dan mengumpulkan bukti-bukti terjadinya kebakaran.
"Jumlah korban akibat gempa bumi dan tsunami di Aceh hingga hari ini (13/4) adalah 10 orang meninggal dunia, 4 luka berat, dan 8 luka ringan," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Dr Sutopo Purwo Nugroho, kepada detikcom, Jumat (13/4/2012).
Kepala BNPB dan rombongan dari kementerian/lembaga telah melakukan koordinasi dengan aparat Pemda di Simeuleu dan Pemda Aceh. Koordinasi dilakukan untuk melakukan penanganan darurat dan antisipasi yang diperlukan.
"Sudah tidak ada pengungsian sejak Kamis kemarin (12/4). BPBD masih melakukan pendataan. Logistik dan peralatan masih mencukupi. BPBD dan instansi terkait terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tetap tenang dan meningkatkan kesiapsiagaan," jelasnya.
Berikut data korban meninggal dan luka akibat gempa bumi dan tsunami Aceh per pukul 19.30 WIB.
Korban Meninggal
1). Kab. Padang Pariaman, 1 orang atas nama: Kutar (69 thn)
2). Kota Banda Aceh, 1 orang atas nama: Yatim Kulam (70 thn) akibat serangan jantung saat gempa keras.
3). Kab Lhoksemauwe, 1 orang pria 39 thn
4). Kab Aceh Barat Daya, 1 orang atas nama Hatijah Hamid (70 thn) akibat sakit jantung.
5). Kab. Aceh Besar, ada 6 orang akibat serangan jantung, yaitu: Fauziah (60 thn), M. Yusuf (70 thn), Siti Saudah (88 thn), Sitiah (70 thn), M. Yasin (62 th), dan Nur Satijah (70 thn).
Korban Luka Berat
1) Kab. Aceh Besar, 2 orang dan masih dirawat RS. Ibu dan anak Banda Aceh
2) Kab. Aceh selatan, 1 orang menderita patah tulang kaki atas nama: Kalsum (65 thn) dirawat di RSU. Dr. Yullidin Away Tapaktuan.
3) Kab Aceh Singkil, 1 orang anak kritis karena tertimpa pohon saat gempa.
Korban Luka Ringan
4 orang di Kab Simeuleu, 2 orang di Aceh Singkil, dan 2 orang di Aceh Besar. Semua sudah kembali ke rumahnya.
Kerugian Materiil
Aceh Barat:
1 jembatan terputus menghubungkan Kec. Jatmalaka ke Kec. Samatiga
1 unit asrama putri di pesantren Arrazatun Nabawiyah.
Aceh Besar:
1 rutan rusak temboknya roboh.
1 unit rumah rumah rusak ringan
1 kantor rusak ringan
1 rumah ambruk di Desa Lamlepung
(van/nrl)
sunber:detik.com
VIVAnews - Ini yang terjadi pada Rabu 11 April 2012 di Padang paska gempa pertama berkekuatan 8,5 Skala Richter mengguncang Aceh: sirine peringatan dini tsunami di Komplek GOR H Agus Salim meraung-raung, 30 menit setelah guncangan terjadi.
Sebanyak 920 ribu warga Padang serempak dilanda panik. Tanpa komando, mereka langsung mengevakuasi diri ke lokasi yang lebih tinggi.
Keinginan menyelamatkan nyawa menimbulkan kemacetan hebat di sejumlah titik menuju jalan By Pass, sekitar 7 kilometer dari bibir pantai. Wajah-wajah tegang makin frustrasi menyaksikan lalu lintas yang sedemikian semrawut. Deru sepeda motor berpenumpang sampai empat orang dipacu cepat, membuat warga makin khawatir.
"Pikiran kami saat itu hanya menjauh dari pantai," ujar Ria, mahasiswi semester akhir Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Padang, menceritakan apa yang ia rasakan Rabu lalu kepada VIVAnews.com. Bagaimana tidak, rumah kos yang ia tempati hanya berjarak sekitar 500 meter dari bibir pantai.
Menyambar tas berisi laptop berisi data skripsi, ia dan rekan-rekannya memacu sepeda motor, di antara warga nelayan yang berlarian menjauhi pantai. Menuju arah By Pass. "Di simpang tunggul hitam mulai terjebak macet, suasana semakin kacau,” kata dia.
Butuh satu jam lebih untuk dia dan satu orang temannya mencapai Lubuk Lintah, Kecamatan Kuranji, Padang yang berjarak sekitar 9 kilometer dari rumah kosnya. “Itu pun karena Ria lari begitu usai gempa, kalau telat sedikit saja pasti sudah terjebak macet panjang,” ujarnya.
Padahal, di kawasan kampus Universitas Negeri Padang, yang lebih dekat, telah disiapkan sedikitnya tiga gedung yang berfungsi sebagai tempat evakuasi tsunami atau shelter. Shelter ini berada di Masjid Al Azhar depan kampus, gedung FE UNP, dan gedung MKU. Tapi, menurut Ria, tak banyak dari warga setempat yang memanfaatkannya. Mereka lebih memilih untuk menjauhi pantai.
Itu kepanikan yang tak seharusnya terjadi. Manajer Pusat Pengendali Operasi Penanggulangan Bencana Sumbar Ade Edward mengakui lemahnya informasi publik jadi pokok permasalahan.
"Ini karena tidak ada komando yang mengarahkan warga ke mana mesti melakukan evakuasi sehingga menyebabkan kemacetan di jalur evakuasi,” kata Ade Edward.
Menurut Ade, lemahnya informasi publik membuat warga bergerak sendiri dan terjebak di titik yang sama. Tak terbayang jika tsunami benar-benar terjadi kala itu. "Masih banyak yang harus kita siapkan seperti fasilitas jalur evakuasi, shelter, dan fasilitas informasi publik," ujarnya.
Ade mengakui, pihaknya mendapat laporan dari BMKG pusat bahwa daerah awas pasca gempa Aceh kemarin adalah Siberut dan Mentawai. Sedangkan daratan pesisir Sumbar hanya berstatus waspada dan siaga. “'Waspada' dan 'siaga' itu dalam SoP tidak perlu evakuasi, 'awas' yang harus evakuasi, ini yang perlu kita perbaiki ke depan,” ujarnya.
Informasi ini yang menurutnya tidak sepenuhnya diterima masyarakat dengan baik sehingga menimbulkan kepanikan. Sementara soal sirine yang terlambat berbunyi, Ade mengatakan itu sepenuhnya di luar jangkauannya.
Sejak dinonaktifkan beberapa waktu lalu, kendali aktivitas Indonesia EarlyWarning System (INA TEWS) dipegang BMKG Pusat dan Padang Panjang. Keterlambatan ini yang ditengarai memberikan informasi simpang siur pada masyarakat di pantai barat Sumbar. Padahal, dari pantauan warga, air laut tidak mengalami penyurutan.
Pekerjaan rumah untuk Padang masih banyak, di tengah ancaman bencana. Para ahli gempa telah memperingatkan potensi gempa dan tsunami jika megathrust Mentawai melepaskan energinya, kekuatan sampai 8,9 skala Richter.
Bandingkan dengan Jepang
Semua orang tahu, soal peringatan dini bencana, Jepang belum tertandingi. Tapi toh Negeri Sakura terpukul dengan musibah gempa dan tsunami 11 Maret 2012. Sebanyak 20.000 orang tewas, Jepang menghadapi krisis nuklir terparah sejak bom atom jatuh di Hiroshima dan Nagasaki.
Namun, seandainya bukan di Jepang, untuk bencana sedahsyat itu, jumlah yang tewas bisa berkali lipat. Patrick Corcoran, ilmuwan dari Oregon State University memperkirakan, jika terjadi di tempat lain, korban gempa berkekuatan 9,0 Skala Richter yang disusul tsunami bisa mencapai 200 ribu orang.
Beberapa menit sebelum guncangan besar terjadi, sistem peringatan mengirimkan jutaan pesan pendek langsung ke ponsel warga. Stasiun kereta dan pabrik sontak menghentikan operasi dan melakukan tindakan pengamanan, setelah menerima surat elektronik berisi peringatan.
"Bahkan satu menit, bisa menentukan," kata Dr. Tom Jordan, Kepala Pusat Gempa Bumi California Selatan, seperti dimuat situs 10 News. "Bayangkan, jika Anda dokter yang sedang melakukan operasi, atau ketika Anda berada di lift. Kesempatan menit, atau detik, bisa jadi penyelamat."
Dia menerangkan, gempa bumi sejatinya mengirimkan dua gelombang energi. Yang pertama, gelombang P, getarannya lemah namun menjalar sangat cepat. Gelombang ini akan mengaktifkan seismometer di seluruh wilayah dan mengirimkan sinyal peringatan bahwa gelombang yang lebih kuat, disebut gelombang S, akan segera datang.
Sementara seperti dimuat VOA News, pemerintah Jepang mengirimkan peringatan tsunami tiga menit setelah gempa terjadi 11 Maret 2011 lalu.
Jepang menginvestasikan uangnya untuk membangun lebih dari empat ribu alat pengukur seismik yang tersebar di seluruh negeri. Juga membangun benteng beton tebal yang memagari wilayah pesisir.
Dan yang tak kalah penting, masyarakat Jepang tahu persis apa yang harus mereka lakukan saat bencana terjadi.
VIVAnews -- Gempa 8,5 Skala Richter yang mengguncang Aceh, Rabu 11 April 2012 dirasakan hampir di semua wilayah Sumatera. Tak terkecuali warga yang tinggal di sekitar Danau Toba, Sumatera Utara, danau vulkanik terbesar di dunia.
Selama sekitar lima menit, bumi berguncang cukup kuat. Warga Parapat dan Pulau Samosir berhamburan ke luar rumah. Mereka yang kebetulan berada di tepi danau menjadi saksi dari peristiwa yang tak biasa.
Air Danau Toba yang biasanya tenang membentuk pusaran, laiknya air sungai deras. Meski tak mungkin terjadi, tak sedikit warga menduga, bakal ada tsunami dari tengah danau. Lihat videonya di tautan ini.
Apa yang membuat air Toba bergolak?
Saat dihubungi, Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG kelas I Polonia, Hartanto mengaku belum mengetahui soal fenomena aneh itu. "Kami baru mendengarnya sekarang. Secara teori, bisa jadi itu disebabkan oleh guncangan gempa kuat yang melanda wilayah Aceh," kata dia kepada VIVAnews.com, Kamis 12 April 2012 malam.
Dia menambahkan, lindu Rabu lalu memang terasa sangat kuat di wilayah Sumatera Utara, dengan durasi lumayan panjang, hampir lima menit. "Ibarat air di dalam ember, kalau kita guncang dia akan bergerak," tambah dia.
Bagaimana dengan dugaan bergolaknya air terkait aktivitas gunung api di dasar Danau Toba? Hartanto tak memberi jawaban. "Silakan hubungi BBMKG Wilayah 1 Medan, mereka lebih pas memberikan informasi mengenai ini," ujar dia.
Dihubungi terpisah, Kepala Bidang Data dan Informasi BBMKG Wil I Medan, Hendra Suwarta mengatakan pergolakan air di Danau Toba bisa saja terjadi karena episentrum gempa tak jauh dari wilayah Sumatera Utara. Hingga getaran terasa kuat. Sementara, soal gunung di dasar Toba, "gempa tersebut belum akan menggangu aktivitas magma di dasar Danau Toba."
Hendra menerangkan, lapisan batuan yang menutupi magma Danau Toba tebalnya berkisar antara 30 sampai 40 kilometer. "Ini merupakan lapisan batu yang paling tebal di Indonesia. Umurnya ratusan ribu tahun. Tidak ada masalah mengenai itu," kata dia.
Ia juga mengaku baru mendengar kabar bergolaknya air Danau Toba. "Kami akan langsung kordinasi dengan BMKG diwilayah Parapat (Danau Toba), kami punya kantor juga di sana," tambah Hendra.
Tak semua orang tahu peristiwa sekitar 70.000 tahun lalu di wilayah yang kini menjadi Danau Toba. Kala itu, terjadi letusan dahsyat gunung api purba, yang diyakini terbesar dalam kurun waktu 2 juta tahun terakhir. Toba sebelumnya adalah gunung purba.
Seperti dimuat situs Badan Antariksa AS, NASA, dalam waktu sekitar dua minggu, ribuan kilometer kubik puing dimuntahkan dari Kaldera Toba di Sumatera Utara. Aliran piroklastik--awan yang merupakan campuran gas panas, serpihan batu, dan abu--mengubur wilayah sekitar 20.000 kilometer persegi di sekitar kaldera.
Di Pulau Samosir, tebal lapisan abu bahkan mencapai 600 meter. Abu Toba juga menyebar ke seluruh dunia. Di India misalnya, ketebalan abu sampai 6 meter.
Pasca letusan, Gunung Toba kolaps, meninggalkan kaldera modern yang dipenuhi air--menjadi Danau Toba. Sementara, Pulau Samosir terangkat oleh magma di bawah tanah yang tidak meletus. Gunung Pusuk Buhit di dekat danau itu juga terbentuk pasca letusan.
Awalnya ilmuwan menduga, letusan Toba menyebabkan penurunan suhu global hingga 10 derajat Celcius selama hampir satu dekade dan membinasakan sebagian besar umat manusia. Meski penelitian terbaru menyebut, efek cuaca yang disebabkan letusan Toba tak sedahsyat itu. Baca selengkapnya di tautan ini.
VIVAnews - Letusan Gunung Toba yang melontarkan jutaan metrik ton debu volkanik, sulfur, dan partikel-partikel lain ke atmosfir pada 74 ribu tahun yang lalu disebut-sebut menyebabkan penggelapan langit, penurunan suhu global hingga 10 derajat Celcius selama hampir satu dekade dan membinasakan sebagian besar umat manusia.
Ternyata, dari penelitian terbaru, efek cuaca yang disebabkan letusan Toba lebih ringan dan reda relatif lebih cepat dibanding perkiraan yang dibuat oleh pada arkeolog dan klimatolog sebelumnya. Manusia yang mengalami bencana letusan Toba itu diperkirakan berhasil melewatinya dengan selamat.
Meski dari sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa letusan Toba yang kini meninggalkan danau volkanik terbesar di dunia itu menggelapkan dan membekukan dunia, menggunakan data letusan gunung Pinatubo, Filipina tahun 1991, Stephen Self, volkanologis dari Open University, Milton Keynes, Inggris dan Michael Rampino, paleobiologis dari New York University, menyatakan bahwa efek pendinginan suhu akibat letusan Toba hanya mencapai 3 sampai 5 derajat saja.
Berdasarkan data yang didapat dari situs arkeologi di India, tim antropolog University of Oxford, Inggris, yang dipimpin oleh Michael Petraglia menyebutkan bahwa manusia yang tinggal tidak jauh dari zona letusan justru malah berhasil melewati bencana tersebut dengan mudah.
Untuk mencari titik terang, tim peneliti yang dipimpin oleh Claudia Timmreck, dari Max-Planck Institute for Meteorology di Hamburg, Jerman membuat pemodelan yang mampu menggambarkan lebih realistis (meski metode ini juga memiliki beberapa kekurangan) apa yang terjadi saat Toba meletus.
Peneliti fokus ke bagaimana partikel sulfate aerosol yang terbentuk di stratosfir akibat letusan sulfur dioksida yang mengandung gas mendinginkan atmosfir dengan cara memantulkan sinar matahari. Dari data yang didapat, dan disesuaikan dengan asumsi yang sudah dibuat sebelumnya, diketahui bahwa Toba mengirimkan sekitar 850 juta metrik ton sulfur ke atmosfir. Angka ini 100 kali lebih banyak dibanding setoran gunung Pinatubo ke atmosfir.
Dari simulasi juga diketahui bahwa dampak Toba memang hanya menurunkan suhu sebanyak 3 sampai 5 derajat Celcius di seluruh dunia. Akan tetapi, konsentrasi sulfur tidaklah padat dan segera hilang dari stratosfir selama 2 sampai 3 tahun saja. Perubahan temperatur secara ekstrim yang terjadi di Afrika dan India hanya berlangsung selama 1 sampai 2 tahun. Di kawasan ini, di tahun pertama suhu turun 10 derajat dan 5 derajat di tahun kedua.
Menurut Timmreck, seperti dikutip dari ScienceMag, 25 November 2010, Toba juga tidak memusnahkan flora dan fauna. Namun Timmreck mengakui, kehidupan di masa-masa tersebut memang sulit.
Michael Petraglia berpendapat, Toba memang bukanlah penyebab utama anjloknya jumlah populasi manusia di era tersebut. Akan tetapi Toba membuat situasi menjadi makin parah. Langkah selanjutnya, kata Petraglia, peneliti masih harus melanjutkan hasil temuan simulasi tersebut dengan observasi langsung di kawasan sekitar Toba untuk mengetahui secara lebih akurat dampak lingkungan yang terjadi. (umi)

