Harianjogjadotcom, KULONPROGO – Megapropyek yang
segera terealisasikan akan memberikan dampak yang luar biasa bagi
pertumbuhan ekonomi DIY, terutama Kulonprogo.
Peran usaha kecil menengah (UKM) yang ada di Bumi Menoreh ini diharapkan dapat menjadi pelaku utama dari semua potensi yang ada dalam megaproyek ini.
Asisten II Sekda Kulonprogo Triyono mengungkapkan potensi yang
dimiliki Kulonprogo dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi kabupaten ini.
Hal ini turut sejalan dengan semangat DIY untuk melangkah maju dari
among tani menjadi dagang layar.
“Kulonprogo dapat menjadi pintu gerbang pembangunan ekonomi di seluruh wilayah DIY. Prospek ke depan sangat cerah, meski dengan kondisi alam yang seperti ini, namun hal itu bisa diatasi dengan terobosan teknologi,” papar Triyono pada Forum Bisnis Pelaku Ekonomi Membangun Kerjasama Kemitraan dalam Menembus Pasar Internasional, Selasa (26/8/2014) di Rumah Makan Saiyo, Wates.
Adanya proyek bandar udara, pelabuhan hingga pertambangan pasir besi dapat mendorong ekonomi di Kulonprogo, terutama di wilayah pesisir. Dari semua potensi megaproyek tersebut peran Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) sangatlah dibutuhkan. UMKM Kulonprogo diharapkan bisa jadi pelaku utama.
“UMKM harus bisa jadi pelaku utama nantinya, sehingga dapat bersaing
dengan di pasar global. Karena saat ini sebagian besar produk UMKM
Kulonprogo telah banyak diekspor,” jelas Triyono.
Dibukanya pasar bebas di tahun 2015 mendatang harus benar-benar dimanfaatkan pelaku UMKM Kulonprogo. Sudah saatnya pelaku UMKM dapat meningkatkan kualitas produknya agar dapat bersaing dengan produk luar yang akan membanjiri pasar lokal.
Saat ini sudah cukup banyak produk asal Kulonprogo yang telah menembus pasar luar negeri. Ketua DPD Asosiasi Logistik DIY Nugroho Hapsoro mengungkapkan produk-produk tersebut antara lain kerajinan agel, arang briket dan teh mahkota dewa.
“Sebagian besar masih kerajinan. Belum lama ini ada juga yang mengirimkan kerajinan dari enceng gondok ke Kairo,” imbuh Nugroho.
Peran usaha kecil menengah (UKM) yang ada di Bumi Menoreh ini diharapkan dapat menjadi pelaku utama dari semua potensi yang ada dalam megaproyek ini.
“Kulonprogo dapat menjadi pintu gerbang pembangunan ekonomi di seluruh wilayah DIY. Prospek ke depan sangat cerah, meski dengan kondisi alam yang seperti ini, namun hal itu bisa diatasi dengan terobosan teknologi,” papar Triyono pada Forum Bisnis Pelaku Ekonomi Membangun Kerjasama Kemitraan dalam Menembus Pasar Internasional, Selasa (26/8/2014) di Rumah Makan Saiyo, Wates.
Adanya proyek bandar udara, pelabuhan hingga pertambangan pasir besi dapat mendorong ekonomi di Kulonprogo, terutama di wilayah pesisir. Dari semua potensi megaproyek tersebut peran Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) sangatlah dibutuhkan. UMKM Kulonprogo diharapkan bisa jadi pelaku utama.
Dibukanya pasar bebas di tahun 2015 mendatang harus benar-benar dimanfaatkan pelaku UMKM Kulonprogo. Sudah saatnya pelaku UMKM dapat meningkatkan kualitas produknya agar dapat bersaing dengan produk luar yang akan membanjiri pasar lokal.
Saat ini sudah cukup banyak produk asal Kulonprogo yang telah menembus pasar luar negeri. Ketua DPD Asosiasi Logistik DIY Nugroho Hapsoro mengungkapkan produk-produk tersebut antara lain kerajinan agel, arang briket dan teh mahkota dewa.
“Sebagian besar masih kerajinan. Belum lama ini ada juga yang mengirimkan kerajinan dari enceng gondok ke Kairo,” imbuh Nugroho.
| |
| |
Saksi mata kejadian, yang merupakan salah satu karyawan retoran tersebut, Edi Handoko menuturkan, saat itu dirinya tengah berada di kamar mandi namun tiba-tiba muncul api dari ruang dapur restoran. "Sebagian karyawan juga tengah bersiap-siap untuk membuka warung. Saya waktu itu sudah mencium bau asap dan saya lihat di dapur sudah muncul api," ungkapnya.
Dirinya beserta rekan-rekannya pun langsung berusaha memadamkan api dengan alat seadanya. Namun, api justru semakin bertambah besar dan mereka pun lari menyelamatkan diri. "Tadi, kalau kami paksakan, mungkin kami bisa menjadi korban. Apinya sangat cepat menjalar seisi ruangan. Karena semua perabot serta atap restoran ini terbuat dari jerami yang sangat mudah terbakar," imbuh Edi.
Pemilik restoran, Pak Dargo pun terlihat shock saat tiba di lokasi. Pasalnya, hampir seluruh isi restoran tidak ada yang bisa diselamatkan kecuali beberapa meja dan kursi saja.
Empat mobil pemadam kebakaran dari Pemkot Yogyakarta dan Pemkab Sleman pun diterjunkan untuk memadamkan api. Namun, karena bangunan yang terbuat dari bahan yang mudah terbakar, petugas pun tak bisa berbuat banyak.
Kapolsek Gamping, AKP Suwanto saat dikonfirmasi KRjogja.com membenarkan hal tersebut. Pihaknya masih belum memastikan penyebab kebakaran. "Masih kami selidiki. Dugaan sementara karena hubungan pendek arus listrik sehingga percikan api langsung menyambar seisi ruangan. Tetapi itu baru dugaan, kami masih belum berani menyimpulkan," tandasnya. (Dhi)
KULONPROGO (KRjogja.com) - Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kulonprogo mengizinkan kepada mobil plat hitam menjalankan trayek angkutan di wilayah pelosok sepanjang tidak melalui trayek kendaraan umum berplat kuning. Keputusan ini diambil lantaran kendaraan plat hitang yang beroperasi hingga pelosok di wilayah ini masih minim.
Kepala Bidang Angkutan Terminal dan Perparkiran Dishubkominfo Kabupaten Kulon Progo, Suparlan mengatakan, di Jalur Dekso menuju Nglambun tidak ada mobil trayek umum yang beroperasi padahal warga sangat membutuhkan sarana angkutan, maka Dishubkominfo memutuskan memberi izin kepada mobil plat hitam beroperasi menjalani trayek jalur tersebut.
"Karena tidak adanya mobil plat kuning beroperasi terpaksa kami mengizinkan angkutan mobil plat hitam beroperasi karena pedagang-pedagang membutuhkan jasa angkutan. Pedagang berangkat dari rumah pukul 04.00 WIB, tentu trayek kendaraan umum tidak melayaninya," katanya di Wates, Jumat (3/9).
Ia mengatakan, kebijakan tersebut didasarkan kepada kebutuhan masyarakat bukan sekedar memberikan izin trayek untuk mobil plat hitam melainkan atas dasar perkembangan ekonomi masyarakat. "Kalau tidak ada angkutan mobil plat hitam, bagaimana dengan roda perekomian masyarakat yang tinggal di pelosok desa," katanya.
Lebih lanjut, ia mengatakan, Dishubkominfo akan memberikan sanksi kepada angkutan mobil plat hitam yang melewati jalur resmi yang ada izin trayeknya misalnya Wates menuju Kokap. "Sejauh dari pantuan kami, mobil plat hitam yang ada di terminal Wates untuk menjemput familinya yang datang pada pagi dan malam hari. Karena saat seperti itu angkutan umum masih jarang bahkan tidak beroperasi," katanya. (Ant/Van)
Kepala Bidang Angkutan Terminal dan Perparkiran Dishubkominfo Kabupaten Kulon Progo, Suparlan mengatakan, di Jalur Dekso menuju Nglambun tidak ada mobil trayek umum yang beroperasi padahal warga sangat membutuhkan sarana angkutan, maka Dishubkominfo memutuskan memberi izin kepada mobil plat hitam beroperasi menjalani trayek jalur tersebut.
"Karena tidak adanya mobil plat kuning beroperasi terpaksa kami mengizinkan angkutan mobil plat hitam beroperasi karena pedagang-pedagang membutuhkan jasa angkutan. Pedagang berangkat dari rumah pukul 04.00 WIB, tentu trayek kendaraan umum tidak melayaninya," katanya di Wates, Jumat (3/9).
Ia mengatakan, kebijakan tersebut didasarkan kepada kebutuhan masyarakat bukan sekedar memberikan izin trayek untuk mobil plat hitam melainkan atas dasar perkembangan ekonomi masyarakat. "Kalau tidak ada angkutan mobil plat hitam, bagaimana dengan roda perekomian masyarakat yang tinggal di pelosok desa," katanya.
Lebih lanjut, ia mengatakan, Dishubkominfo akan memberikan sanksi kepada angkutan mobil plat hitam yang melewati jalur resmi yang ada izin trayeknya misalnya Wates menuju Kokap. "Sejauh dari pantuan kami, mobil plat hitam yang ada di terminal Wates untuk menjemput familinya yang datang pada pagi dan malam hari. Karena saat seperti itu angkutan umum masih jarang bahkan tidak beroperasi," katanya. (Ant/Van)
|
"Petugas sudah memperbaiki jaringan serta rabas-rabas pohon yang menggangu jaringan kabel. Sebab berdasarkan evaluasi, terjadinya pemadaman sekitar 80 persen akibat jaringan kabel putus tertimpa pohon," kata Manajer UPJ PLN Wonosari Bambang Eko Haryono ST MM, Sabtu (4/9).
Sementara penambahan petugas piket gangguan, dimaksudkan untuk memaksimalkan layanan kepada masyarakat. Jika sebelumnya 7 petugas akan ditambah dua kali lipat. Bahkan guna mengantisipasi hal darurat, juga sudah disiapkan cadangan peralatan guna mengganti peralatan yang rusak. Artinya bila terjadi gangguan bisa langsung diatasi. Petugas yang berada di pos kecamatan juga dimaksimalkan, seperti di Kecamatan Karangmojo, petugas PLN yang berjaga juga menangani jaringan di Kecamatan Ponjong.
“Dengan daya yang cukup serta perbaikan jaringan diharapkan penyaluran air kepada masyarakat juga akan lancar. Sebab lebaran dipastikan jumlah pemudik cukup besar, sehingga baik penggunaan untuk listrik maupun pemanfaatan air juga akan semakin meningkat,” ujarnya.
Ditambahkan, PLN berupaya maksimal untuk mencukupi pasokan kebutuhan listrik. Seluruh petugas juga disiagakan penuh, termasuk di wilayah yang memiliki beban listrik tinggi. Dengan adanya persiapan yang baik, perbaikan jaringan, serta pemeliharaan peralatan, diharapkan layanan listrik bisa lancar. (R-2)
|
“Jika kondisi macet, petugas tingal naik ke tower dan memberikan arahan,” ujarnya Sabtu (4/9). Penggunaan Topal sendiri diutamakan jika dalam kondisi arus lalu lintas yang semwrawut, namun jika dalam kondisi yang masih bisa dikendalikan, petugas tetap berpegang pada traffic light.
Untuk arus pemudik sendiri, dikatakannya belum terlalu padat. “Masih normal, belum ada lonjakan berarti,” terang Nanang. Untuk kendaraan dari luar kota disebutnya baru ada 1-2 yang berasal dari plat luar kota. Itu pun masih berasal dari sekitaran Jakarta dan Jawa Barat. Diperkirakan puncak arus mudik akan terjadi pada H-3. (*-7)
|
Deputi Executive Vice President PT KA (Persero) Daops VI Yogyakarta, Muhardono mengungkapkan, pihaknya bersama Dishubkominfo DIY telah melakukan koordinasi dengan organda, Damri dan pihak Kepolisian serta TNI untuk membantu mengangkut panumpang yang terbengkalai. Nantinya, pihaknya akan melibatkan operasional bus dan truck milik TNI dan Polri agar bisa digunakan penumpang terutama saat peak season atau masa puncak.
"Masa puncak tersebut diprediksikan terjadi pada 15-18 September, dimana kapasitas 200 armada KA milik Daops VI Yogyakarta dipastikan tidak bisa mengangkut seluruh penumpang. Diharapkan dengan dialihkan ke bus dan truck tersebut, tidak akan terjadi penumpukan penumpang di stasiun," ujarnya di stasiun Tugu, Jumat (3/9).
Meskipun demikian, pihaknya hingga kini mengaku masih menghadapi kendala dengan pihak organda untuk pengadaan bus. "Jadi mereka merasa keberatan dengan tarif yang kita patok untuk penumpang ekonomi. Sebab untuk tarif KA hanya sebesar Rp35 ribu saja, sedangkan tarif bus mencapai Rp 105 ribu. Inilah yang masih terus kita negosiasikan hingga kini," katanya.
Karena masih adanya kendala tersebut, saat ini angkutan alternatif yang bisa diandalkan adalah truck milik TNI dan Polri. "Penumpang yang telah memiliki tiket kereta ekonomi dan tidak bisa terangkut bisa menggunakan angkutan truck tersebut. Biaya operasional lainnya akan ditanggung sepenuhnya oleh PT KA (Persero). Jika tidak memungkinkan seluruhnya terangkut, maka diharapkan masyarakat bisa mengatur ulang jadwal mudik mereka diluar jadwal peak season," tuturnya.
Sementara itu, kepala Dishubkominfo DIY, Tjipto Haribowo membenarkan jika penumpang yang tidak terangkut kereta akan dilimpahkan ke angkutan bus. Namun diakui hal tersebut memang sulit untuk terealisasi dengan lancar.
"Meskipun biaya operasional untuk angkutan alternatif ini ditanggung oleh PT KA, namun ini akan sulit karena masalah perbedaan tarif yang cukup besar. Penumpang cenderung memilih kedatangan kereta berikutnya di stasiun. Karena itu kami berusaha maksimal agar penumpang bisa melakukan perjalanan mudik diluar masa puncak dengan terus memberikan himbauan untuk mengatur ulang jadwal keberangkatan," imbuhnya. (Ran)
|
waktu tersebut berhasil ditangkap 3 orang calo yang mengedarkan tiket secara liar di wilayah stasiun Tugu Yogyakarta.
Deputi Ececutive Vice President PT KA Daops VI Yogyakarta, Muhardono mengungkapkan, pihaknya tidak akan memberikan celah sedikitpun untuk berkembangnya tindakan percaloan. Bahkan jika diketahui ada oknum PT
KA yang terlibat dalam kegiatan tersebut, maka tak akan segan untuk diberikan hukuman yang seberat-beratnya.
"Karena itu kami terus melakukan pemeriksaan rutin yang melibatkan aparat keamanan dan didapatkan 3 orang calo yang tertangkap. Mereka langsung kami serahkan pada pihak yang berwajib agar bisa diproses lebih lanjut. Untuk kedepan, kami menjamin praktek calo tidak akan ditemukan lagi selama masa lebaran ini," ujarnya di Yogyakarta, Sabtu (4/9).
Menurutnya, keberadaan calo jelas merugikan bagi berbagai pihak. "Selain merugikan konsumen karena menjual tiket dengan harga yang tidak wajar, calo juga menurunkan tingkat pelayanan PT KA di mata masyarakat. Sebab itulah kami benar-benar memberikan perhatian serius terhadap praktek calo ini. Bahkan bagi penumpang atau masyarakat yang
bisa membantu melaporkan keberadaan calo kepada kami, akan kami berikan penghargaan," katanya.
Sementara itu, kepala humas PT KA (Persero) Daops VI Yogyakarta, Eko Budiyanto menambahkan, PT KA Daops VI Yogyakarta tidak akan memberikan toleransi apapun bagi calo yang tertangkap. "Kalaupun memang ada dan
terbukti bersalah, maka akan dikenakan sanksi berdasarkan pasal 184 junto 208 UU Perkeretaapian No 23 tahun 2007. Hukumannya adalah kurungan penjara sampai 6 bulan," imbuhnya. (Ran)

