Luberan Lumpur Ancam Jalan Raya Porong dan Warga

Luberan Lumpur Ancam Jalan Raya Porong dan Warga
SIDOARJO - Lumpur Lapindo kembali mengancam Jalan Raya Porong dan warga yang tinggal di sisi barat pusat semburan. Kemarin lumpur dingin mengalir deras hingga meluber ke luar tanggul melewati pembatas yang sudah dipasang. Lumpur mulai mengalir ke arah tanggul titik 21 di Desa Jatirejo, Porong, sekitar pukul 16.30.

Besarnya debit lumpur yang keluar membuat permukaan semakin tinggi hingga menyentuh bibir tanggul. Sekitar pukul 17.00, lumpur melewati permukaan tanggul sepanjang tujuh meter, mengarah ke Jalan Raya Porong dan tumpah ke jalan akses menuju tanggul yang lokasinya lebih rendah. Jalan tersebut akhirnya ditutup untuk menghentikan lumpur yang terus mengalir.

Hingga berita ini ditulis, lumpur yang meluber dan terkumpul di luar tanggul berjarak lima meter dari rel kereta api yang lokasinya lebih rendah. Dari Raya Porong, jaraknya terpaut sekitar delapan meter. Tinggi tanggul saat ini enam meter dari permukaan jalan raya.

Kemarin sore sekitar pukul 18.00 Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) berusaha menghambat luberan lumpur dengan menumpuk kantong pasir di atas tanggul. Meski demikian, lumpur terus meluber ke arah luar tanggul dan menggenangi kawasan di bawahnya.

Kepala Humas BPLS Ahmad Zulkarnain mengatakan, lumpur meluber karena permukaan pond di titik 21 lebih rendah daripada yang ada di sekitar pusat semburan. Akibatnya, semua lumpur yang tersembur ke luar mengarah ke titik tersebut dan membuat pond penuh hingga akhirnya meluber.

Zulkarnain memprediksi, aliran lumpur akan terus menuju ke titik tersebut selama dua sampai tiga hari nanti. Karena itulah, kata dia, tidak ada jalan lain kecuali meninggikan tanggul. "BPLS terus berusaha menutup luberan lumpur. Awalnya dengan sand bag (kantong pasir), sekarang (tadi malam, Red) dicoba peninggian," tuturnya.

Selain mengancam rel kereta api dan Raya Porong, luberan itu juga membahayakan penduduk Desa Siring yang berada di sebelah baratnya. Alumnus Universitas Trisakti Jakarta itu mengatakan, hal itu terjadi jika tanggul tidak bisa ditinggikan.

Hingga tadi malam, BPLS mengerahkan sejumlah alat berat untuk memagari luberan agar tidak menyebar. Truk pengangkut urukan dikerahkan untuk membentengi sekitar luberan dan meninggikan tanggul. Truk pengangkut material sempat kesulitan masuk ke lokasi luberan. Sebab, lalu lintas sangat padat dan merayap karena menjelang akhir pekan. Kereta api yang lewat pun diminta memperlambat lajunya ketika tiba di dekat luberan lumpur.

Sementara itu, pada saat bersamaan, puluhan warga Desa Siring bergerak mendekati luberan lumpur. Mereka menolak jika tanggul ditinggikan. "Tidak apa-apa Siring tenggelam. Toh sekarang juga sudah hancur," kata Mahmud Marjuki, warga Siring.

Warga mendesak BPLS agar segera mempertemukan mereka dengan Gubernur Jatim Soekarwo. Mereka meminta kejelasan nasib sembilan RT di Siring Barat, Jatirejo, dan Mini yang tidak masuk ke peta terdampak.

Mahmud mengatakan, sebelumnya gubernur berjanji segera memberikan kejelasan nasib mereka. Bahkan, beberapa waktu lalu warga diminta untuk mengumpulkan sertifikat. "Tapi, apa lanjutannya? Tidak jelas," ucapnya dengan nada tinggi.

Menurut dia, pemerintah lebih mementingkan proyek daripada warga. Buktinya, jalan raya diperbaiki dan ditinggikan, namun nasib warga tetap terlunta-lunta. Hingga berita ini ditulis, warga masih berkerumun di sekitar pos pantau di titik 21 Jatirerjo. (eko/c1/iro)
sumber:http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=149196

Share artikel ke: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg

Artikel Terkait:

Silahkan Kunjungi Blog Kami Yang Lainnya

Klik Gambar di bawah ini

0 comments

Tulis Komentar Anda Di Bawah Ini